16 April 2012
Agrinex 2012 Menjawab Tantangan Agribisnis

Pelaku agribisnis menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, keterbatasan lahan, juga impor yang tak terkendali. Untuk itu butuh dukungan semua pihak terutama di bidang promosi agar produk mereka dapat diserap masyarakat, bahkan diekspor.

Dalam sambutan pembukaan Agrinex Expo 2012, Menteri Pertanian Suswono menyoroti masalah diversifikasi pangan. Ia mengatakan, jenis komoditas pangan yang dihasilkan petani sangat tergantung pola konsumsi masyarakat. Karena itu, pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan secara bertahap akan mengubah pola produksi pertanian di tingkat petani. “Petani akan memproduksi komoditas yang banyak dibutuhkan oleh konsumen dan yang memiliki harga cukup tinggi,” ucap Mentan pada acara yang digelar 30 Maret - 1 April 2012 di Jakarta Convention Center tersebut.

Dorongan untuk Diversifikasi

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, Kepala Seafast Center, LPPM IPB, memaparkan, jika suatu negara hanya tergantung pada satu jenis makanan pokok, maka risiko yang dihadapi akan sangat besar dan negara menjadi rentan. Itulah sebabnya perlu ada dorongan yang kuat untuk mensukseskan diversifikasi pangan, termasuk pihak industri agar memproduksi pangan olahan berbasis bahan baku lokal.

“Sekarang menu pangan kita masih terlalu banyak didominasi beras. Ubah kebiasaan makan banyak beras karena kurang sehat. Tujuannya adalah menciptakan individu yang sehat dan produktif itu bisa dicapai dengan produk pangan yang beragam. Jika ini dilakukan, maka pelan-pelan diversifikasi pangan akan terjadi,“ tegas Purwiyatno, narasumber talkshow “Paradigma Baru Diversifikasi Pangan” di ajang Agrinex.

Agar bisa mencapai itu semua, kata Suswono, Kementerian Pertanian akan memfasilitasi dan mendorong usaha pertanian sehingga memperoleh nilai tambah dan daya saing yang tinggi. Hingga pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani.

Produk pertanian kita juga masih kurang dikenal lantaran karena kurangnya jaringan pemasaran produk pertanian. Dampaknya, petani tidak yakin untuk mengembangkan komoditas pertaniannya sampai berdaya saing. “Karena jaringan pemasaran lemah, petani terdorong menjual produk primer. Bahkan, banyak produk pertanian yang bagus hanya dijual di alun-alun,” komentar Rusman Heriawan, Wakil Menteri Pertanian yang juga hadir di Agrinex Expo 2012.

Padahal, lanjut Rusman, dengan terjalinnya jaringan pasar produk pertanian, berbagai inovasi akan bermunculan. Produk pertanian semakin berkembang, variatif, dan semakin banyak diminati. "Kemasan produk pertanian kita bagus-bagus, tetapi kita masih bimbang dan ragu masuk ke pasar karena tidak ada jaringan pemasaran. lni sangat mernprihatinkan,”  tambah  mantan Kepala Badan Pusat Statistik itu.

Stan Hortikultura Spektakuler

Melalui Agrinex Expo 2012 itulah pelaku agribisnis memamerkan produk pertanian yang inovatif. Salah satu stan yang cukup meriah dan menarik perhatian banyak pengunjung adalah stan hortikultura di bagian depan area. Di sana terdapat pelaku usaha hortikultura, Dewan Hortikultura Nasional,  dan Ditjen Hortikultura, Kementan. Mereka tampil bersama dalam klaster "Bumi Horti". Keindahan bola dunia berbahan rempah, rangkaian bunga mawar di backdrop talkshow, dan peta Indonesia tersusun dari bunga adalah bagian dari tampilan spektakuler pelaku, produk, dan desainer Hortikultura di Agrinex Expo.

Rifda Ammarina, Ketua Panitia Agrinex Expo 2012, menuturkan, melalui event yang diadakan selama tiga hari ini diharapkan masyarakat dapat meningkatkan konsumsi produk agribisnis lokal. "Masyarakat juga diharapkan memberikan dukungan kepada berbagai kebijakan di sektor agribisnis. Dengan begitu Indonesia dapat mandiri dan petaninya bisa sejahtera bukan sekadar mimpi," ujarnya.

Yuwono Ibnu Nugroho

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE