21 January 2013
Nikmatinya Sensasi Memelihara Crayfish

Kalau kebanyakan ikan mengandalkan sirip untuk berenang, penghias akuarium yang satu ini justru tak segan berjalan menggunakan kaki-kakinya.

Badannya bongkok, kaki-kakinya lincah berjalan di dalam air. Sedangkan tangannya dilengkapi capit yang besar dan kuat untuk berpegangan saat berpindah antardahan tanaman air. Apalagi, kulit tubuhnya yang warna-warni menambah semarak akuarium. Lihat saja rerupa warnanya. Ada merah, ungu, oranye, biru, hingga putih, siap menyegarkan pandangan. Siapa dia?

Orang mengenali sosoknya sebagai lobster air tawar atau crayfish. Selain baik dikonsumsi manusia, anggota kelas Crustacea ini juga menggemaskan sebagai penghias akuarium.

Menurut Slamet, pemilik Pondok Air, penjual ikan hias di wilayah Tangerang, Banten, saat ini memelihara lobster air tawar tengah ngetren di kalangan hobiis. ”Sekarang ini kebanyakan orang main yang unik-unik. Nah, ini (lobster) masuk kategori unik,” ulasnya.

Ketika memiliki akuarium baru, hobiis mencari sesuatu yang beda. Lantas, dipilih lobster sebagai penghias akuarium. Salah satunya Kendran Matambas, hobiis di Tangerang. Ia memborong indukan lobster untuk memenuhi koleksi akuarium. ”Lobster gampang dipelihara, unik, warnanya cakep,” ucap Kendran yang sudah dua tahun memelihara lobster hias.

Atraksi Jalan dan Makan

Lobster bisa memberi sensasi dibandingkan memelihara ikan,” ungkap Slamet. Sensasi itu, lanjutnya, akan dirasakan hobiis ketika melihat lobster sedang berjalan dan makan ikan. Meski dianugerahi kaki renang, lobster tak segan berjalan menggunakan kaki jalan. Ia pun bisa berpegangan pada dahan atau tangkai daun menggunakan capitnya saat memanjat tanaman air. Sangat menyenangkan bila atraksi ini sempat tertangkap mata.

Lobster juga lihai menangkap ikan yang diumpankan sebagai makanan. Lobster akan mencabik-cabik ikan menjadi potongan kecil dengan capitnya yang kokoh dan tajam. ”Ketika dia nangkap ikan, dicabik-cabik lalu dimakan, itu bisa lebih sensasi,” jelas penggemar ikan hias ini.

Apalagi varian lobster air tawar cukup banyak. Menurut Slamet, lobster dibedakan berdasarkan bentuk alat kelaminnya, yaitu lobster (alat kelamin berupa titik) dan klarcii (alat kelamin berupa tangkai panjang). Kelompok lobster terdiri dari lobster capit merah (red claw) dan lobster papua, seperti tiger papua, orange papua, blue moon, blue stream, dan blue yabbie. Sedangkan kelompok klarcii meliputi snow white, red marlboro, dan red klarcii.

Lobster red claw berasal dari Australia dengan sekujur tubuh berwarna biru tapi bagian bawah capitnya berwarna merah. Karena warna capit itulah ia diberi nama red claw. Selain cantik menghias akuarium, red claw juga mudah dijumpai di restoran sebagai lobster konsumsi karena ukurannya mencapai 8 inci atau 20,3 cm.

Lobster papua berasal dari perairan Papua. Bermacam-macam pula warnanya, seperti oranye, biru, ungu, cokelat, hingga cokelat kehitaman, dan dengan ukuran mencapai 7 inci. Kelompok klarcii berwarna putih dan merah berukuran maksimal sekitar 4 inci (10,2 cm). Sedangkan lobster hias umumnya dijual dengan ukuran 2 – 4 inci.

 Mudah Dipelihara

Slamet berpendapat, salah satu keunggulan lobster adalah mudah dipelihara. Pakannya berupa pellet atau ikan-ikan kecil yang biasanya untuk umpan seperti ikan mas dan guppy. Jika hobiis hanya memilih pakan pellet pun tak jadi soal, sebab pellet khusus lobster mengandung protein tinggi, sebesar 30%. ”Makanannya kalau pakai pelet itu seperdelapan berat badan per hari, sehari dua kali, pagi sama sore,” saran Slamet.

Lantaran lobster termasuk hewan nokturnal, pemberian pakan dimaksimalkan pada sore hari. Sementara penyajian menu ikan cukup dua minggu sekali sebagai variasi. Jika terlalu sering diberikan ikan, sifat kanibal lobster akan lebih agresif. 

Si crayfish ini juga bisa hidup di dalam air ber pH tinggi. ”Standar untuk ikan hias itu ’kan (pH) 6-6,5 yang paling bagus. Tapi kalau lobster itu 7-7,5 masih bisa hidup,” jelas pria kelahiran Pekalongan, 29 Juni 1965 ini. Ketinggian air cukup dua kali tinggi tubuh lobster atau sebatas bata tenggelam sebagai rumahnya. Jika menggunakan akuarium setinggi 20 cm, cukup diisi air setinggi 6 cm saja. Lobster pun tidak mempermasalahkan warna air yang agak keruh.Selain itu, sirkulasi oksigen tidak wajib ada di kolam budidaya atau akuarium tempat hidup lobster. Pasalnya, hewan bercapit ini sering muncul ke permukaan untuk mengambil udara bebas.

Meski tinggal di dalam akuarium atau kolam, lobster tetap butuh tempat berlindung. ”Bisa dibuat pakai paralon, bambu, atau bata yang bolong untuk perlindungan,” kata Slamet. Tanaman air berdaun keras juga bisa sebagai tempat berlindung, seperti keladi.

Ganti Kulit

Saat mengalami ganti kulit (molting), lobster harus dipisahkan dari koloninya agar tidak diserang oleh sesamanya. Simpan lobster dalam wadah baskom selama dua jam hingga proses ganti kulit selesai. Lobster yang akan ganti kulit ditandai dengan perubahan warna cangkang kulit menjadi buram, lobster cenderung pasif atau diam, dan tubuhnya dalam posisi tidur miring. Molting bisa mengalami gagal jika kekurangan oksigen.

Seringnya pergantian air juga memicu intensitas ganti kulit karena perubahan kadar asam. Pergantian air sebaiknya dilakukan seminggu sekali. ”Kalau masih anakan, ukuran 2 - 3 inci, seminggu sekali ganti air lebih bagus. Tapi, kalau sudah 5 inci molting-nya agak lama. Ibarat orang, kondisi badan sudah normal,” pungkas Slamet.  

Cukup mudah bukan? Yuk, pelihara lobster hias air tawar!  

Windi Listianingsih

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE