28 December 2017
Cara Baru Memproduksi VCO

Bambang Sardi, dosen Universitas Tadulako, yang meraih apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2017 di bidang teknologi, dapat memproduksi VCO yang berkadar asam laurat tinggi.

Bagaimana cara memproduksi virgin coconut oil (VCO) atau minyak kelapa murni yang berkandungan asam laurat yang tinggi? Sebagaimana kita ketahui, asam laurat berfungsi antara lain sebagai antijamur, antivirus, dan antibakteri. Dengan demikian, VCO yang dihasilkan tidak hanya untuk kebutuhan pangan tetapi juga keperluan industri kesehatan, farmasi dan kosmetika.

Adalah Bambang Sardi, 31, yang meneliti produksi VCO dengan metode fermentasi anaerob secara terpadu. “Dalam proses produksi, kami melakukan standardisasi secara terintegrasi, mulai  penentuan bahan baku, pembuatan santan, produksi VCO, pemisahan VCO, dan pemurnian VCO,” kata dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah itu.

Dari percobaan pria kelahiran Wakatobi, 29 Januari 1986, itu diperoleh hasil berikut ini. Pertama, bBambang dan bahan baku kelapaahan baku terbaik adalah kelapa varietas dalam. Kedua, media pemeras terbaik adalah air kelapa. Ketiga, produksi VCO tanpa pemanasan dan penambahan bahan kimiawi (bakteri). Bakteri muncul secara alami pada santan kelapa yang prosesnya sudah disesuaikan. Keempat, pemisahan VCO dari blondo dan air sisa fermentasi berdasarkan perbedaan berat jenis. Kelima, pemurnian VCO berdasarkan perbedaan fase dengan kertas saring Whatman No. 40 enam lapis.

VCO yang hasilkan mengandung asam laurat minimal 50,02 persen, asam lemak bebas (free fatty acid) 0,03 persen, TPC (total plate count) bakteri 1,1 x 101 CFU per gram, kolesterol tidak terdeteksi, mikroba negatif, dan kimia berbahaya negatif. Jadi, “VCO yang dihasilkan tidak hanya untuk kebutuhan pangan tetapi juga kebutuhan industri kesehatan, farmasi, dan kosmetik,” kata suami Hasna itu.

Yang menarik, harga daging kelapa yang kalau dijual langsung di tingkat lokal sekitar Rp 2.500 per kg, setelah dikonversi menjadi VCO nilainya sekitar Rp 31.500. Jadi, nilai tambahnya sekitar 1.160 persen. Selain itu, lulusan Program Studi Magister Teknik Kimia Konsentrasi Teknologi Proses Pengolahan Lingkungan dan Kesehatan Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Sulawesi Selatan, itu memanfaatkan seluruh materi kelapa seperti air kelapa dan ampas kelapa.

Kelayakan produksi

Dari segi kelayakan teknik, rendemen VCO yang dihasilkan minimal 12,5 persen dengan kandungan asam laurat minimal 50,02 persen. Dengan rendemen 12,5 persen, berarti setiap 8 kg daging kelapa dapat menghasilkan 1 liter VCO, sedangkan blondo yang dihasilkan sekitar 3 liter.

Dari segi ekonomi, biaya produk VCO cair dalam kemasan botol kaca transparan ukuran 140 ml sekitar Rp 3.000, sedangkan harga jualnya Rp 45.000. Berarti keuntungannya sebesar Rp 42.000.

Dari segi lingkungan, air kelapa digunakan sebagai pemeras kelapa terbaik, ampas dan sabut kelapa digunakan sebagai bahan isian selimut alat fermentasi, blondo digunakan sebagai bahan baku biskuit, serta air sisa fermentasi untuk pengatur pH dalam pembuatan pupuk kompos dan biohidrogen. Produk VCO yang dihasilkan juga diterima masyarakat. Produk ini dipasarkan melalui apotik, toko oleh-oleh, supermarket, dokter spesialis klinik gizi, dan individu-individu.  

Proses fermentasi

Mula-mula daging kelapa diparut dengan parut bermata tumpul. Media yang digunakan untuk menghasilkan santan adalah air kelapa. Setiap tiga butir air kelapa dapat digunakan untuk memeras dua butir daging kelapa. Pengulangan pemerasan dilakukan sebanyak tiga kali. Air kelapa yang digunakan sebagai media pemeras dapat didaur ulang dengan menggunakan tangki pemisah yang bekerja berdasarkan perbedaan massa jenis dengan air kelapa dan larutan santan.

Larutan santan difermentasi selama sekitar 24 jam. Yang menarik, dalam proses fermentasi ini, Bambang tidak menambahkan bakteri fermentasi, tapi bakteri ini muncul secara alami pada larutan santan dan bakteri ini dapat hidup dengan baik tanpa oksigen (anaerob). “Fermentasi merupakan proses penguraian metabolik senyawa protein dan karbohidrat oleh bakteri,” katanya.

Bakteri tersebut adalah bakteri asam laktat, yaitu Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus casei. Fermentasi dilakukan pada suhu sekitar 34oC, tekanan 1 atm, pH sekitar 4,5, dan selama sekitar 24 jam. Pada kondisi inokolum, total bakteri L. plantarum 3,3 x 106 ± 1,3 x 105 CFU per ml dan L. casei 1,8 x 106 ± 6,8 x 104 CFU per ml. Pada kondisi 24 jam inkubasi, total bakteri L. plantarum 3,5 x 105 ± 1,4 x 105 CFU per ml dan L. casei 1,7 x 105 ± 1,7 x 105 CFU per ml.

Hasil fermentasi adalah minyak berada pada bagian atas, bagian tengah adalah blondo, dan bagian bawah adalah air. Minyak atau VCO ini dipisahkan dari blondo dan sisa air fermentasi. Kemudian dilakukan pemurnian VCO dengan menggunakan kertas saring Whatman No. 40.

Berkat SATU Indonesia Awards

Penelitian yang dilakukan alumnus Jurusan Teknik Kimia, Program Studi Teknik Kimia, Universitas Muslim Indonesia, Makassar, itu memperoleh apresiasi dari Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards, PT Astra International Tbk, tahun 2017, untuk kategori bidang teknologi. Dari apresiasi tersebut, Bambang memperoleh dana Rp 65 juta.

“SATU Indonesia Awards merupakan program dari PT Astra International Tbk, yang sangat luar biasa, yang perlu dicontoh oleh perusahaan-perusahaan lain,” kata dosen Universitas Tadulako, Palu, itu. “Harapan saya PT Astra International Tbk juga dapat memberikan beasiswa untuk studi S3 Teknik Kimia dan kami siap melakukan riset sesuai dengan kebutuhan Astra,” kata Bambang.

Dana Rp 65 juta dari SATU Indonesia Awards itu antara lain digunakan Bambang untuk pengembangan inovasi dan pemenuhan dokumen perizinan produk VCO. “Saat ini kami dalam proses mengurus izin Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), sertifikat halal dari LPPOM-MUI, dan sertifikat dari BPOM RI,” kata lelaki gempal yang hobi membaca dan rekayasa energi itu. Selain itu, dana apresiasi itu digunakan juga untuk melakukan inovasi lain, yaitu produksi VCO dalam bentuk kapsul (tablet) dan produksi biskuit blondo VCO untuk penanganan gizi buruk.

Melalui inovasi teknologi produksi VCO ini melahirkan tiga kelompok mitra usaha masyarakat yang saling mendukung. Pertama, kelompok masyarakat Qonita Nur di Kabupaten Parigi Moutong sebagai penyedia bahan baku kelapa varietas dalam dan tempat riset. Kedua, kelompok masyarakat Muflih di Palu, sebagai tempat produksi dan pemasaran VCO. Ketiga, kelompok masyarakat Usaha Tadulako, yang memproduksi dan mengembangkan biskuit blondo VCO.

Dengan berkembangnya industri VCO di Palu, diharapkan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat, terutama di Sulawesi Tengah. Apresiasi dari SATU Indonesia Awards diharapkan dapat lebih menggairahkan pengembangan industri minyak kelapa murni itu. “Inovasi yang kami lakukan ini melahirkan tiga kelompok mitra usaha yang saling mendukung,” papar Bambang.

Syatrya Utama


 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE