11 October 2010
Tekad Berswasembada Daging dari ISPI

Peran penting sarjana peternakan dalam swasembada daging mencuat pada Kongres ISPI di Makassar, 4-6 Oktober lalu.

Seiring perkembangan zaman, tantangan dunia peternakan pun meningkat.  Terlebih, industri peternakan pun kini terintegrasi dengan komoditas lain, baik pangan, pakan, maupun energi.

Sejumlah tantangan itu meliputi keterjangkauan produk peternakan bagi masyarakat, kemandirian peternakan domestik, ketersediaan produk hasil ternak dalam negeri. “Juga tingginya harga komoditas peternakan akibat naiknya input produksi dan adanya perdagangan bebas yang berpengaruh langsung bagi industri peternakan,” tutur Yudi Guntara Noor pada Kongres Nasional X Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) di Makassar, Sulsel.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang 240 juta jiwa, Yudi berharap kebutuhan daging domestik bisa dipenuhi pelaku dalam negeri. “Di sinilah peran penting sarjana peternakan untuk menguatkan industri peternakan domestik jadi tuan rumah di negeri sendiri,” cetus Yudi yang dalam kongres ini terpilih kembali sebagai Ketua Umum PB ISPI periode 2010-2014 itu.

Saat ini, menurut Yudi, pelaku usaha pembibitan sapi juga masih kurang merespons berbagai masalah yang muncul. Sebut saja, jumlah bibit yang belum terpenuhi, kualitas bibit yang rendah, serta harga yang tak terjangkau. Ini terlihat dari makin berkurangnya jumlah sapi betina produktif. “Rendahnya kepemilikan bibit juga membuat sulit upaya pembinaan, pengumpulan, serta distribusi dalam jumlah yang sesuai kebutuhan dan kelembagaan,” lanjut alumnus Fakultas Peternakan Unpad, Bandung tersebut.

Salah satu upaya ISPI mencari solusi atas masalah ini dengan menggelar seminar “Membangun Perbibitan Sapi Potong yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan” dalam rangkaian kongres. Mengawali rangkaian kongres yang dihadiri 26 pengurus cabang dari 34 cabang ISPI di seluruh Indonesia ini, digelar acara kampanye gizi di Kampung Kera-kera, Kelurahan Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar.

Program Sejuta Sapi 

Menurut Ketua DPRD Sulsel Moh. Roem, yang juga berbicara pada kongres ini, ada berbagai cara untuk meningkatkan populasi sapi di Indonesia. Misalnya, melalui program sejuta sapi pada 2013. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya populasi sapi sebesar 7% pada 2009 dibanding tahun sebelumnya. “Populasi sapi di Sulsel pada 2009 sebanyak 769.300 ekor,” urai Moh. Roem.

Dijelaskannya pula, hampir di setiap daerah di Sulsel terdapat peternak sapi, baik  perah maupun potong. Namun, populasi sapi terbesar ada di daerah Bone, yang wilayahnya paling luas sehingga sangat cocok untuk budidaya sapi. Sebagian besar sapi yang dipelihara adalah jenis sapi bali.

Sementara itu, menurut kacamata Gubernur Sulsel Yassin Limpo, yang juga berbicara pada kongres ini, sebenarnya Indonesia tak perlu mengimpor sapi. "Barangkali yang perlu diimpor adalah bibit sapi untuk awal pengembangan," katanya.

Untuk mewujudkan hal itu, kata Gubernur, terlebih dulu harus dihilangkan berbagai penghambat baik di birokrasi, sistem insentif, maupun sistem pemasarannya. Guna menyukseskan program sejuta sapi, misalnya, Yasin pun menggandeng TNI untuk mengawasi ternak yang dipelihara lima kepala keluarga supaya tidak dipotong sebelum waktunya. Dunia peternakan di Sulsel memang memberikan kontribusi nyata pada pertumbuhan ekonomi daerah ini yang tercatat 9,14%.

Yuwono Ibnu Nugroho

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE