10 May 2017
SUDUT PANDANG : Dr. Ir. Widodo, Swasembada Beras Terhalang Blas

Serangan blas bisa membuat cita-cita swasembada pangan, khususnya beras, yang dicanangkan Presiden Joko Widodo menjadi kandas. Penyakit tanaman padi yang disebabkan oleh cendawan Pyricularia oryzae ini, pada 2016 mendadak menjadi primadona baru di antara organisme pengganggu tanaman (OPT). Sepanjang tahun ini saja, hingga September, serangannya sudah mencakup 74 ribu hektar (ha) sawah.

Hal ini termasuk luar biasa karena dibandingkan 2011 serangan blas hanya mencakup luas lahan sebesar 28 ribu ha. Sampai tahun tersebut, serangan utama OPT yang mengganggu tanaman padi didominasi oleh hama penggerek batang seperti wereng. Namun serangan blas kemudian meningkat cepat sehingga pada 2015 blas sudah menyaingi wereng sebagai ancaman utama tanaman padi. Puncaknya tahun ini yang tampak dari merebaknya serangan blas di mana-mana. Ini menjadi luar biasa karena luasan lahan yang terserang sudah tiga kali lipat dari serangan pada 2011. Itu pun data baru sampai September.

Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB memperkirakan kehilangan hasil padi karena penyakit blas secara nasional mencapai 13%. Jika dikonversi, kira-kira akan ada 38 ribu orang di Indonesia yang kehilangan jatah makan beras dalam setahun akibat serangan blas. Di seluruh dunia, serangan blas membuat kehilangan hasil padi hingga 21% atau kira-kira ada sekitar 60 juta orang di dunia kehilangan jatah makan beras.

Penyakit blas memang masih sangat asing dan kurang dikenali oleh para petani serta petugas penyuluh tanaman. Berdasarkan hasil studi pada 2014-2015, di Pekalongan (Jawa Tengah) dan Maros (Sulawesi Selatan) sebagian besar petani atau sebanyak 93,75% tidak tahu tentang apa itu penyakit blas dan penyebabnya.

Blas bisa menyerang pada daun, batang, dan malai padi. Di daun blas menyerang pada fase vegetatif dengan gejala munculnya bercak-bercak kelabu atau putih dan tepinya berwarna kecokelatan atau cokelat kemerahan.

Blas pada leher menyerang pada fase generatif. Gejala khasnya, ujung tangkai malai membusuk. Tangkai malai yang busuk membuat tangkai mudah patah sehingga bulir padi tidak terisi dan menjadi kosong. Pada gabah yang sakit juga bisa dideteksi dengan timbulnya bercak–bercak kecil yang bulat.

Pertanian Selaras Alam

Langkah terpenting yang harus diambil petani untuk mengatasi serangan blas adalah kembali ke pertahanan ekologis atau pertanian selaras alam. Jika menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) berbasis agroekosistem, lingkungan kita kelola lebih dulu, maka masalah dapat terselesaikan.

Bukti nyatanya adalah meluasnya persoalan blas. Beberapa tahun sebelumnya tidak pernah terjadi ketika pertanian berjalan karena masih selaras alam. Dari literatur yang pernah ditelusuri, catatan terkait blas pada 1979 dan 1992, serangan blas di bawah 100 ha dan itu pun hanya pada tanaman padi gogo atau padi ladang.

Kenapa hanya padi gogo? Secara teori karena lingkungan yang memungkinkan, yaitu periode embun lebih panjang, kandungan gula dan protein tanaman lebih tinggi, kadar K (kalium) tersedia lebih rendah dan N (nitrogen) dalam bentuk NO3 karena air terbatas. Namun dari perubahan pola tanam tersebut nyatanya malah membuat blas mengembangkan wilayah serangannya hingga ke padi sawah.

Saat 1993 ditemukan serangan blas pada varietas Atomita pada padi sawah di Kecamatan Darmaja, Sumedang, Jawa Barat. Kenapa bisa terjadi? Ternyata pola pertanian dengan menggunakan pupuk kimia tak seimbang dan aplikasi herbisida, fungisida, dan insektisida berlebihan telah membuat lingkungan sawah menjadi serupa dengan lingkungan padi gogo. Cirinya, kadar K tersedia lebih rendah, N dalam bentuk NO3 karena air terbatas, pupuk N berlebihan, dan mikroba menguntungkan dalam tanah tidak berkembang secara baik lantaran bahan organik kurang.

Penggunaan nitrogen yang berlebih ini sebenarnya agak sedikit konyol. Unsur yang bisa membuat padi terlihat lebih hijau itu dipergunakan berlebihan karena petani senang melihat sawahnya menghijau. Ditambah lagi karena pupuk urea bersubsidi yang mengandung nitrogen harganya terhitung murah.

Untuk mengatasi masalah ini ada beberapa langkah yang bisa dilakukan semisal menggunakan bibit tahan blas, melakukan pemupukan seimbang dan lain-lain. Namun sebelum itu semua, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan unsur hara tanah sesuai dengan alur alamiahnya. Terkait penggunaan varietas tahan blas, akan menimbulkan risiko lain. Karena kita akan mengadakan perlombaan adu cepat antara perakitan varietas tahan versus kecepatan perubahan populasi varian genetik Pyricularia. Beranikah kita?

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 12 Edisi No. 269 yang terbit pada November 2016. Atau klik di www.scanie.com/featured/agrina.html, https://www.wayang.co.id/index.php/majalah/agrina

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE