24 December 2012
Agribisnis Tahun Ular Air Bakal Kinclong

Sebagai sistem kegiatan ekonomi yang berbasis sumberdaya hayati (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan), agribisnis terdiri dari enam subsistem. Yaitu, input (bibit dan pakan), produksi primer (usahatani), pengolahan (susu dan sosis), pemasaran (segar dan olahan), jasa penunjang (perbankan), dan lingkungan pemberdaya (kebijakan dan infrastruktur).

Kita sering hanya melihat agribisnis dari segi subsistem produksi primer, yaitu sektor pertanian (tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan), peternakan, perikanan, dan kehutanan, yang total kontribusinya terhadap perekonomian nasional, diukur dari indikator Produk Domestik Bruto (PDB), sekitar 15%. Seolah-olah kontribusi agribisnis itu kecil.

Padahal, agribisnis memandang kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya hayati itu dari hulu ke hilir. Jika kita menggunakan Tabel I-O (Input-Output) Indonesia, kontribusi agribisnis terhadap PDB sangatlah dominan. Berdasarkan Tabel I-O 2003, kontribusi agribisnis terhadap perekonomian nasional sekitar 47% (Dr. Ir. Tungkot Sipayung, 2008).

Dengan demikian, agribisnis sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2013, banyak yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup cerah. Jika kita rata-ratakan proyeksi yang dibuat pemerintah Indonesia, IMF, World Bank, ADB, OECD, The Economist, Faisal Basri (Ekonom), Komite Ekonomi Nasional, dan Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi nasional akan mencapai 6,4%.

Bagaimana prospek agribisnis 2013? Tahun 2013, menurut Muhammad Zamkhani, yang membacakan pidato kunci Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN, dalam “Seminar Agribusiness Outlook 2013”, 5 Desember lalu, merupakan zamannya agribisnis untuk melihat pasar dalam negeri. Potensi pasar domestik produk-produk agribisnis dari bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan cukup besar.

Arief Daryanto, Direktur Manajemen Bisnis IPB Bogor, mencatat ada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan produk-produk agribisnis. Antara lain jumlah penduduk, tingkat urbanisasi, tingkat pendapatan, distribusi pendapatan, kualitas produk, selera, manfaat relatif harga terhadap biaya, revolusi pasar modern, dan kebijakan pemerintah.

Seperti diungkapkan McKinsey Global Institute (MGI), September 2012, dalam The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s potential, tahun lalu kontribusi 53% penduduk urban terhadap PDB mencapai 74%. Jumlah penduduk kelas menengah dengan pendapatan US$3.600/kapita sekitar 45 juta orang dari total penduduk 240 juta. Hal ini menggambarkan betapa besarnya potensi permintaan produk agribisnis pangan.

Apalagi dari sisi permintaan, sekitar 54% pertumbuhan ekonomi Indonesia dihela   konsumsi rumah tangga dan 33% investasi. Karena itulah, menurut Bank Dunia, dalam laporannya, East Asia and Pacific Economic Update, yang dirilis Rabu, 19 Desember 2012, perekonomian negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, di tengah melembeknya perekonomian global tetap kuat karena ditopang permintaan domestik yang sangat kokoh.

Agar potensi pasar domestik ini memberikan manfaat bagi pelaku agribisnis di sini, menurut Zamkhani, diperlukan dua kebijakan. Pertama, kebijakan meningkatkan daya saing produk ekspor. Kedua, kebijakan substitusi impor. Kita tidak bisa menghalangi impor. Kita memberikan peluang impor yang meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Fadel Muhammad mengungkap, dari pengalamannya sebagai Gubernur Gorontalo dan Menteri Kelautan dan Perikanan, terdapat dua mazhab. Pertama, mazhab yang menyatakan pangan harus ada, tidak mempersoalkan dari mana sumbernya. Bisa dari produksi dalam negeri dan bisa juga impor. Kedua, mazhab yang menyatakan, pangan harus ada dan harus dipenuhi dari dalam negeri. “Saya menganut mazhab yang kedua ini. Ini harus (kerja) keras. Dengan (kerja) keras, kita mampu memenuhinya dari dalam negeri. Jika impor terus-menerus, kita tidak akan mampu,” kata Ketua Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) itu.

Bukan berarti mazhab kedua ini mengharamkan impor. Impor tetap diperlukan untuk hal-hal yang kita belum mampu. Misalnya impor indukan dan bibit atau benih. Apalagi dengan impor itu dapat meningkatkan produktivitas. Dengan pendekatan ini, nilai tambah lebih banyak dinikmati pelaku usaha atau konsumen di dalam negeri.

Dari sisi pasokan, menurut Bustanul Arifin, Guru Besar Unila, tahun depan umumnya lebih baik dari 2012. “Pertanian cukup baik. Perkebunan tidak spektakuler, tapi tetap tumbuh. Yang paling baik perikanan, meski anggarannya tidak banyak. Ternyata, yang banyak berpengaruh itu (perikanan) budidaya,” kata Bustanul.

Namun, Bungaran Saragih, pakar agribisnis, berpendapat, tahun 2013 ini kita harap-harap cemas. Harapannya, besarnya peluang pasar domestik. Cemasnya, jika produksi di dalam negeri tidak mampu mengimbangi permintaan domestik. Apakah kita rela negara lain menikmati peluang agribisnis yang bakal kinclong pada Tahun Ular Air ini? Kebijakan yang kondusif sangat diperlukan untuk memacu pertumbuhan produksi di dalam negeri.

Syatrya Utama

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE