12 January 2018
Tujuh Belas Tahun Lebih Melayani Petani Indonesia

PT Syngenta Indonesia memasuki usia sweet seventeen  di Indonesia. Apa saja kontribusinya?

 

Syngenta merupakan perusahaan bidang pertanian global yang sudah ada di 90 negara. Di Indonesia sebenarnya Syngenta sudah hadir melalui perusahaan legasi sejak 1960-an. Tapi tepat pada 14 November 2000, PT Syngenta Indonesia berdiri sendiri. Sejak saat itu pula kehadiran Syngenta diperkuat dengan departemen riset dan pengembangan pertanian di Cikampek, Jabar.

Laboratorium pusat penelitian ini menggabungkan teknologi, genetika, pemuliaan, dan ilmu komputasi untuk mendukung perkembangan pertanian Indonesia bahkan dunia. “Kami konsisten untuk membantu petani bertani dengan prinsip grow more from less,” urai Parveen Kathuria, Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia pada acara media gathering dalam rangka ulang tahun Syngenta ke-17. Syngenta juga memiliki pabrik benih di Pasuruan, Jatim dan pabrik produk perlindungan tanaman di Gunung Putri, Bogor, Jabar.

 

Teknologi Perbenihan

Perusahaan global ini mengucurkan dana hingga US$300 juta selama 13 tahun untuk mengeluarkan satu produk baru. Midzon Johannis, Head of Corporte Affairs Syngenta Indonesia mengatakan, rata-rata perusahaan ini melepas 1-3 produk baru di Indonesia setiap tahunnya. “Tahun ini kami akan meluncurkan benih jagung NK Perkasa, jagung yang tahan bulai,” terangnya.

Jagung hibrida itu, lanjutnya, memiliki potensi produksi mencapai 13,3 ton/ha dan rata-rata petani berhasil panen hinga 9,7 ton/ha. Tanpa inovasi, jagung yang terserang bulai bisa gagal panen 100%. “Jagung NK Perkasa ini produk baru temuan ilmuwan Indonesia,” terangnya.

Selain benih hibrida, Syngenta mengucurkan biaya sekitar US$135 juta untuk pengembangan satu produk rekayasa genetika (genetically modified organism, GMO). Tiga puluh persen dari biaya ini digunakan untuk studi keamanan produk, keamanan manusia, dan keamanan lingkungan. Vietnam merpakan salah satu negara yang sudah menggunakan jagung GMO rakitan Syngenta. Untuk Indonesia, jagung GMO masih menunggu perizinan dari Kementerian Pertanian.

           

Sentuh Petani

Di samping kontribusi dalam bidang teknologi, Syngenta pun aktif turun langsung menyentuh petani. Kegiatan ini terwujud dalam program unggulan seperti klub 10 ton, pembiayan mikro, dan teknik pembungaan awal.

Program klub 10 ton dimulai sejak 2011 dengan menerapkan solusi GroMore™. Hasilnya, petani mampu panen padi hingga 10 ton/ha. “Malahan, sekarang petani nantang untuk bikin klub 12 ton karena yang 10 ton sudah tercapai,” cerita Midzon. Sejauh ini ada lebih dari 15 ribu petani yang mendapat manfaat dari program tersebut.

Syngenta juga menyentuh petani mangga di Jatim dan NTB untuk mengedukasi petani mencapai pembungaan awal. Kegiatan ini bekerja sama dengan Australia-Indonesia Partnership for Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture (PRISMA). Tujuannya, meningkatkan produktivitas mangga dan bisa berbuah di luar musim sehingga petani bisa mendapat harga jual yang lebih baik. Tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan mangga dalam negeri tetapi juga untuk komoditas ekspor.

Selain pendampingan teknologi, Syngenta membantu masalah permodalan. Menggandeng Mercy Corps Indonesia, Bank Andara, BPR Akbar Pesisir, dan di bawah koordinasi PISAgro, kegiatan ini terwujud dalam bentuk pembiayaan mikro yang menyasar petani jagung di Indonesia Timur. “Kita sebagai penjamin dan dengan segala dukungan, petani berhasil bayar kredit 100%,” pungkasnya.

 

Galuh Ilmi Cahyaningtyas

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE