06 December 2010
Tambah Biaya Tapi Lebih Untung

Pencegahan serangan hama penggerek batang harus dilakukan sedini mungkin. Bahkan Khaerudin Harun mengendalikannya sejak tanaman padi masih di persemaian.

Serangan hama wereng dan penggerek batang (sundep dan beluk) di hampir seluruh sentra padi jalur pantura (pantai utara) Pulau Jawa sempat membuat resah petani. Pencegahan sejak awal harus dilakukan secara tepat. Begitu juga yang dilakukan oleh Khaerudin Harun, Ketua Kelompok Tani Manunggal di Desa Wargabinangun, Kaliwedi, Cirebon, Jabar.

Khaerudin telah menggunakan berbagai insektisida dalam penanggulangan hama bernama ilmiah Scirpophaga innotata ini. Namun setelah menggunakan Regent 0.3 GR, “Hasilnya sangat nyata. Dalam dua hari setelah aplikasi terlihat daun tanaman menjadi lebih hijau,” katanya. Selain itu, Regent 0.3 GR mengandung bahan akif yang lebih ramah lingkungan karena tidak menimbulkan efek mematikan pada hewan sawah yang lain, seperti belut, ikan, kodok, dan keong mas.

Peningkatan Hasil Melebihi Tambahan Biaya

Menurut Khaerudin, biaya produksi untuk satu hektar sawah di daerahnya mencapai Rp4 juta atau setara harga satu ton gabah kering panen (GKP). Harga GKP saat ini sekitar Rp4.000 per kg. Secara garis besar, Khaerudin membagi dua total biaya tersebut. Sekitar Rp2 juta digunakan untuk pembelian pupuk, herbisida, fungisida, dan insektisida. Dan Rp2 juta lagi untuk biaya pengolahan tanah dan biaya tenaga kerja dari pembibitan hingga panen.

Sementara itu, tambah Khaerudin, biaya yang dikeluarkannya untuk insektisida, fungisida, herbisida, dan pupuk ada kemungkinan sama dengan petani lain. Yang membedakan adalah tambahan biaya pembelian Regent 0.3 GR sebanyak 26 kg yang dikeluarkannya. “Jika petani lain hanya menggunakan sesuai anjuran sebanyak 10 kg Regent 0.3 GR, saya menggunakan 12 kg per ha. Bahkan saya menambah dua kali aplikasi di persemaian,” cerita mantan aparat desa ini.

Dalam anjuran aplikasi penggunaan Regent 0.3 GR pada budidaya padi, ada tiga tahapan, yaitu pada masa persemaian, vegetatif, dan generatif (bila terjadi serangan berat). Namun dalam mengaplikasikan di lahan miliknya, Khaerudin memiliki pengalaman tersendiri. Ia menebarkan Regent 0.3 GR sebanyak 1 kg di persemaian saat umur bibit 10 hari, dan diulang kembali pada saat umur 20 hari. Kemudian setelah pindah tanam, aplikasi Regent 0.3 GR dilakukan pada umur sekitar 12—15 hari setelah tanam (HST) dan 40–45 HST, masing-masing sebanyak 12 kg per ha. “Saya melakukan ini semua karena saya tidak mau kehilangan hasil saat panen nanti,” kata bapak yang serius bertani sejak 10 tahun silam.

Intinya, tambah Khaerudin, hanya untuk antisipasi agar tanaman tetap sehat dan kuat hingga panen. “Karena kalau ada serangan dan terlambat mengantisipasinya, maka biayanya akan lebih besar lagi dalam penanggulangannya. Apalagi padi sudah mulai mengisi bulirnya, sehingga, hasil panen bisa sesuai harapan. Kalau bisa lebih dari 8 ton per hektar,” dalihnya.

Tidak mengherankan jika kemudian hasil panen Khaerudin bisa di atas produksi petani lainnya yang hanya mencapai 5,9 ton per ha. “Saya panen mencapai 8 ton per hektar, peningkatan hasilnya melebihi biaya tambahan yang saya keluarkan,” tutur mantan Kepala Urusan Ekonomi dan Pertanian Desa ini. Artinya, tambah dia, masih menguntungkan bagi petani. Karena dengan harga GKP padi varietas Ciherang yang Rp4.000 per kg, dan dengan hasil panen mencapai 8 ton per hektar, maka tambahan biaya pembelian Regent 0.3 GR tidak menjadi masalah baginya.

Tri Mardi Rasa

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE