07 July 2010
Suheri Jangan Cuma Mimpi

Menjalani masa pensiun tanpa persiapan yang baik dapat menimbulkan dampak psikologis tidak menyenangkan.

Suheri melihat banyak orang di lingkungannya memasuki masa pensiun tanpa tahu apa yang akan dikerjakan. Kalaupun ada semacam pembekalan, itu pun dilakukan hanya dalam waktu singkat dan kebanyakan mengarah ke bisnis.

“Saya kurang setuju dengan pendekatan itu. Kenapa? Orang kerja selama puluhan tahun, diajari macam-macam dalam seminggu. Mungkin ada yang masuk, tapi apa sesuai dengan apa yang diinginkan. Terus, apakah secara mental dia siap dengan yang diajarkan? ‘Kan rata-rata tentang bisnis. Belum tentu semua orang punya naluri atau keberanian untuk berbisnis,” ungkap Presiden Direktur Dana Pensiun Astra Satu dalam perbincangan dengan AGRINA pertengahan bulan silam.

Karena itu, Heri bersepakat dengan pimpinan Astra untuk menyusun program masa persiapan pensiun (MPP) selama dua tahun, dan dilakukan secara bertahap.  Dua tahun jelang pensiun, karyawan ikut pelatihan dua hari. “Tujuan kita untuk meningkatkan awareness dia, supaya mulai berpikir mau jadi apa nanti. Hasilnya kita berharap, dia punya ketetapan hati melakukan apa,” lanjut pria yang mengawali karir di Grup Astra sebagai System Analist ini.

Tahapan Enam Bulan

Lebih jauh Heri menjelaskan, acara dua hari tersebut dimulai dengan seremoni di Kantor Pusat Astra, yang suasananya didesain seperti perhelatan pernikahan/pesta. “Pembukaannya, Direksi Astra memberikan sambutan dan  menyalami mereka satu per satu sambil mengucapkan terimakasih, Anda telah melakukan karya besar sehingga Astra besar seperti sekarang. Kita ingin menunjukkan bahwa ini adalah pesta mereka karena selama ini mereka sudah memberikan karya yang terbaik,” urainya.

Selesai seremoni, mereka mendapat pencerahan dari para pensiunan yang memilih kegiatan berbeda. Ada yang di rumah saja, menjadi pengusaha atau dosen, dan ada pula yang ikut kegiatan sosial. Dipandu moderator, mereka ini bercerita suka-duka menjelang pensiun hingga sekarang. Acara selanjutnya mendengarkan dorongan dari motivator.

Sore hari mereka menjalani tes bakat dan minat. Tujuannya, mereka tahu persis potret diri sehingga nanti pas memilih kegiatan benar-benar pas. Hari berikutnya mereka dibagikan kertas kerja yang diisi sepulang pelatihan.

Tahapan selanjutnya menentukan apa yang ingin mereka jalankan. Proses ini berjalan selama enam bulan dengan tahapan kegiatan per dua minggu. Mulai dari memilih lima kegiatan yang paling ingin dilakukan. “Kita tidak pernah mendikte dia. Dia yang memutuskan. Untuk pilih lima kegiatan saja kita kasih waktu dua minggu. Bahannya apa? Motivator sudah ngomong, pensiunan sudah bicara,” terang Heri yang kelahiran Lubuk Siam, Riau, 17 Juni 1964 ini.

Proses berjalan sampai enam bulan ketemulah tiga besar kegiatan yang ingin dilakukan para calon pensiunan. Menurut ayah dua anak ini, pada angkatan terbaru, tiga besar tersebut meliputi usaha bengkel, restoran, dan toko kelontong. “Kita desain program supaya mereka tahu detail kalau terjun ke usaha itu, mulai dari awal, jatuh bangunnya bagaimana, tips bagaimana sampai berhasil dari pembicara yang memang jatuh bangun,” sambungnya.

Setelah 6 bulan, dengan pilihan tersebut, mereka dilatih lagi selama tiga hari. Dari situlah mereka dibantu menyusun perencanaan bisnis. Diharapkan, ketika masa pensiun itu datang, mereka telah siap mengisinya dengan kegiatan tersebut. Sampai sekarang, program MPP Heri dan tim sudah meluluskan 900 orang calon. Yang menarik, pada angkatan terakhir mulai ada peminat agribisnis, seperti budidaya lele dan usaha tanaman hias.

Enam Kunci Sukses

Banyak cerita sukses dari para pelaku bisnis terkait. Heri mendapatkan kisah mereka dari membaca koran, cerita teman, bahkan dari pelaku langsung. Jalan menuju sukses mereka dalam pemikirannya terkristalkan menjadi enam prinsip. “Anda harus punya sasaran, harus berani memulai dari mana saja, harus berani kerja keras, harus konsisten, harus mau belajar, dan harus hemat (investasi),” simpul alumnus Mekanisasi Pertanian IPB ini.

Enam prinsip itu dibuktikannya sendiri ketika ingin membukukan kisah mereka. “Saya bisa bikin presentasi yang bagus. Saya bisa presentasi yang bagus, tapi jangan saya disuruh nulis dalam bentuk buku,” aku lulusan cumlaude S2 Ekonomi dan Keuangan Syariah UI ini. Buktinya, dalam tiga bulan ia cuma menghasilkan satu kalimat.

Tapi dengan prinsip tersebut, dengan niat yang kuat, dimulai dari satu kalimat sehari, berlanjut satu halaman, dan seterusnya. Akhirnya, meski sempat hilang naskahnya dua kali, selesailah buku berisi kisah-kisah inspiratif yang berjudul “Jangan Hanya Mimpi, Mulai Saja” itu.

Jadi, kalau Anda memang punya rencana untuk mencapai sesuatu, mulai saja, jangan hanya bermimpi. Begitu pria yang belum sempat mengaplikasikan ilmu mekanisasi pertaniannya ini berharap.

Peni SP, Tri Mardi, Liana Gunawati

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE