10 December 2012
Meriahnya Nyanyian Kicau Baru

Aneka kicauan bisa ditiru, prosesnya cukup dua minggu. Tak pelak, permintaan pun tak pernah sepi.

Jika para kicaumania ditanya burung apa yang berkicau indah lagi memiliki variasi bunyi? Tentu murai batu jawabannya. Selain suaranya enak didengar, burung asli Indonesia ini juga bisa menirukan kicauan burung lain. “Suara aslinya ada beberapa variasi tapi dia bisa menyerap banyak suara burung lain, pinter,” komentar Eko Wahyu Kawantoro, pemilik Toro Bird Farm, penangkar murai batu di kawasan Kavling DKI, Jakarta Barat.

Banyak pecinta burung tergila-gila mengoleksi murai batu demi memperoleh suara indahnya. Tak ayal, kontes kejuaraan murai batu juga kerap digelar tiap pekan. Eko menambahkan, bila saat lomba, murai mengeluarkan kicauan bukan suara aslinya, maka burung itu mendapat nilai tinggi. Apalagi kalau menyabet juara, pastilah harganya melambung. Hobiis pun rela inden untuk memperoleh keturunannya.

Dimaster

Menurut Eko, murai batu mampu menyerap 7 - 8 suara baru. Namun untuk mengikuti kejuaraan, murai batu cukup dimaster (dimasukkan suara burung lain) dengan 3-4 suara yang sedang tren di kontes kicauan, seperti cililin, tengkek buto, dan belalang. “Sekarang lagi tren suara burung cilillin. Kalau murai batu dilomba menyuarakan itu, kemungkinan dia dapat nominasi besar karena suaranya keras terus menonjol,” papar lulusan Sastra Indonesia Universitas Jember, Jatim, ini.

Cara memaster burung bernama ilmiah Copsychus malabaricus ini cukup mudah. Sejak masih berumur 1-2 bulan, dekatkan dengan burung master pada siang dan malam hari. Eko menambahkan, umur 1-2 bulan sampai molting atau rontok bulu pertama adalah saat paling tepat (umur emas) pemasteran.

Seiring berkembangnya teknologi, kini pemasteran bisa menggunakan cakram disket (CD, compact disk) yang berisi suara burung-burung master. Caranya, mainkan CD di dekat murai batu pada pukul 9 malam sampai subuh selama minimal dua minggu. Pemasteran dilakukan malam hari karena suasana lebih tenang sehingga murai akan fokus menyerap suara. Dua minggu berselang, murai bisa dimaster suara baru dengan langkah yang sama.

Pakan Tambahan

Untuk menghasilkan variasi suara baru. Pemberian pakan, pakan tambahan (extra fooding), dan perawatan juga mempengaruhi suara yang dipamerkan saat lomba. Murai batu diberi pakan voer dan tambahan berupa jangkrik, cacing, ulat hongkong, dan kroto (telur semut). Komposisinya, satu sendok makan voer pada pagi dan sore hari, jangkrik dua kali sehari, kroto sehari sekali, cacing seminggu sekali, dan ulat hongkong sesekali, khususnya sewaktu musim hujan sebagai penghangat tubuh. Ada juga hobiis yang menjatah kelabang sebelum tampil lomba untuk menampilkan kesan galak.

Sesuai atau tidaknya takaran pakan tambahan untuk masing-masing murai akan diketahui saat latihan bersama (latber) atau perlombaan. “Jika dia masih nyakar, nggak bunyi itu nanti dicari lagi setting-annya. Kebanyakan extra fooding bisa galak, maunya adu fisik, over birahi,” terang Eko.

Selain itu, murai harus rutin dijemur sekitar satu jam tiap hari dan diberikan vitamin seminggu sekali serta dibersihkan kandangnya. Sediakan juga tempat mandi baginya. Jika sudah menemukan paket perawatan yang pas, burung akan stabil berkicau saat latber atau lomba. Umumnya melalui 2-3 kali latber hobiis akan menemukan paket yang pas untuk pemberian pakan, pakan tambahan, dan perawatan. 

Permintaan Tinggi

Tubuh murai batu diselimuti bulu yang dominan berwarna hitam. Sedikit bulu berwarna putih menyembul di bagian ekor. Sedangkan bulu di bagian dada hingga perut berwarna oranye. Habitat aslinya meliputi Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Keberadaan murai batu asli Jawa, atau biasa disebut larwo, sudah punah. Walhasil, hobiis cenderung memilih murai batu asal Sumatera atau biasa disebut murai batu medan. Sementara, murai batu asli Kalimantan yang terkenal dengan nama murai borneo kurang diminati hobiis di Pulau Jawa.

Menurut Eko, saat ini minat hobiis memelihara murai batu cukup tinggi. Pelanggannya harus inden sekitar dua bulan untuk mendapat trotolan (bibit umur 2-6 bulan). “Permintaan lagi banyak tapi memang sejak dulu murai memang enggak pernah turun permintaannya,” timpal pria kelahiran Surabaya, 29 Juli 1966 ini.

Hal itu juga tercermin dari harga murai batu yang cenderung stabil di level tinggi. “Sekarang trotolan itu lagi mahal juga. Umur dua bulan saja yang paling murah Rp1,5 juta/ekor untuk yang jantan. Kalau betina umur dua bulan itu umur Rp600 ribu – Rp800 ribu/ekor,” ulasnya. Sedangkan trotolan keturunan induk juara, harganya lebih tinggi, mencapai Rp3 juta/ekor.  

Bahkan, harga murai batu yang menjuarai kontes langsung melambung puluhan hingga ratusan juta rupiah. Murai batu bernama Natalia, sang jawara di kelas paling bergengsi Piala Raja 2012, misalnya, ditawar hingga Rp300 juta tetapi belum dilepas oleh pemiliknya. Fantastis bukan?

Windi Listianingsih

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE