15 April 2013
Selangkah Lagi, Revolusi Oranye

Kaya akan ragam buah tropis, tapi Indonesia belum mampu menguasai pasar ekspor buah tropis di dunia.

Bicara pasar ekspor buah tropis, China termasuk yang sangat potensial digarap. Dengan jumlah penduduk menengah ke atas sebanyak 500 juta jiwa, pasar China lebih menjanjikan daripada Eropa atau Amerika. “Jumlah 500 juta (jiwa) itu jauh lebih banyak dari total populasi orang Eropa. Jadi ngapain kita jauh-jauh ke Eropa kalau pasar justru ada di China,” cetus Dr. Ir. Sobir, M.Si., Direktur Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, Bogor.

Setiap tahun Negeri Tirai Bambu tersebut, lanjut Sobir, mengimpor sekitar 3,4 juta ton buah dengan pertumbuhan 53%/tahun. “Ada pisang, longan (lengkeng), durian, buah naga, manggis. Suplai terbesar mereka dari Asean, tapi sayang, share Indonesia kecil sekali. Cuma manggis saja, itu pun hanya 9% dari total impor, 90% dari Thailand, dan 1% dari Malaysia,” paparnya.

Indonesia berada di urutan ke tujuh setelah Vietnam, Filipina, Thailand, Myanmar, Chile, dan Amerika Serikat. Ekspor buah kita  terkendala oleh jumlah, kontinuitas produksi, hingga kualitas. Vietnam menang dari sisi posisinya yang lebih dekat sehingga transportasi lebih mudah. Sementara Filipina dan Thailand unggul lantaran memiliki perkebunan buah yang dikelola dengan baik.

“Filipina itu sebenarnya tidak bagus-bagus amat, tapi di sana ada estate (kebun buah), Del Monte. Jadi yang memenuhi kebutuhan China itu bukan petani tapi perusahaan. Sementara Thailand langsung dari petani. tapi kenapa bisa ekspor? Karena kepemilikan lahannya 5 ha/petani, sementara kita hanya 0,3 ha” urai Dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB ini.

Kebun Buah

Melihat potensi pasar China, Kementerian Negara BUMN bekerja sama dengan IPB mengembangkan kebun buah di lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN). “Yang berpotensi menjadi lokomotif pengembangan buah itu hanya PTPN karena mereka punya lahan. Kira-kira 300-500 ha saja untuk buah-buahan itu sangat efisien. Dari situlah kami mengembangkan ide pengembangan kebun buah yang diberi nama Revolusi Oranye,” ungkap Sobir.

Sobir menegaskan, program yang akan dimulai di PTPN VIII, Jawa Barat, ini tidak mengambil jatah lahan penanaman teh sebagai komoditas utama. “Kita tidak berkeinginan menggantikan kebun teh. Justru teh yang selama ini tidak menghasilkan itulah yang kita isi dengan tanaman buah,” tuturnya.

Komoditas yang fokus pengembangan meliputi manggis, mangga, durian, pisang, pepaya, dan jeruk. Lima jenis pertama untuk memenuhi pasar ekspor, sedangkan jeruk memasok kebutuhan lokal. Di wilayah dataran tinggi, mangga diganti alpukat. Varietasnya dipilih yang sudah punya nama, seperti monthong (durian), raya, puspahiang, wanayasa, marel (manggis), calina dan carisa (pepaya), serta cavendish dan mas (pisang).

Hingga 2017, Sobir menargetkan sekitar 116 ribu ha lahan PTPN di seluruh Indonesia telah mengembangkan kebun buah. Sebagai tahap awal, program ini akan dimulai dengan 4.000 ha lahan penanaman manggis dan durian yang ditumpang sari dengan pisang dan pepaya selama manggis dan durian belum masuk fase produktif.

Kini Revolusi Oranye masuk tahap belajar menanam karena adanya perbedaan cara budidaya antara komoditas perkebunan dan buah. Direncanakan penanaman resmi dimulai pada awal musim hujan atau akhir 2013. “Intinya, program ini akan meningkatkan pendapatan PTPN hingga Rp11,45 triliun, lapangan kerja bagi masyarakat tersedia, impor kita berkurang, ekspor kita juga dapat, bermanfaat pula bagi perbaikan lingkungan,” pungkas Doktor Genetika Molekuler, Okayama University itu.

Renda Diennazola

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE