14 May 2012
Integrasi Siap Mendongkrak Produksi

“Dunia menghadapi tantangan signifikan. Populasi manusia terus tumbuh, permintaan produk pertanian meningkat, sedangkan lahan makin langka dan tekanan lingkungan ikut meningkat,” ujar Davor Pisk, Chief Operating Officer Syngenta.

Tercatat 500 juta petani dunia memiliki lahan kurang dari 1 hektar (ha). Hanya 8 juta petani yang lahannya lebih dari 100 ha. Padahal, populasi penduduk dunia diperkirakan mencapai 8 miliar jiwa pada 2030. Dengan demikian, setidaknya rata-rata peningkatan hasil panen tahunan harus meningkat dari 50 kg/ha menjadi 71 kg/ha pada 2030 mendatang untuk menutupi kebutuhan pangan penduduk dunia. 

Tidak hanya itu, petani pun menghadapi masalah yang kian kompleks. “Mereka juga harus mengatasi lingkungan yang rumit, apakah itu masalah keuangan global yang tidak stabil, standar peraturan baru, tantangan perubahan global akibat krisis, dan mencari kualitas produk yang lebih baik dengan harga yang murah,” paparnya pada acara “The Corps Demonstration Days” yang diadakan Syngenta International AG, produsen pestisida dan benih yang berbasis di Swiss.

Integrasi Teknologi dan Inovasi

Menurut Pisk, kebutuhan petani saat ini bukan hanya memperluas pasar, tetapi juga menjadikan skala usahanya yang menjadi kecil lebih produktif dan aktif bergelut di pasar modern. Syngenta berusaha menjawab tantangan-tantangan ini. “Kami membangun teknologi terintegrasi dan solusi agar petani skala kecil lebih produktif dan sukses dalam pertanian di masa mendatang. Meningkatkan produktivitas pertanian dengan memanfaatkan teknologi yang kompleks tetapi mudah digunakan,” jelasnya di hadapan sekitar 550 tamu undangan.

Inovasi dan teknologi pun menjadi kunci di balik strategi peningkatan produktivitas pertanian yang dikembangkan Syngenta. Integrasi teknologi pertanian wajib diterapkan sejak awal pemuliaan benih, perakitan benih --baik hasil pemuliaan konvensional maupun transgenik, perlakuan benih, proteksi tanaman, perlakuan terhadap kebutuhan nutrisi dan air, kebutuhan mesin pertanian, hingga pendampingan. Aplikasinya diperuntukkan bagi 8 komoditas pertanian, yaitu padi, biji-bijian penghasil minyak, tebu, tanaman khusus (kentang, kapas, jeruk, delima, anggur, dan tanaman perkebunan), rumput dan taman, jagung, sayuran, kedelai, dan sereal.

Melalui “The Crop Demonstration Days”, para peserta yang berasal dari kalangan pelaku usaha pertanian, pemerintah, pengguna produk Syngenta, dan media, berkesempatan menyaksikan penerapan aplikasi teknologi terintegrasi. Peserta dibagi menjadi 8 kelompok berdasarkan jenis komoditas pertanian garapan Syngenta untuk mengunjungi stan-stan komoditas tersebut. Selama 12 menit di tiap-tiap stan, peserta memperoleh pemaparan menarik tentang potensi pasar dunia dan sentra produksi komoditas; tantangan alam, teknologi, dan sosial yang dihadapi dalam pengembangan komoditas; solusi teknologi terintegrasi yang diterapkan Syngenta untuk meningkatkan produktivitas; hingga keuntungan bagi petani pengguna teknologi terintegrasi. Tiba-tiba, gong ....! Suara keras pukulan gong pun terdengar menandakan semua kelompok harus berputar ke stan berikutnya.

Penerapan Portofolio

Di stan Rice (padi) misalnya, dipaparkan konsumsi beras rata-rata penduduk Asia sebesar 80 kg/tahun, sedangkan di Amerika hanya 10 kg/tahun. Padi kebanyakan ditanam di Asia dengan produktivitas bervariasi, yaitu 5 ton/ha di Indonesia dan Vietnam, 3 ton/ha di India dan Thailand, 7 ton/ha di Cina.

Dari sebanyak 137 juta ha areal tanam padi di dunia, hanya 50% yang dilengkapi saluran irigasi. Di Asia, khususnya negara berkembang, petani skala kecillah yang menjadi penggerak utama pertanian. Dan bila kita berkaca pada India, biaya tenaga kerja yang cukup tinggi juga menjadi salah satu kendala peningkatan produksi padi.

Di lain pihak, pertumbuhan padi juga menghadapi berbagai tantangan: serangan hama dan penyakit, ketersediaan air tanah, serta pengetahuan dan ketrampilan petani yang terbatas. Menjawab tantangan ini, Andrew McConville, Head Corporate Affairs Asia Pacific, menjelaskan, Syngenta memiliki portofolio produksi mulai dari awal penanaman hingga panen yang harus diterapkan petani untuk meningkatkan produksi padi.

Benih varietas NK 3325 misalnya, bersifat hemat air ditambah diberi perlakuan, Cruiser, yang membantu penyerapan air lebih efisien. Untuk mengatasi gulma, serangga, dan cendawan, petani bisa menggunakan Apiro MX, Virtako, dan Amistar Top. Aplikasi paket teknologi ini meningkatkan hasil panen menjadi US$300/ha seperti dirasakan petani di China.

Sementara di India, Syngenta memperkenalkan teknologi yang dinamakan TegraTM untuk mengatasi mahalnya biaya tenaga kerja. TegraTM menerapkan kombinasi teknologi pembibitan dengan mekanisasi. Bibit ditanam dalam semacam nampan sehingga memungkinkan untuk digulung dan memudahkan dipindah ke mesin penanam benih. Hasilnya, “Kami memperoleh keuntungan lebih 30% hasil panen dengan Tegra. Petani mendapat tambahan keuntungan US$270/ha. Dan ini masih tahap awal pengembangan teknologi. Jadi kami yakin, kami akan bisa melampaui ini sampai 50%,” jelas Pisk di sela-sela acara.

Acara yang berlangsung pada 25-26 April 2012 di Singapore Expo Convention and Exhibition Centre, Singapura, ini menunjukkan kepada khalayak bahwa Syngenta bisa membantu dunia pertanian tumbuh lebih produktif dengan menyoroti kelebihan yang dimiliki. Yaitu, “Kekhasan kami di bidang biologi, kimia, dan berpadu dengan teknologi untuk menyediakan solusi terintegrasi yang unggul, pemahaman kami yang mendalam akan kebutuhan petani, serta pengalaman dan semangat kerja tim yang tinggi,” imbuh Andrew McConville.

Windi Listianingsih

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE