21 November 2011
LIPUTAN KHUSUS : Paket Pemupukan Berimbang

Banyak tahapan peningkatan produksi padi. Pemupukan hanya salah satunya.

Target produksi beras nasional surplus 10 juta ton tiga tahun ke depan terasa muluk. Saat ini saja pemerintah baru mencapai kesepakatan impor 250 ribu ton beras dari India, yang akan masuk secara bertahap Desember 2011. Tantangan yang menghadang pun tidak ringan. Sebut saja peningkatan jumlah penduduk hingga tingginya alih fungsi lahan pertanian menjadi nonpertanian.

Menurut Ir. Rahman Pinem, MM, Direktur Budidaya Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan, produksi padi nasional masih sangat mungkin ditingkatkan. “Kita tidak usah ragu. Yang penting, benihnya harus bagus, pupuknya optimal, airnya terjaga tersedia, pola tanamnya pun kita atur dengan baik sesuai kondisi iklim,” tegasnya optimis.

Dia menekankan, peningkatan produksi harus didukung oleh pelaksanaan lapangan yang baik. Salah satunya melalui Pengelolaan sumberdaya dan Tanaman secara Terpadu (PTT) berupa penggunaan benih unggul, penerapan teknik budidaya, pemupukan berimbang, penerapan kalender tanam, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), dan panen tepat waktu. Sosialisasi PTT dilakukan melalui Sekolah Lapangan (SL). “Melalui SL ini petugas melatih kelompok tani di lapangan. Nanti petani-petani itu yang melatih anggotanya secara berkelompok,” jelas Rahman. SL-PTT dikawal dan didampingi oleh penyuluh, peneliti, pengamat OPT, pengawas benih, dan petugas lapangan lainnya. Pada 2012 mendatang direncanakan ada 3,5 juta ha luas SL-PTT di seluruh Indonesia.

Anakan Produktif

Salah satu fokus kegiatan SL-PTT yang berpengaruh bagi peningkatan produksi adalah pemupukan berimbang. Menurut Sriyono Hadi, “Pemupukan harus memperhatikan kesuburan tanah dan bahan organik yang tersedia sehingga tanaman lebih tahan terhadap gangguan luar, baik iklim maupun hama penyakit.”

Marketing Intelligent CV Saprotan Utama itu menambahkan, pemupukan berimbang disertai pengamatan terhadap keasaman tanah, kesuburan tanah, bahan organik, dan penyerapan unsur hara tanaman sehingga pupuk dapat diberikan secara efektif dan efisien. Contohnya, pemanfaatan Fertibio sebagai pupuk dasar dalam peremajaan tanah. “Aplikasi sebelum tanam dengan dosis 300-500 kg per ha. Tanah akan menjadi gembur sehingga akar dapat menyerap unsur hara secara optimal,” paparnya. Dia merekomendasikan penggunaan pupuk lengkap Fertiphos 150-200 kg per ha bersamaan aplikasi urea pada 10-15 HST untuk mengoptimalkan penyerapan fosfat pada tanaman. Bersamaan dengan itu dapat diaplikasikan KNO3 Merah yang merupakan pupuk N dalam bentuk nitrat sehingga cepat diserap tanaman.

Saat fase vegetatif, sekitar 20-30 HST, diaplikasikan pupuk Fertila Padi 1 dengan dosis 2 kg per ha melalui semprotan yang bertujuan memaksimalkan anakan produktif agar malai muncul dengan sempurna. Ketika memasuki fase generatif umur 40, 50, dan 60 HST pupuk Fertila 2 diberikan untuk merangsang malai tumbuh dengan sempurna, mengurangi bulir hampa, butiran lebih bernas, mencegah kerontokan, dan membantu ketahanan tanaman terhadap cendawan dan bakteri.

Terakhir, pupuk KNO3 Putih diaplikasikan pada umur 35 HST supaya anakan produktif menghasilkan gabah secara maksimal, sempurna, dan seragam. Aplikasi di beberapa daerah menunjukkan peningkatan produksi antara 15-38 persen dengan rendemen beras lebih tinggi 2-5 kg per 100 kg gabah kering giling dibandingkan paket pemupukan biasa.

Renda Diennazola

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE