12 May 2013
Mengubah Tulang Jadi Uang

Bisnis kreatif dari tulang ternak membuat seni ukir Bali makin kaya. Ini jadi pilihan oleh-oleh baru bagi pelancong.

Keelokan alam dan budayanya menjadikan Pulau Bali sebagai salah satu surga wisata dunia. Kesenian menjadi salah satu daya tarik bagi pelancong, mulai dari seni tari, pahat, ukir, juga lukis. Bagi Anda pecinta, seni ukir dan pahat di media batu dan kayu tentu sudah biasa. Namun, pernahkah Anda menikmati seni dengan media tulang?

Sarjana Membangun Desa (SMD), organisasi yang menyatukan para peternak, terutama sapi potong, kini punya bisnis unik, yaitu ukiran dengan media tulang. Hal ini terlihat pada bazar sekaligus peresmian PT SMD Agribisnis Indonesia  beberapa waktu lalu. Secara khusus, Ir. I Gusti NGR Putra Wibawa, Ketua Asosiasi SMD Bali dan bendaharanya, Agung Suyoga mengungkap kepada AGRINA tentang kegiatan SMD di Pulau Dewata.

Dengan tujuan untuk memanfaatkan limbah tulang sapi dan kerbau, mereka menyulap limbah tersebut menjadi aneka bentuk yang unik dan bernilai jual tinggi. “Selama ini limbah-limbah itu tidak termanfaatkan. Karena ada beberapa teman-teman yang memiliki kemampuan untuk mengolah, kemudian peluang kerajinan ukir tulang kita tangkap,” beber Putra Wibawa.

Berbahan baku limbah, bisnis ini butuh modal tidak besar. Untuk tulang kepala, kata Putra Wibawa, “Paling kita beli Rp60 ribu, ongkos membersihkan Rp50 ribu, ongkos ukir Rp100 ribu itulah harga dasarnya.” Berkat tangan-tangan terampil dari penduduk di Desa Tampak Siring, Gianyar, Bali, salah satunya Agung Suyoga, anggota Kelompok Tani Ternak (KTT) Jajar Padi, semua bagian tulang bisa diubah menjadi uang.

“Ada beberapa bagian yang tidak bisa diukir, tulang-tulang yang besar saja kita ukir. Yang kecil-kecil digunakan untuk liontin, cincin,” lanjut Putra Wibawan yang juga berperan sebagai SMD dari KTT Pala Sari. Selain tulang kepala, umumnya yang mereka ukir adalah tulang belikat, dan tulang paha. “Karena alatnya sudah ada semua, asalkan mata bor bisa tembus, tidak ada kesulitan,” timpal Agung.

Menguntungkan

Harga ukiram tulang sangat bervariasi, tergantung tingkat kerumitan ukiran dan ukuran penampang. Liontin yang terbuat dari tulang dibandrol Rp100 ribu. Sedangkan patung dari tulang paha setinggi 15 cm dipatok Rp500 ribu. Tengkorak yang bermodalkan awal Rp210 ribu bila telah disentuh tangan-tangan kreatif,  bisa mencapai harga Rp1 juta. Harga yang berbeda akan diterapkan kepada pembeli dari luar negeri. “Tergantung pembelinya, kalau ada tamu (luar negeri) bisa Rp2 juta,” jelas Putra Wibawa. Sejauh ini telah banyak turis mancanegara yang membeli ukiran tulang.

Harga tersebut tidaklah mahal mengingat kesulitan dalam pembuatannya. Proses pembuatan ukiran kepala paling cepat bisa dirampungkan dalam waktu satu minggu. Namun, “Bila dapatnya bahan mentah, karena prosesnya lama mulai direbus, terus dikelupas dan sebagainya, maka dua minggu baru bisa jadi,” lanjut Putra Wibawa.

Ingin memiliki ukiran tanduk? Bisa. Tanduk kerbau yang monoton pun bisa diubah jadi hiasan yang cantik di ruang tamu Anda. Tak hanya itu, ukiran tersebut pun dapat disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Pengunjung tinggal datang dengan model ukiran yang diinginkan. Dalam hitungan hari, hiasan cantik sesuai pesanan Anda pun bisa dibawa pulang.

Untuk memamerkan hasil karyanya, tulang-tulang cantik dari tangan terampil itu dipajang di Merta Kembar art shop. Lokasinya cukup strategis, dekat Istana Presiden di Tampak Siring, Kec. Tampak Siring, Kab. Gianyar. Tertarik menjadikan kerajinan tulang sebagai oleh-oleh?

Ratna Budi Wulandari

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE