02 March 2009
Membiakkan Cucakrawa

Saat ini beberapa klub burung kicauan di Indonesia mulai merasakan susahnya mencari burung ocehan bakalan yang mempunyai suara berkualitas. Padahal dengan melakukan penangkaran, kesulitan itu akan teratasi. Selain itu burung juga lebih mudah untuk dibentuk suaranya sesuai keinginan pemiliknya.

Berdasarkan survei Burung Indoensia dan The Nielsen, sebanyak 58,5% dari jumlah burung kicauan adalah tangkapan alam. Dan setiap tahun jumlah tersebut akan terus meningkat. Tak pelak lama kelamaan burung yang ada di alam ini bakal terancam keberadaannya.

Pada akhirnya, hobi memelihara burung kicauan ini pun tidak bertahan lama. Pastinya, hal ini tidak diinginkan para penggemar burung kicauan yang memelihara untuk sekadar hobi ataupun disertakan dalam lomba.

Tidak Banyak Penangkar

Salah satu cara agar hobi ini tetap bisa berlanjut, maka penangkaran harus dilakukan, tak terkecuali burung cucakrawa (Pynonotus zeylanicus atau straw-headed bulbul). “Dengan penangkaran, cucakrawa yang ada di alam tidak akan terkuras habis,” kata Safrudin, pecinta dan pembudidaya cucakrawa di bilangan Palmerah, Jakarta Barat.

Hobi beratnya terhadap cucakrawa membuat mantan pegawai PT PLN ini membuka peternakan cucakrawa. Menurutnya, cucakrawa tergolong burung yang keberadaannya di alam tinggal sedikit. Memang tidak banyak yang mau melakukan penangkaran burung-burung untuk lomba karena ada anggapan menangkarkan cucakrawa sulit dan merepotkan. Safrudin membenarkannya. “Memang awalnya sulit, tapi kalau kita selalu belajar, kendala itu tidak akan ada lagi,” tegasnya.

Ternyata usaha yang ditekuni Safrudin tersebut tidak saja memberikan dampak pada penambahan stok cucakrawa juga memberikan nilai ekonomis. “Penangkaran cucakrawa ini sangat menjanjikan untuk menjadi lahan bisnis,” tambahnya. Efek ikutannya memberi peluang usaha kepada pencari jangkrik, penjual pakan, dan penjual sangkarnya.

Memberi Nilai Ekonomis

Sulitnya hobiis mencari cucakrawa di pasaran menginspirasi Safrudin untuk menjadi penyedia cucakrawa bakalan. Burung bakalan lebih banyak dipilih hobiis karena lebih mudah dibentuk suaranya. “Keuntungan lain adalah burung lebih akrab dengan manusia atau tidak liar,” katanya.

Pria setengah baya itu menambahkan, cucakrawa hasil penangkaran akan menghasilkan suara kicauan yang lebih indah. Burung juga lebih mudah dilatih sehingga suaranya bisa disesuaikan dengan keinginan pemiliknya. Bahkan saat disertakan lomba, imbuhnya, burung hasil penangkaran tidak gampang stres menghadapi lingkungan yang baru.

Safrudin memulai belajar untuk menangkarkan burung ini sejak pertengahan 2007 dengan membangun kandang penangkaran di Tapos, Cijeruk, Bogor. Sebanyak 15 kandang yang dibangunnya tidak langsung diisi semua karena untuk mendapatkan sepasang indukan cucakrawa sangat sulit. Kalau ada pun paling banyak dua pasang.

“Jadi secara bertahap saya isi satu persatu kandang tersebut. Setiap bulan satu kandang terisi,” ungkapnya.

Safrudin cukup bersemangat menternakkan cucakrawa. Pasalnya, harga burung yang pada 1978 cuma Rp25.000 per pasang, kini melambung sampai Rp4 juta—Rp5 juta. Sambil mengisi satu per satu kandang penangkarannya, ia juga menjadi penghulu bagi cucakrawa peliharaanya. Semangat mengembangkan cucakrawa semakin menggebu ketika dua telur hasil perjodohannya menetas. “Awalnya saya harus sabar untuk bisa menjodohkan cucakrawa karena butuh waktu sekitar 2—4 bulan hingga satu pasang cucakrawa menghasilkan dua butir telur,” ucapnya.

Saat ini bapak yang menekuni usahanya tiga tahun silam itu mampu menghasilkan 6 pasang anakan per bulan. Menurut dia, perkembangan budidaya cucakrawa cukup pesat dari bulan sekarang ke bulan berikutnya. Pasalnya, jika telur menetas, maka pada umur 5 hari anakan cucakrawa dipisahkan dari induknya atau dipindahkan ke tempat perawatan anakan hingga umur 40 hari.

“Pemisahan ini agar induk bisa kawin dan bertelur kembali tanpa ada beban merawat anaknya,” jelasnya. Alhasil, dia bisa panen anakan sebulan sekali secara kontinu. Dengan permintaan pasar yang tinggi, penangkaran cucakrawa jelas bisa menjadi peluang bisnis pada masa datang. Bahkan tak jarang peminat cucakrawa harus inden untuk memperoleh sepasang anakan umur dua bulan. Tentu saja ini menambah pundi-pundinya karena dia mematok Rp4 juta bagi sepasang piyik tersebut.

Untuk masa-masa mendatang, Safrudin berharap, semua lomba burung kicauan yang diselenggarakan di Indonesia menggunakan burung-burung hasil penangkaran.

Tri Mardi Rasa

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE