26 November 2012
Perelok Rumah dengan “Cinta”

Buahnya menyatu seolah tidak ingin dipisahkan seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta. Uniknya, bentuk buah menyerupai simbol cinta yang terbalik.

Itulah sebabnya tanaman buah asli Sulawesi Selatan (Sulsel) ini disebut buah cinta. Apalagi, oleh penduduk setempat, pemilik nama ilmiah Ochrosia oppositifolia ini kerap dikonsumsi untuk pembangkit stamina. 

Adalah Fitri Farah Syakti dan Andi Marten Panturu, pasangan suami istri pemilik Belantara Nursery, nurseri tanaman hias dan tanaman buah di bilangan Bogor, Jawa Barat, yang menyadari sosok buah cinta semenjak 10 tahun silam di habitat aslinya. “Saya perhatiin kok buahnya lain. Apa memang kelainan? Ternyata, memang semua model buahnya begitu,” ujar Fitri, sang pemberi nama buah cinta, saat disambangi AGRINA beberapa waktu lalu.

Simbol Cinta

Seperti yang diungkap Fitri, bentuk buah cinta memang lain daripada buah kebanyakan. Ukuran buah cinta relatif kecil dengan posisi dua buah yang menyatu di pangkalnya menyerupai simbol cinta (love) terbalik.

Buah itu rimbun memenuhi tangkai dan menyembul di antara dedaunan. Saat masih muda, kulit buah berwarna hijau persis seperti warna daun. Setelah satu bulan berselang, buah akan masak dengan perubahan warna kulit menjadi merah marun yang merona.

Rasa buahnya juga khas. “Enak buahnya. Rasanya kayak perpaduan antara apel sama sawo. Nggak terlalu manis,” ungkap Fitri. Lebih asyik lagi jika kita berhasil mendapatkan buah cinta yang matang di tangkai. “Kalau udah mateng, kita pegang dia langsung lepas,” tambah ibu dua anak itu.

Tanaman ini berbuah tanpa mengenal musim. Buahnya masak secara bergantian. Ketika seluruh buah telah masak, dalam waktu satu hingga dua minggu kuncup bunga yang baru akan muncul kembali. Selain itu, bunga buah cinta juga mengeluarkan aroma wangi ketika menjelang senja. “Aromanya sepintas kayak aroma melati,” kata Fitri.  

Selama ini, di habitat aslinya tanaman langka yang berkembangbiak secara alami itu hanya diketahui menghasilkan buah berwarna merah marun. Namun Fitri memiliki koleksi empat tanaman buah cinta yang bisa menghasilkan buah berwarna kuning. Padahal, awalnya keempat tanaman ini memproduksi buah berwarna merah. Kemungkinan, menurut perempuan kelahiran Bogor, 9 November 1972 itu, buah cinta bermutasi karena faktor perubahan iklim ataupun ketinggian tempat tanam.

Langka

Menurut Andi, buah cinta tergolong tanaman langka yang hanya ditemukan di salah satu tempat di Sulsel. “Kita keluar sedikit dari situ, sudah enggak ada. Langka banget memang,” imbuhnya. Padahal, oleh penduduk setempat buah cinta dibiarkan tumbuh liar dan sering ditebang ketika membuka ladang atau membangun jalan.

Buah cinta tumbuh subur hingga mencapai tinggi 2,5-3 m di lingkungan alam. Sampai sekarang, sambung Andi, perkembangbiakannya hanya bisa dilakukan secara alami tanpa campur tangan manusia. “Perbanyakannya susah sekali. Cangkok nggak bisa, setek nggak bisa, biji juga gagal. Kita lagi coba setek pucuk tapi sistem sungkup. Jadi, di pucuknya yang disetek terus ditutup pakai plastik. Ada juga yang kita coba secara alami ditanam di tanah,” papar lelaki kelahiran Makassar, Sulsel, 10 Maret 1972 ini.

Buah cinta yang diperjualbelikan saat ini pun masih berasal dari pengambilan alam. Karena itu, peredaran buah cinta dibatasi untuk menghindari pengambilan massal yang berbuntut kepunahan. “Kalau kita ambil sesuatu ’kan nggak semuanya, selalu ada yang ditinggal untuk regenerasi,” saran Fitri. Tak pelak harga buah cinta cukup melambung, berkisar Rp250 ribu – Rp2,5 juta per tanaman.

Wajib Matahari

Meski masih sulit diperbanyak, buah cinta tergolong tanaman bandel yang mudah beradaptasi. Buah cinta bisa tumbuh di dataran rendah, menengah, hingga tinggi. Yang penting, kata Fitri, mendapatkan sinar matahari langsung. Sementara, di habitat asal buah cinta tumbuh di daerah pantai.

Daya tahan buah cinta terhadap penyakit juga cukup mumpuni. “Selama kita pelihara 10 tahun lebih, hampir nggak ada penyakitnya,” tambahnya.   

Untuk pemeliharaan di dalam pot, cukup tambahkan sekam dan pupuk kandang. Lalu, media tanam diganti setahun sekali dengan komposisi bahan yang sama. Penyiramannya pun hanya sekitar dua-tiga hari sekali. Terpikat untuk mengoleksi?

Windi Listianingsih, Renda Diennazola

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE