19 March 2012
Seruput Segarnya, Nikmati Labanya

Wanginya menyegarkan, rasanya sedikit pedas, tetapi memberi sensasi hangat di kerongkongan dan tubuh. Nikmat diminum selagi panas, segar diseruput saat dingin.

Selama ini kita mengenal jahe lebih sebagai bumbu masakan dan jamu. Belakangan ini, minuman kemasan sari jahe bermunculan. Yang tengah marak, beredar pula kopi, susu, dan teh berpadu dengan jahe. Cara menjualnya pun beragam, dalam bentuk sachet untuk diracik sendiri, atau disajikan di kafe, warung kopi, hingga pedagang kaki lima.  

Sensasi jahe sungguh memikat rasa. Tak heran jika khalayak mudah menerima produk derivatifnya, seperti kopi jahe, susu jahe, teh jahe, bir pletok, hingga bandrek dan bajigur (minuman khas Jawa Barat). Bahkan, permen jahe dan ting-ting jahe pun ikut meramaikan pasar. 

Efek Hangat

Menurut Dedy S. Muftie, Managing Director PT Diba Sari Buana, produsen ekstrak jahe, teh dan kopi jahe di Bekasi, pada tahun 2000 masyarakat masih menganggap jahe sebagai bumbu. Jahe jarang digunakan untuk minuman, walaupun ada angkringan yang menjual wedang (minuman) jahe. 

“Tahun 2000 itu kita membuat yang namanya kopi jahe. Tadinya ada istilah 3 in 1, kopi, susu, gula. Belum ada jahenya. Kemudian kami buat ramuan ada jahenya. Empat bahan ini kita jadikan satu, eh ternyata enak,” kenang Dedy memulai penuturan tentang bisnisnya. Saat itu minuman jahe produksinya dipasarkan ke daerah pantai utara Jawa. Peminatnya adalah nelayan yang terbius efek hangatnya. Jadilah minuman itu berlabel kopi jahe nelayan. Lantaran terhalang berbagai kendala, penjualannya hanya bertahan sesaat. Setelah itu, muncul generasi baru kopi jahe berlabel jahe 41 yang di kemudian hari dijual lisensinya ke PT Osotspa ABC Indonesia.

Selanjutnya, kebangkitan kopi jahe mulai tampak pada 2006. Setahun kemudian produk kopi jahe makin banyak pengikutnya. “Antara lain ya anget sari, sidomuncul, torabika, kuku bima, ABC,” ceplos lulusan Akuntansi Universitas Padjadjaran, Bandung, Jabar ini.

Irwan Hidayat, Direktur Utama PT Sidomuncul, produsen jamu berbasis di Semarang, Jateng, menambahkan, dalam lima tahun terakhir, kopi jahe marak diperbincangkan. “Sidomuncul sendiri melakukan terobosan itu karena mengantisipasi perubahan tren. Terlebih lagi, penikmat minuman jahe merata secara demografi dan ekonomi. Semua kalangan dari kelas yang paling atas sampai yang C, D, E. Dari Aceh sampai Irian. Yang nggak suka mungkin anak-anak ya, ‘kan pedas,” paparnya kepada AGRINA.

Silvyati K. Putri, Tim Pemasaran PT Konimex Pharmaceutical Laboratories pun mengamati hal ini. “Sejak dua tahun terakhir trennya tampak semakin meningkat, dilihat dari banyaknya pemain di pasar baik itu minuman sari jahe, susu jahe, maupun kopi jahe,” katanya. Menurut Silvyati, tren ini akan meningkat. Salah satu sebabnya adalah kesadaran masyarakat untuk hidup sehat secara alami (back to nature).

Minuman Unggul

Secara khusus, minuman berpadu jahe menawarkan berbagai keunggulan khasiat. “Manfaat jahe sebagai minuman kesehatan memberikan rasa hangat dan nyaman pada tubuh, juga mengatasi beberapa gangguan pencernaan, seperti meredakan gejala masuk angin, mual, dan perut kembung,” papar Silvyati.

Menurut Eddy Permadi, pemilik CV Cihanjuang Inti Teknik (CIT), produsen turbin  di Cimahi, Jabar, yang sejak tahun 2000 membuat bandrek dan bajigur, menilik penuturan penikmat produknya, “Setelah meminum, banyak konsumen menyatakan badan terasa lebih ringan. Dapat pula dijadikan minuman untuk konsumen yang menderita masuk angin.”

Wahyu Widayani, Research & Development Manager PT Sidomuncul menuturkan hal senada. “Khasiat secara umum ‘kan sama (dengan jamu dan permen), cuma kalau di minuman lebih banyak sebagai penghangat, menghilangkan kembung,” tegasnya.

 Perputaran Bisnis

Kopi, teh, dan susu jahe tidak hanya nikmat disruput. Perputaran bisnisnya juga nikmat direguk. Lihat saja minuman bandrek dan bajigur keluaran CIT. “Saat ini bandrek Hanjuang diproduksi sekitar 70 ribu sachet/hari. Harga eceran bandrek kemasan eksklusif di pasaran berkisar Rp6.000 - Rp8.000 per kantong (isi lima bungkus). Sedangkan bandrek kemasan renceng dijual sekitar Rp1.000/sachet,” jelas Eddy.

Sementara ini, sambung Eddy, pemasaran bandrek masih di dalam negeri, terutama Pulau Jawa, melalui pasar modern dan pasar tradisional. Untuk segmen kalangan menengah ke atas disediakan kemasan eksklusif yang dipasarkan melalui minimarket, tempat wisata, dan factory outlet. Kemasan renceng dipasarkan untuk kalangan menengah ke bawah melalui melalui pasar tradisional yang menyebar ke kios-kios kecil.

Bandrek Hanjuang belum diekspor secara resmi. Namun, banyak distributor yang mengirimkan produk ini ke berbagai negara, seperti Malaysia, Swiss, Australia, dan Arab Saudi.

Sementara itu, Sidomuncul memproduksi 30 juta bungkus minuman jahe, seperti kopi jahe, jahe wangi, dan susu telor madu jahe (STMJ) per bulan. Kebutuhan jahenya per bulan mencapai 80 ton jahe segar. Meski baru berumur dua tahun, kopi jahe Sidomuncul sudah merambah ke Hongkong, Singapura, dan Malaysia.  

Tidak mau kalah, PT Dwimitra Semerbak Artamulia, pemilik Semerbak Coffee dan produsen kopi dan susu jahe Jago, di Depok, Jabar, ikut memburu laba. Minuman jahe dijual dalam bentuk kemasan renceng dan gelas plastik (cup). Kemasan renceng dijual ke pasar tradisional, sedangkan kemasan cup bertengger di kedai Semerbak Coffee. Produk kemasan renceng yang baru beredar selama 1,2 tahun ini dijual di Depok dan Bandung (Jabar), Purwokerto dan Klaten (Jateng), Madiun (Jatim). Sedangkan kemasan cup dijual melalui waralaba outlet Semerbak Coffee. “Ada kurang lebih 520 mitra, yang sedang berkembang pesat itu di Kalimantan dan Bali,” ungkap Ach. Fauzi, Supervisor Sales Marketing PT Dwimitra Semerbak Artamulia. Sebanyak 300-400 karton jahe jago (isi 120 sachet/karton) laris terjual. Kebutuhan ekstrak jahenya mencapai 200 kg/bulan.

Sedangkan sang pencetus kopi jahe, PT Diba Sari Buana, memproduksi ekstrak jahe, teh jahe, kopi pekat (dipadu jahe), dan kopi hitam (dipadu jahe). Ia pemasok ekstrak jahe untuk PT Osotspa ABC Indonesia, PT Kino Sentra Industrindo, Crystal Food, dan Anget Sari. Kebutuhan jahenya mencapai 90 ton/bulan, terutama untuk membuat ekstrak jahe. Produksi teh jahe Diba Sari sekitar 2 ton/bulan. “Per bulan 2.000 karton. Kalau satu karton itu Rp75 ribu, jadi omzet ini sekitar Rp150 juta,” aku Deddy yang menjalankan bisnis minuman sachet ini secara iseng. Karena itu pasarnya tidak merata, meliputi Bekasi, Bogor, Cianjur (Jabar), Pamulang (Banten).

Pedagang kaki lima juga ikut menyerap untung. Menurut Iin, penjual susu jahe kaki lima di kawasan Pondok Labu, Jaksel, ia bisa menjual 30-40 gelas susu jahe seharga Rp3.000/gelas. Dengan modal usaha Rp3 juta ia bisa memperoleh keuntungan Rp672 ribu/bulan. 

Gandeng Mitra

Maraknya produk minuman berbahan baku jahe, membuat jahe banyak diburu. Cuaca ekstrem pada 2010 menambah kelangkaan jahe sehingga harganya makin membubung. Puncaknya pada 2011 lalu, harga jahe mencapai Rp35 ribu/kg basah.

Demi mengamankan suplai bahan baku, industri pengolah jahe menggandeng petani mitra sebagai pemasok utama kebutuhan jahe. Meski begitu, para pelaku industri tetap mengandalkan suplai dari beberapa pedagang pengumpul. Misalnya, Sidomuncul yang 70% jahenya dipasok oleh pengumpul.

Menurut Wahyu, jahe yang digunakan untuk meramu minuman jahe skala industri adalah jahe emprit (jahe putih/kuning) segar. Sementara susu jahe yang dijajakan pedagang kaki lima umumnya menggunakan campuran jahe gajah dan jahe merah segar. “Jahe emprit ruasnya kecil. Kandungan minyak atsirinya lebih besar daripada jahe gajah (1,50% - 3,5%) sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Rasa dan aromanya cukup tajam,” Wahyu menjabarkan.

Dedy menambahkan, “Jahe yang bagus itu minimal dipanen satu tahun”. Umur jahe diketahui dari jumlah ruasnya. “Kalau ruasnya 9 ya (umurnya) 9 bulan. Kalau (ruasnya) 12 ya 12 bulan,” imbuh pria kelahiran Cirebon, 4 Oktober 1966 ini. Sebab itu, jahe yang utuh harganya lebih mahal dibandingkan jahe yang patah.

Jahe segar yang diterima dari penyuplai membutuhkan penanganan cepat. Untuk mendapatkan ekstrak jahe, menurut Wahyu, jahe segar disortir, dicuci, kemudian dihancurkan. Setelah itu, jahe dipres, diambil airnya, dan dipekatkan sehingga menjadi ekstrak kental. “Dari ekstrak kental itu, kalau kita ingin membuat minuman jahe wangi, dimasak bersama gula dengan titik didih tertentu sampai mengkristal dan menjadi minuman serbuk,” tambah perempuan cantik berkacamata ini. Kopi jahe pun menjalani proses serupa. Bedanya, setelah mengkristal menjadi serbuk baru ditambahkan kopi dan bahan lain.

Dedy menambahkan, jahe instan (ekstrak) sebaiknya disimpan pada suhu 25-32°C. “Suhu ruang, nggak perlu di kulkas. Yang kering, (tapi) jangan sampai kena sinar matahari langsung. Expired-nya ini sampai satu tahun,” pungkasnya.

Windi Listianingsih, Peni SP, Renda D, Syaiful H, Selo S, Tri MR, Yuwono IN.

 

Analisis Usaha Sederhana Susu Jahe Kaki Lima

Investasi           Rp3.000.000

Gerobak & aksesori tempelan jahe susu

Drigen ukuran 25 liter

Kompor gas & gas elpiji 3 kg

Payung & Ember (2 buah)

Bohlam & kabel 6 m

Modal awal dagang (Rp462.000/minggu)

 

Biaya Pengeluaran per minggu             Rp462.000

Jahe 7 kg @Rp25.000     Rp175.000

Susu satu krat   Rp237.000

Isi ulang gas      Rp17.000

Sabun colek dan lain-lain            Rp50.000

 

Pendapatan Rp90.000 x 7 hari             Rp630.000

Harga jual susu jahe Rp3.000 x 30 gelas Rp90.000

 

Pendapatan per minggu Rp630.000 – Rp462.000                     Rp168.000

Pendapatan sebulan Rp168.000 x 4 minggu                 Rp672.000

 

Sumber: Iin, pedagang susu jahe di Pondok Labu, Jakarta


© 2008 Agrina. Powered by iFORTE