11 October 2010
Wiwin Winarsih, Pembelajar Cepat yang Rendah Hati

Tidak semua orang bisa menjadi fast learner, cepat belajar tentang sesuatu dan segera menguasai seluk-beluknya. Kemampuan inilah yang justru melekat pada sosok perempuan satu ini.

Sewaktu diminta mengelola satu proyek SyAqua - perusahaan riset dan produsen benur serta induk udang Vanname- yang akan dibuka di Jawa Timur, dia hanya punya waktu satu bulan untuk memutuskan apakah dirinya mampu mengerjakannya. Persoalannya, budidaya udang sama sekali berbeda dengan latar belakang pendidikannya. Apalagi dengan pekerjaannya di bidang Food & Agriculture pada BritCham  saat itu.

“Tak ada waktu berpikir. Selama satu bulan saya belajar segala hal tentang udang.” ujar Wiwin, sapaan akrabnya. Meskipun hanya satu bulan mempelajari udang, akhirnya dia bergabung dengan SyAqua.

 “Mungkin ini karena saya terkena kutukan udang,” kelakar Wiwin tentang kemampuannya yang sangat cepat mempelajari udang. Namun, dia mengaku masih perlu belajar banyak mengenai komoditas satu ini. Country Coordinator PT SyAqua Indonesia ini merasa sanggup terus belajar karena meyakini kemampuannya berkomunikasi dengan sesama. “Saya selalu menjalin hubungan dengan semua pihak,” katanya sembari menambahkan, “Itu ilmu saya. Saya bukan orang yang malu mempelajari ilmu baru.”

Tak segan mempelajari ilmu baru itu pula agaknya yang beberapa tahun lalu membuat perempuan kelahiran Tulungagung, Jatim, 30 Juni 1975, ini sempat dikagumi para karyawan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pasalnya, saat dia bekerja di salah satu perusahaan mitra PLN, hanya dalam dua bulan sudah menguasai ilmu kelistrikan. “Orang-orang di sana bilang, ‘Wah mbak Win kurang ajar’,” kenangnya, “Kami belajar kelistrikan lima tahun, belum nyambung juga. Tapi mbak Win cuma dua bulan.”

Toh, Wiwin tetap rendah hati. Masalahnya, kata pasangan hidup David Knight, ketika itu dia harus belajar cepat. “Soalnya, kalau tidak bisa, saya tak dibayar,” tukasnya. Jadi, situasilah yang memaksa. “Tapi, dengan sendirinya jadi kreatif,” ujar putri ketiga dari empat bersaudara buah pernikahan ayahnya, Idris, dan ibunya, Painem, ini.

Pribadi Tangguh

Bagi Wiwin, ibunya yang asli Madiun, Jatim, itu banyak membentuk kepribadiannya. Padahal, ibunya yang kelahiran 1948 ini tak bisa baca-tulis akibat masuknya penjajah Jepang. “Beliau perempuan hebat yang mampu menjadikan anak-anaknya tangguh,” ucapnya. 

Perjalanan karier Wiwin memang membutuhkan ketangguhan mental tersendiri. Sempat bekerja sebagai sekretaris seusai studi di Interstudi, dia lantas berkelana dari satu perusahaan multinasional  ke perusahaan multinasional lainnya.

Dia, misalnya, pernah bekerja di bawah pimpinan bos asal Austria. Lantas, dipimpin wanita berkebangsaan Inggris. Lalu, juga pernah dikomandoi orang Australia dan Prancis.

“Saya mendapat banyak ilmu dari bos wanita asal Inggris yang perfeksionis, yang lady banget,” katanya. “Tapi, gaya bos asal Austria yang bicaranya blak-blakan juga mempengaruhi pembawaan saya.” Dari pengalamannya itu, kini Wiwin bisa menyimpulkan semua manusia, apapun ras atau bahasanya, pada dasarnya sama, yang membedakan hanya sikap dan isi kepalanya.

Pentingnya Riset

Bekerja di SyAqua yang sangat menekankan riset juga membuat Wiwin bisa memahami kelemahan budidaya udang negeri ini.  “Sudah cukup bagus, tapi risetnya belum sempurna,” komentarnya.

Dia mengungkapkan, untuk meluncurkan satu jenis benur atau indukan unggul, perusahaan multinasional membutuhkan riset lama, bisa puluhan tahun. “Saat pertama meluncurkan produknya, SyAqua telah riset 20 tahun,” ungkapnya.

Dari pengalaman di lapangan, dia juga bisa mengenali karakter petambak yang cenderung melihat budidaya udang sebatas pada kualitas benur dan pakan.  Padahal, masih ada soal manajemen. “Semua penyakit dapat dilawan dengan manajemen yang bagus. Jadi, sukses di budidaya udang bukan hanya soal benur dan pakan bagus,” simpulnya.

Maju Bersama

Terkait perkembangan udang di Indonesia, masih ada wabah Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV), lazim disebut myo.  “Untuk meng-counter myo ya harus riset di Indonesia. Kami sudah merintis, seperti di Anyer untuk benur,” ujarnya.

SyAqua pun kini menjajaki kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk bisa meredam myo. “SyAqua punya teknologi, fasilitas ada di KKP,” katanya. “Ini bukan buat SyAqua, tapi untuk semua petani.”

Bekerja keras menemukan resep jitu menghalau myo memang jadi perhatian utama Wiwin saat ini. Untuk itu, tak segan-segan dia membuka pintu kerjasama dengan berbagai pihak. Memang, satu hal yang melandasi kerja keras Wiwin adalah filosofi hidupnya, yaitu keinginan maju bersama-sama. Jika menemui suatu masalah, perempuan ini selalu ingin persoalan itu dibahas bersama-sama dengan semua pihak berkepentingan. “Jangan saling menjatuhkan,” ujar menuntaskan perbincangan panjang dengan AGRINA.

Syaiful Hakim, Peni SP, Syatrya Utama, Liana Gunawati

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE