10 January 2017
BB Litvet Hasilkan Vaksin ETEC+VTEC

Balitbang Kementan melalui Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) meluncurkan vaksin enterotoksigenik Eschericia coli (ETEC) dan verotoksigenik Eschericia coli (VTEC) untuk pencegahan diare neonatal pada anak sapi. Dalam peluncurannya, Kepala Balitbangtan Kementan Muhammad Syakir mengungkap, vaksin ini sebagai salah satu upaya Balitbang Kementan dalam mendukung program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB).

Program tersebut akan berjalan efektif bila sapi bunting mampu melahirkan pedet yang sehat dan mampu tumbuh sampai dewasa. "Vaksin ini berguna untuk pencegahan diare yang menyebabkan kematian pada anak sapi. Vaksin ini mampu memberikan kekebalan hingga 90% dan antibodi bertahan dalam kolostrum sampai dengan  tiga bulan, sehingga menurunkan potensi kematian pada anak sapi,” papar Syakir di Balitbangtan, Bogor, Jumat (30/12).

Kepala BBLitvet NLP Indi Dharmayanti menjelaskan, penyakit kolibasilosis pada anak sapi disebabkan bakteri enterotoksigenik E. coli (ETEC) dan verotoksigenik E.coli (VTEC). Penyakit yang bisa menyebabkan diare profus, dehidrasi, dan bahkan kematian ini merugikan secara ekonomi. Prevalensi penyakit ini di Indonesia sebesar 21% dengan tingkat kematian mencapai 90%. Untuk itu, BB Litvet menghasilkan vaksin pertama yang mampu meningkatkan daya tahan sapi terhadap serangan Kolibasilosis  sekaligus mengurangi angka kematian pedet.

Indi menambahkan, vaksin tersebut diberikan dua kali, yaitu pada usia kehamilan sapi menginjak tiga bulan dan dua minggu sebelum kelahiran. Pada fasa bunting kedua dan berikutnya, vaksin hanya diberikan satu kali dua minggu sebelum pedet lahir. “Vaksin ini memberi imunisasi terhadap anak sapi yang baru lahir. Vaksin diaplikasikan pada sapi indukan yang bunting. Diharapkan pedet yang lahir mendapatkan kekebalan terhadap penyakit kolibasilosis,” ulasnya.

Selain itu, BBLitvet juga menemukan antigen felisavet atau lebih dikenal BRU, yaitu, alat berbentuk chip yang dapat langsung digunakan peterbak untuk  mendeteksi secara cepat sapi yang terindikasi mengalami keguguran (bruselosis) . "Sapi yang siap di-Inseminasi Buatan (IB) harus terbebas bruselosis. Kalaupun sapinya bisa bunting, pedetnya tidak menghasilkan seperti yang diharapkan,” pungkas Indi.

Try Surya Anditya

 

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE