Hibridisasi
di Pulau Jagung
Untuk meningkatkan
produktivitas, petani jagung di Madura yang selama ini menanam benih komposit
diberi benih hibrida gratis.
Tahun ini pemerintah menargetkan
produksi jagung nasional sebesar 21 juta ton. Untuk meningkatkan produksi,
Kementerian Pertanian menggandeng PT DuPont Indonesia, produsen benih jagung
hibrida di Jakarta. Menurut George Hadi Santoso, bentuk kerjasama antara kedua
pihak adalah memberikan benih jagung hibrida gratis kepada para petani untuk
ditanam. ”Kementerian Pertanian mendukung program ini sehingga diharapkan bisa
menjadi model yang bisa kita replikasi untuk daerah-daerah lain. Jadi bagaimana
caranya petani yang tanam benih komposit bisa menanam benih hibrida,” ungkap
Presiden Direktur PT DuPont Indonesia ini.
Pulau Madura
di Jawa Timur menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program “hibridisasi” tersebut.
Program ini, lanjut George, sebenarnya meliputi 1.300 ha di Madura, Nusa
Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Khusus di Madura, show window,
begitu sebutan percontohan pertanaman jagung itu, mencakup 760 ha.
Supaya petani
di Madura beralih menanam benih hibrida, perlu pendekatan dan edukasi. “Pioneer
(DuPont) selalu langsung berbicara dengan petani, kita edukasi. Kedua, kita
perlu tunjukkan ke mereka bukti. Jadi, kita biasa ada demo plot di setiap desa.
Setelah itu berhasil, kita tunjukkan bagaimana prosesnya,” jelas George. Selain itu pihaknya juga akan mendirikan
Learning Center sebagai tempat belajar bagi petani di Desa Larangan, Kec.
Pragaan, Pamekasan.
Produktivitas
Dua Kali Lipat
Untuk
mengetahui perkembangan show window itu, pada 15 Februari 2013 Udhoro
Kasih Anggoro (Dirjen Tanaman Pangan), Dr. Tahlim Sudaryanto (Staf Ahli Mentan),
Ir. Diah Maulida, MA (Deputi bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan, Kemenko Perekonomian),
Wibowo Eko Putro (Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur) berkunjung ke
Madura dan melakukan audiensi dengan petani. Selain jajaran pemerintah, hadir
pula mewakili pembeli jagung, yaitu Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT),
PT iPasar, PT Aneka Usaha Kabupaten Nganjuk, dan PT Bumi Prima Lestari.
Menurut Anggoro, agar target nasional itu bisa tercapai harus ada peningkatan
produktivitas yang saat ini rata-rata baru 4,7 ton/ha. “Kalau varietas hibrida
bisa menjadi 6 ton/ha bagus. Malah potensinya bisa mencapai 8 ton/ha. Misal
Madura ini kita kembangkan, potensinya minimal 1,2 juta ton. Itu dengan produktivitas
sekitar 4-5 ton/ha. Kalau nanti (hibrida) ini bisa 8 ton/ha, dua kali lipat ‘kan?”
ujarnya sembari menambahkan optimismenya angka 21 juta ton bakal terlampaui.
George pun tak
kalah yakin. “Sangat bisa mencapai 21 juta ton. (Penanaman) hibrida baru 40%. Bayangkan
saja yang 60% ini bisa ditanami hibrida, itu akan terlampaui, asal petani mau
tanam saja,” cetusnya.
Wibowo Eko
Putra, menimpali, tambahan produksi di Pulau Madura bisa berasal dari Bangkalan,
Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. “Kalau harga minimal jagung Rp2.000/kg, dengan
tambahan 1,5 juta ton pipil kering berarti ada uang Rp3 triliun yang ndekem (diam-red) di Madura. Dan itu masih
bisa diputar lagi untuk proses produksi, terus begitu karena pola tanam dan
memang pulau jagung di sini,” ungkap Wibowo.
DuPont
memproduksi benih hibrida bernama Pioneer beragam jenisnya tergantung kondisi
geografis tiap daerah. “Madura ini cocoknya P4. Tahan terhadap cuaca dan
hasilnya banyak. Kita mengeluarkan benih-benih baru hampir setiap tahun karena
selalu harus ditingkatkan kemampuannya supaya petani bisa mendapatkan yang
lebih baik,” tutup George.
Indah
Retno Palupi (Surabaya)