09 January 2012
Jalur Cepat Mengerek Produksi

Dengan penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama penyakit, dan pengurangan kehilangan hasil, surplus 10 juta ton beras bukan impian.

Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan empat strategi pokok untuk menggapai surplus 10 juta ton beras, yaitu peningkatan produktivitas, perluasan areal dan pengelolaan lahan, penurunan konsumsi beras, serta penyempurnaan manajemen. Di antara keempat strategi itu, peningkatan produktivitaslah yang relatif lebih mudah diupayakan.

Untuk mengerek produktivitas, dimulai dari perakitan dan diseminasi teknologi tepat guna spesifik lokasi, penyebarluasan penerapan teknologi tepat guna spesifik lokasi, perlindungan tanaman terhadap organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan dampak perubahan iklim, peningkatan rendemen penggilingan padi menjadi beras, serta pendampingan dan penyuluhan.

Menerjemahkan upaya itu di lapangan, para penyedia sarana produksi dan pascapanen menawarkan solusi sesuai bisnis utama mereka. Dalam seminar padi nasional 14 Desember 2011, tawaran solusi datang dari Pinekantoro, Marketing Seed Manager PT Saprotan Benih Utama, Murdiyanto, Marketing Manager BASF Indonesia, dan WN Soebardjo, Marketing Manager Grain Processing PT Rutan.

Benih dan Pupuk

Bergerak dalam tahapan budidaya bagian hulu, PT Saprotan Benih Utama (SBU) dari Semarang, Jateng, memaparkan dua solusi, yaitu pemanfaatan benih hibrida unggul bermutu tinggi dan paket pupuk saprotan utama.

Benih hibrida selama ini telanjur dicap rentan wereng cokelat dan penyakit hawar daun (HDB). Karena itu, dengan memanfaatkan hibrida hasil rakitan pemulia dari Balai Besar Tanaman Penelitian Padi (BB Padi), Sukamandi, yaitu Hipa 12 dan Hipa 14, perusahaan ini ingin mendorong kembali penggunaan benih hibrida melalui bantuan langsung benih dari Kementan.

“Hibrida Hipa 12 SBU (Samiaji-12), dan Hipa 14 SBU (Samiaji-14) ini padi hibrida pertama yang induknya dari Indonesia sehingga diharapkan lebih adaptif,” beber Pinekantoro. Embel-embel SBU disematkan karena pihaknya juga terlibat dalam pengembangan varietas ini dari awal hingga pelepasan.

Selain itu, “Kedua varietas hibrida ini potensi produksinya tinggi dan cukup tahan hawar daun bakteri atau kresek,” lanjut Pinekantoro. Penyakit yang disebabkan bakteri Xanthomonas oryzae pv.oryzae memang menjadi ancaman cukup serius bagi padi hibrida.

Samiaji-12 dan Samiaji-14 ini membentuk anakan banyak, malai lebat, dan rasa nasinya pulen. Samiaji-12 berpotensi menghasilkan 10,5 ton gabah kering panen per ha, dapat dipanen pada umur 84 hari setelah tanam (HST), dan tahan wereng cokelat biotipe 2 dan 3, serta tahan HDB patotipe III. Sedangkan Samiaji-14 berpotensi hasil lebih tinggi, 12 ton per ha, umur panen 90 HST, dan tahan wereng cokelat biotipe 2, serta HDB patotipe III.

Menurut bapak yang pernah membangun karir di PT BISI International dan PT Cargill Indonesia ini, paket Saprotan Utama menggunakan pupuk Fertiphos dan pupuk Fertila Padi. Paket untuk satu hektar sebagai berikut: Fertiphos sebanyak 200 kg, Fertila  Padi-1 sebanyak 4 kg, Fertila Padi-2 sebanyak 6 kg, 250 kg Urea, 100 kg NPK Pelangi, Jordan 5 GR sebanyak 5 kg, Avidor 25 WP dan Kempo 400 SL masing-masing sebanyak satu liter. “Urea dan NPK pelangi masih dipakai karena petani harus memanfaatkan pupuk bersubsidi, biar bisa menekan biaya usaha tani,” papar Pine.

Hasil percobaan tanam dan praktik di tingkat petani di daerah-daerah Jateng, Jatim, dan Nusa Tenggara Barat (Lombok Barat) mencapai kenaikan produktivitas 950 kg hingga 2 ton per hektar (ha). “Harapan kami pemerintah bisa tersentuh dan bisa bikin satu pilot proyek. Apakah benar yang sudah dilakukan Saprotan Utama ini?” katanya lagi.

Fungisida Sistemik

Pada fase budidaya, PT BASF Indonesia di Jakarta menawarkan dukungan melalui produk Opus 75EC. “Teknologi Opus 75EC pada dasarnya merupakan fungisida kimia yang berguna mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) padi, dan bisa mengendalikan virus dan bakteri lain. Opus memiliki bahan aktif epoksikonazol 75 gram per liter yang bersifat protektif dan kuratif,” papar Murdiyanto, Marketing Manager BASF Indonesia.

Cara penerapan Opus 75 EC tidaklah sulit. Selama masa tanam, Opus 75 EC hanya diaplikasikan dua kali. Aplikasi pertama pada saat padi mengalami masa bunting (45-50 HST) dengan dosis 0,25 liter per ha. Sedangkan aplikasi kedua saat padi 50 persen berbunga atau umur  60-65 HST dengan dosis yang sama, yaitu 0,25 liter per ha.

Opus 75 EC efektif mengendalikan penyakit utama padi, seperti dirty panicle (gabah kotor), Rhizoctonia sp. (busuk pelepah), Cercospora sp. (bercak daun bergaris), Helminthosporium sp. (busuk batang). Pemanfaatan Opus juga membuat beras utuh di penggilingan jadi lebih banyak, produksi rata-rata meningkat 15-20 persen dibandingkan tanpa perlakuan.

Pria kelahiran Solo, 13 Oktober 1970, ini membeberkan, “Berdasarkan hasil percobaan dari berbagai sentra penanaman padi di Indonesia, penerapan teknologi OPUS 75EC dapat memberikan tambahan kenaikan hasil sebesar 947,5  kg (per ha). Jika dikonversikan ke total areal padi di Indonesia, akan memberikan kenaikan tambahan produksi sebesar 12,8 juta ha, bila dikalikan dengan 947,5 kg, maka akan menghasilkan 12,13 juta ton gabah kering simpan.”

Opus hanyalah satu komponen untuk kesuksesan budidaya. “Di dalam keseharian kami di lapangan, BASF sebagai perusahaan agrichemical tidak serta merta selalu ngomong pestisida, tapi kita berkewajiban juga bagaimana (usaha) petani bisa sustain (berkesinambungan),” tegas Murdiyanto.

Dalam hal penggunaan benih, lanjut dia, pihak BASF menyarankan,  memilih benih unggul dan bersertifikat. Kedua, persiapan lahan juga perlu dilakukan dengan pengolahan lahan yang baik. Lalu ketiga, penggunaan jarak tanam yang tepat karena beberapa daerah masih belum menerapkan jalur sesuai yang kita harapkan.

Keempat, pemupukan yang berimbang itu juga penting sekali. Lantas kelima, pengairan yang cukup. “Kemudian pengendalian OPT, salah satunya gulma, jadi gulma itu merupakan pesaing di tanaman padi, yang selama ini petani mungkin masih belum meanggap sebagai sesuatu hal yang merugikan. Karena gulma sendiri di lapangan juga memakan pupuk, juga menggunakan iklim mikro, yaitu berupa penyerapan sinar matahari maupun oksigen di dalamnya. Dan yang terpenting juga pengendalian hama dan penyakit itu merupakan salah satu faktor pembatas. Selanjutnya panen dan pascapanen, dan terakhir barulah penerapan teknologi Opus 75 EC.

Menekan Kehilangan Hasil

PT Rutan yang berbasis di Surabaya, Jatim, memberikan dukungan peningkatan produktivitas berupa mesin-mesin untuk mengurangi kehilangan panen dan mencapai kualitas premium. “Kami berpacu meningkatkan produktivitas, baik dari pencegahan hama atau stimulus yang lain, tapi kalau sudah masuk ke lepas panen, boleh saya katakan masih terabaikan,” kata WN Soebardjo, Marketing Manager Grain Processing  PT Rutan.

Mengutip survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2007, angka susut hasil padi mencapai 10,82 persen. Sedangkan, Kementan mencatat hingga saat ini angka susut hasil sudah mencapai 13 persen. Untuk mengatasi kehilangan panen dapat menggunakan Paddy Reaper atau Combine Harvester (mesin panen), Power Thresher (mesin penyosoh), dan  pengeringan gabah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Paddy Reaper ternyata mampu mengamankan produksi panen 6-7 kuintal per hektar. Karena secara mekanis dia memotong dan mengantarkan padi ke arah samping dan relatif hati-hati bisa mengantarkan padi ke arah pengolahan selanjutnya,” ungkap Soebardjo.

Bardjo, demikian sapaannya, menambahkan, realita lapangan yang sampai kini belum teratasi adalah masalah rendahnya rendemen giling. Karena itu, untuk meningkatkan rendemen giling nasional, mesin produksi mereka dapat memproses gabah menjadi beras dengan kadar air yang dipersyaratkan, yaitu sebesar 14 persen.

Saat memproses gabah menjadi beras, dia sarankan menggunakan Auto Husker dikonfigurasi dengan mesin pemutih. “Gunakan auto husker sehingga kerjanya elastis, fleksibel, begitu menggunakan gabah gemuk, dia ngikutin,” ungkap Soebardjo. Bila tetap menggunakan alat yang lama, kemungkinan gabah hancur akan lebih besar. Selain itu, rendemen giling juga dapat ditingkatkan dengan memproses gabah menjadi beras dengan cara multifase.

Bila semua perlakuan tersebut diterapkan, upaya untuk memenuhi tuntutan kualitas beras yang makin meningkat dari hari ke hari dapat terpenuhi. Tututan konsumen dewasa ini lebih tertuju kepada mutu visual bukan kepada rasa. “Jadi, kalau tampak kilat, mutunya seragam, tidak patah-patah, itu dikategorikan bagus dan di lapangan dikategorikan premium,” ungkap Soebardjo.

Saat kita tengah asyik makan, dan tiba-tiba menemukan batu di nasi, tentu bukan merupakan hal yang menyenangkan. Dan sedihnya kasus batu pada makanan ini masih kerap terjadi. Untuk mengatasi hal itu, PT Rutan telah membuat alat yang disebut De-Stoner. Dengan aplikasi De-Stoner pada beras, diharapkan ke depannya nanti kita tidak akan terganggu lagi oleh keberadaan batu pada makanan kita.

Inovasi PT Rutan untuk memenuhi tuntutan mutu beras dan usia simpan --supaya tahan lebih lama serta dapat memenuhi selera konsumen-- adalah menciptakan Shining Machine atau Milling dan Rotary Shifter atau Length Grader. Alat ini diciptakan lantaran beras yang memiliki permukaan bening dan bersih bisa mendukung usia simpan. Selain itu, beras menjadi tidak mudah mengalami fermentasi antar-partikel. Sampai saat ini, di negara kita ambient temperatur belum bisa diseragamkan. “Paling tidak bila permukaannya cantik dan bening bisa memperlama penyimpanan,” kata Soebardjo.

Inovasi terakhir PT Rutan adalah mesin color sorter. Mesin ini diciptakan untuk memisahkan beras bening dan beras berwarna (rusak). “Kalau sorter kita untuk rice miller menengah ke atas. Dan selain tuntutannya untuk menengah ke atas, konon sudah memenuhi permintaan ekspor,” ungkap pria yang aktif di PT Rutan sejak 1 Mei 1975 itu.

Sinergi segala lini mulai hulu hingga hilir produksi membuat pencapaian surplus 10 juta ton beras bukan lagi fatamorgana.

Ratna Budi Wulandari

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE