12 May 2017
IPB Resmikan Laboratorium Riset Biosafety Level (BSL)-3

Laboratorium ini merupakan hasil kolaborasi IPB dengan Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) – program pemerintah Jepang untuk riset gabungan internasional -. Dalam pelaksanaannya, kerja sama yang mengusung judul “Ecological Studies on Flying Foxes and Their Involvement in Rabies – Related and Other Viral Infectious Diseases” itu dikerjakan oleh IPB dan perguruan tinggi Jepang (Nagoya University, Yamaguchi University, dan Tokyo University of Agriculture and Technology) dengan dukungan dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Agency for Medical Research and Development (AMED).

 

Herry Suhardiyanto, Rektor IPB menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan fasilitas yang dibangun di IPB. Di samping itu, Rektor berharap kolaborasi ini akan lebih efektif ke depannya. “Dengan memperhatikan aspek keamanan, tentunya penelitian ini akan menghasilkan hasil riset yang berkualitas,” terangnya di mimbar pidato.

 

Sementara itu, Kozo Honsei, perwakilan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia mengatakan, kolaborasi ini penting untuk menemukan obat penyembuh infeksi akibat serangan rabies. “Kolaborasi ini penting untuk dua negara. Salah satu fokus utama, yaitu perlindungan dari infeksi rabies yang sering terdengar di Indonesia,” terangnya.

 

Kalong (bangsa kelelawar) merupakan agen pembawa patogen yang tidak berbahaya bagi dirinya sendiri tetapi berbahaya jika menulari manusia. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB, Agus Setiyono mengungkapkan, sementara ini memang belum ada studi yang cukup tentang penyebaran rabies dan patogen potensial zoonosis lainnya melalui kalong. “Kita baru melakukan studi awal dan memang belum melakukan publikasi. Kalong yang kita pasangi detektor di Bogor, siangnya sudah sampai Sukabumi. Kemudian besoknya sudah sampai Kupang (NTT),” terang Agus.

 

Laboratorium BSL-3 memfasilitasi penelitian untuk patogen dengan risiko tinggi. Next Generating Sequencer (NDS) digunakan untuk mengidentifikasi virus apa saja yang dibawa si kalong. Instrumen ini diklaim lebih canggih dari Polymerase Chain Reaction (PCR) yang hanya bisa mengidentifikasi satu jenis patogen. “NGS bisa running beberapa sampel dan bisa langsung keluar hasil identifikasi patogen apa saja yang ada di situ. Bahkan mungkin bukan rabies saja, bisa jadi ada patogen lainnya,” ungkap Agus.

 

Inisiasi kerja sama dilakukan sejak 2015 dan berakhir kelak pada 2020. Lima tahun pertama, Jepang akan memperbantukan ahlinya untuk operasional di IPB. Kerja sama akan terus berjalan sampai publikasi.

Galuh Ilmia Cahyaningtyas

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE