04 March 2013
Hibridisasi di Pulau Jagung

Hibridisasi di Pulau Jagung

Untuk meningkatkan produktivitas, petani jagung di Madura yang selama ini menanam benih komposit diberi benih hibrida gratis.

 Tahun ini pemerintah menargetkan produksi jagung nasional sebesar 21 juta ton. Untuk meningkatkan produksi, Kementerian Pertanian menggandeng PT DuPont Indonesia, produsen benih jagung hibrida di Jakarta. Menurut George Hadi Santoso, bentuk kerjasama antara kedua pihak adalah memberikan benih jagung hibrida gratis kepada para petani untuk ditanam. ”Kementerian Pertanian mendukung program ini sehingga diharapkan bisa menjadi model yang bisa kita replikasi untuk daerah-daerah lain. Jadi bagaimana caranya petani yang tanam benih komposit bisa menanam benih hibrida,” ungkap Presiden Direktur PT DuPont Indonesia ini.

Pulau Madura di Jawa Timur menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program “hibridisasi” tersebut. Program ini, lanjut George, sebenarnya meliputi 1.300 ha di Madura, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Khusus di Madura, show window, begitu sebutan percontohan pertanaman jagung itu, mencakup 760 ha.  

Supaya petani di Madura beralih menanam benih hibrida, perlu pendekatan dan edukasi. “Pioneer (DuPont) selalu langsung berbicara dengan petani, kita edukasi. Kedua, kita perlu tunjukkan ke mereka bukti. Jadi, kita biasa ada demo plot di setiap desa. Setelah itu berhasil, kita tunjukkan bagaimana prosesnya,” jelas George.  Selain itu pihaknya juga akan mendirikan Learning Center sebagai tempat belajar bagi petani di Desa Larangan, Kec. Pragaan, Pamekasan.

Produktivitas Dua Kali Lipat

Untuk mengetahui perkembangan show window itu, pada 15 Februari 2013 Udhoro Kasih Anggoro (Dirjen Tanaman Pangan), Dr. Tahlim Sudaryanto (Staf Ahli Mentan), Ir. Diah Maulida, MA (Deputi bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan, Kemenko Perekonomian), Wibowo Eko Putro (Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur) berkunjung ke Madura dan melakukan audiensi dengan petani. Selain jajaran pemerintah, hadir pula mewakili pembeli jagung, yaitu Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT), PT iPasar, PT Aneka Usaha Kabupaten Nganjuk, dan PT Bumi Prima Lestari.

Menurut Anggoro, agar target nasional itu bisa tercapai harus ada peningkatan produktivitas yang saat ini rata-rata baru 4,7 ton/ha. “Kalau varietas hibrida bisa menjadi 6 ton/ha bagus. Malah potensinya bisa mencapai 8 ton/ha. Misal Madura ini kita kembangkan, potensinya minimal 1,2 juta ton. Itu dengan produktivitas sekitar 4-5 ton/ha. Kalau nanti (hibrida) ini bisa 8 ton/ha, dua kali lipat ‘kan?” ujarnya sembari menambahkan optimismenya angka 21 juta ton bakal terlampaui.

George pun tak kalah yakin. “Sangat bisa mencapai 21 juta ton. (Penanaman) hibrida baru 40%. Bayangkan saja yang 60% ini bisa ditanami hibrida, itu akan terlampaui, asal petani mau tanam saja,” cetusnya.

Wibowo Eko Putra, menimpali, tambahan produksi di Pulau Madura bisa berasal dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. “Kalau harga minimal jagung Rp2.000/kg, dengan tambahan 1,5 juta ton pipil kering berarti ada uang Rp3 triliun yang ndekem (diam-red) di Madura. Dan itu masih bisa diputar lagi untuk proses produksi, terus begitu karena pola tanam dan memang pulau jagung di sini,” ungkap Wibowo.

DuPont memproduksi benih hibrida bernama Pioneer beragam jenisnya tergantung kondisi geografis tiap daerah. “Madura ini cocoknya P4. Tahan terhadap cuaca dan hasilnya banyak. Kita mengeluarkan benih-benih baru hampir setiap tahun karena selalu harus ditingkatkan kemampuannya supaya petani bisa mendapatkan yang lebih baik,” tutup George.

Indah Retno Palupi (Surabaya)

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE