22 May 2017
Lele Bioflok Masuk Pesantren

Lele bioflok ramah lingkungan, berkelanjutan, aman, dan mudah diterapkan.

Asupan gizi generasi muda Indonesia merupakan hal yang harus diperhatikan agar terwujud sumber daya manusia yang cerdas dan sehat. Menurut Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan perikanan (KKP), saat ini konsumsi lele pada generasi muda dari kalangan santri pondok pesantren baru sekitar 9,8 kg per kapita per tahun.

Menilik data tersebut, sambung Slamet, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya memberikan paket bantuan teknologi budidaya lele bioflok. “Lele makanan masyarakat sehingga bisa meningkatkan gizi masyarakat sebagai bentuk ketahanan pangan. Kalau di pondok pesantren, tentu saja bisa meningkatkan gizi masyarakat pondok pesantren,” kata Dirjen di Jakarta, Rabu (17/5).

Keunggulan Bioflok

Slamet menjelaskan, bioflok dipilih karena teknologi ini ramah lingkungan, berkelanjutan, aman dan mudah diterapkan masyarakat. “Bioflok ini suatu teknologi. Di teknologi ini akan mendapatkan peningkatan produktivitas, efisiensi, dan kemudahan-kemudahan secara teknis,” imbuhnya.

Budidaya lele bioflok memanfaatkan gumpalan flok yang terdiri atas sekumpulan mikroorganisme yang berfungsi sebagai bahan makanan dan memperbaiki kualitas air. Flok terdiri atas bakteri positif yang menguntungkan. Menggunakan teknologi bioflok, katanya, akan meningkatkan daya cerna ikan sehingga nilai konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) turun dan kualitas air meningkat.

Saat ini ada 103 paket bantuan lele bioflok yang disebar untuk pondok pesantren di Indonesia mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, Papua, Papua Barat, dan daerah-daerah perbatasan di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Saat ini bantuan sedang dalam proses distribusi ke pondok pesantren penerima dan akan siap beroperasi akhir Mei ini.  Setiap pondok rata-rata menerima sebanyak 2 paket bantuan yang terdiri atas 24 unit kolam bioflok.

Budidaya lele teknologi bioflok memakan waktu 2,5 bulan per siklus. Model bioflik juga akan diintergrasikan dengan hidroponik berupa tanaman sayuran, seperti kangkung, cabai, dan terung sehingga bisa menghasilkan ikan dan sayur-mayur bagi masyarakat pondok pesantren.

Dari 103 bantuan bernilai Rp14,4 miliar, Slamet memperkirakan akan menghasilkan 1.520 ton lele per tahun dengan nilai produksi mencapai Rp21,78 miliar. Ia juga menargetkan konsumsi lele di kalangan pondok pesantren bisa naik menjadi 15 kg per kapita per tahun.

 

Windi Listianingsih

 

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE