16 February 2009
Milenium Tangkap 10 Kali Lipat

Sudah saatnya nelayan menggunakan jaring nilon multifilamen agar hasil tangkapannya optimal.

Untuk mencapai hasil tangkapan yang lebih baik, nelayan di Cirebon, Indramayu, dan sekitarnya mulai memanfaatkan jaring milenium (fishing net mono-multifilament) yang terbuat dari nylon multifilament twine. Jaring jenis ini menghasilkan tangkapan 10 kali lipat lebih banyak ketimbang jaring biasa.

Demikian diungkapkan Dedi Supriyadi, Kepala Seksi Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan  Cirebon, Jabar. Jaring ini, kata Dedi, merupakan hasil teknologi Korea yang dikembangkan H. Kartisa, seorang nelayan Indramayu. Setelah terbukti efektif, teknologi ini kemudian dikembangkan PT Arteria Daya Mulia (Arida) yang berlokasi Cirebon.

Bukan Modifikasi Trawl

Jaring yang diluncurkan ke pasar pada 2004 ini mendapatkan tanggapan positif dari nelayan di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Menurut Dedi, di samping efektif, jaring milenium juga ramah lingkungan. “Pengoperasian jaring milenium mirip gillnet (jaring insang) yang pasif. Selain itu, jaring ini juga tidak menyapu dasar perairan sehingga selektivitasnya tinggi,” jelasnya.

Masih menurut Dedi, tingginya produktivitas tangkapan ikan jaring milenium lantaran simpulnya yang mengandung fosfor menyala di dalam air.  Hal ini menarik ikan-ikan yang bersifat fototaksis positif terhadap cahaya, seperti tenggiri, tongkol, maupun ikan-ikan dasar (demersal) lainnya. Ia menambahkan, “Jaring milenium  sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jadi, bukan merupakan modifikasi jaring trawl  sehingga layak untuk dikembangkan.”

Kelebihan lainnya, setiap utas jaring terdiri dari 8—10 helaian nilon yang dapat mengembang di dalam air sehingga membuat ikan yang terperangkap akan terpilin dan tidak bisa lolos lagi. Di sisi lain, Irawan Mulia Putra, Direktur PT Arteria Daya Mulia (Arida), produsen jaring ini mengakui, harga jaring milenium lebih mahal dibandingkan jaring biasa. Namun, harga tersebut sesuai dengan perolehan yang didapat nelayan karena hasil tangkapannya yang berlipat ganda.

Sebagai perbandingan, harga sehelai jaring polietilen (PE) biasa sekitar Rp80.000 Sementara jaring milenium dengan ukuran yang sama dijual seharga Rp800 ribu. Tapi  jangan salah, jaring biasa hanya sanggup bertahan 6—12 bulan, sedangkan jaring baru ini bisa digunakan selama dua-tiga tahun.

Salah satu indikator baiknya respon nelayan terhadap jaring jenis ini adalah tidak adanya stok di gudang karena begitu ada barang langsung dibeli. Sehingga, “Kami sudah tidak bisa stok jaring lagi sekarang. Kalau ada permintaan jaring, harus antre dulu, biasanya satu sampai dua bulan,” katanya.

Mampu Ekspor Jaring

Selain jaring milenium, PT Arida yang berdiri sejak 1984 juga memproduksi berbagai jenis nilon polimer, yakni nilon multifilament yarn, nilon multifilament twin, nilon monofilament yarn, longliner, polyethylene twine, fishing net multifilament, fishing net monofilament, dan fishing net polyethylene. Menurut Irawan, produk jaringnya, 40% membidik pasar mancanegara, dan sisanya untuk kebutuhan dalam negeri.

Perusahaan yang berlokasi di Jalan Dukuh Duwur No. 14 P, Pagambiran,  Cirebon, ini telah mengekspor produk jaringnya, terutama ke AS, Uni Eropa, Rusia, dan negara-negara Amerika Selatan. Perusahaan dengan jumlah karyawan 2.600 orang ini memproduksi jaring sebanyak 400 ton per bulan atau 4.800 ton per tahun, di antaranya diekspor.  Tahun silam, Arida mengekspor rata-rata 160 ton jaring per bulan dengan nilai sekitar Rp20 miliar.

Yan Suhendar, Enny Purbani T.

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE