22 December 2017
Agrievolution 2017 Sorot Pertanian Asia

Puncak pertemuan produsen alsintan dunia ini membahas kerjasama industri alsintan dan riset dalam melahirkan praktik terbaik menghadapi perubahan iklim.

 Agrievolution merupakan aliansi global yang menampung suara produsen alat mesin pertanian. Anggotanya terdiri dari 14 organisasi yang mewakili lebih dari 6.000 perusahaan di dunia. Organisasi yang tergabung dalam aliansi ini, yaitu ABIMAQ (Brasil), AEA (Inggris), AEM (Amerika Serikat). ANSEMAT (Spanyol), AXEMA (Perancis), CAMDA (China), CEMA (Uni Eropa), FederUnacoma (Italia), FICCI (India), JAMMA (Jepang), KAMICO (Korea), ROSAGROMASH (Rusia), TARMAKBIR (Turki), dan VDMA (Jerman).

 Hadir di Asia

Agrievolution paling gres digelar pada 25-26 Oktober 2017 di Wuhan, China bersamaan dengan pameran mesin pertanian terbesar China, CIAME 2017, di kota yang sama. Dalam pidato pembukaan gelaran keenam itu, M. Selami Ileri, Agrievolution Chair, mengatakan, “Ini kesempatan yang baik untuk berjejaring.”

Pada pertemuan yang digelar 18 bulan sekali itu, China menjadi tuan rumah setelah sebelumnya terlaksana di Turki. Di China itu juga posisi chair (ketua) Agrievolution berpindah dari M. Selami Ileri (TARMAKBIR, Turki) ke Mao Hong (CAMDA, China).

Tahun ini, Agrievolution mengangkat tema “The Asian Perspective: Cooperation among Industry, Research and Best Practices in Global Farming”. Para pembicara mengungkap tren pasar alat mesin pertanian (alsintan) global, Asia, dan China.

Perusahaan yang sukses menembus pasar global pun tak ketinggalan tampil untuk berbagi pengalaman dan strategi suksesnya. Yang menarik ada pembahasan mengenai pertanian serba tepat (precision farming) dan teknik mengurangi dampak negatif alsintan pada tanah.

 Tren Pasar Alsintan

Bagi produsen, informasi tentang perkembangan pasar alsintan sangat penting. Agrievolution pun menjawab kebutuhan itu. Salah satu pembicara yang tampil menyajikan tren pasar global adalah Philip Nonnenmacher, Analis Pasar VDMA. Dalam presentasinya, Nonnenmacher memaparkan tentang produksi alsintan dan kondisi pasarnya. Menurut dia, “Pasar alsintan global senilai US$110 miliar pada 2016. Nilai tertinggi pasar dicapai pada 2013 yang mencapai sekitar US$135 miliar.”

Tiga besar pasar alsintan dunia berturut-turut adalah Uni Eropa (US$27 miliar), NAFTA (Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko) US$23,4 miliar, dan China (US$20,3 miliar). Sementara India menduduki posisi kelima dengan pasar sebesar US$6,9 miliar. Indonesia termasuk dalam kelompok negara lain-lain yang total pasarnya senilai US$14,1 miliar.

Sementara produksi alsintan, Nonnenmacher membagi dua, yaitu alsin dan traktor. Produksi traktor dunia didominasi Jerman dengan kontribusi 20%, Italia hampir 10%, dan Jepang 9%. China ternyata hanya menempati urutan 12 dengan kontribusi 2%. Sedangkan produsen alsin, peraih tiga besar posisi adalah Jerman (17%), Amerika Serikat (13%), dan China (10%).

Kemudian ada juga Li Yutong yang berbicara tentang pasar Asia. Li menyandang status Head of the Centre for Sustainable Agricultureal Mechanization (CSAM) of the United Nations Economic and Social Commision for Asia and the Pacific (ESCAP). Wanita yang lebih dari 24 tahun berpengalaman di sektor pertanian ini mengungkap tren mekanisasi di kawasan Asia Pasifik.

Mao Hong, Chairman of China Agricultural Machinery Distribution Association (CAMDA) spesial berbicara tentang pasar China. Mao merupakan ekonom senior yang sejak 1980 memiliki pengalaman bekerja di berbagai bidang. Ia mendesain dan membangun “Agricultural Machinery Market Index (AMI)”.

Indeks tersebut menjadi pioner bagi industri mesin pertanian dan digunakan juga oleh pemerintah China. Di samping itu, perusahaan dan kalangan industri memanfaatkan data tersebut untuk analisis dan riset pasar alsintan.

 Berbagi Pengalaman

Banyak produsen mesin pertanian yang bertahan dan masih eksis hingga kini. Mereka pun berbagi pengalaman dan memberikan strategi sukses di pasar global. Jerry Johnson, President of the Farm Ranch & Ag Division Blount International bercerita mengenai lika-liku menembus pasar Brasil. Produk utama perusahaan asal Negeri Paman Sam ini adalah flail shredder dan rotary cutter untuk mengelola sisa tanaman.

Zhou Wei, Manajer Pabrik John Deere di Tianjin, China, mewakili perusahaan yang sudah hadir di China sejak 40 tahun lalu. Pada 1970, perusahaan dengan lambang rusa itu memulai masuk dengan konsep friendship farm. Kemudian, pada 1980-an mulailah transfer teknologi. Hingga 1990, pabrik pertama mulai dibangun. Investasi terus dilanjutkan hingga 2000 dan pada 2010 terus berekspansi. John Deere juga menawarkan teknologi pertanian tepat.

Masih ada juga cerita-cerita menarik yang disampaikan Liu Qi, Strategy Manager Jifore China, Wang Kejun mewakili YTO Group, dan Chen Yong Jun, Deputy General Manager Zoomlion Heavy Machinery China.

Dari perusahaan Jepang, ada Atsushi Ace Nakayama mewakili Chikusui Canycom, Franz-Bernd Kruthaup mewakili Grimme Group dari Jerman, dan Fred yang mewakili AGCO China (asal AS).


Galuh Ilmia Cahyaningtyas

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE