|
07 July 2010
Mesin Penyiang Atasi Gulma Secara Efektif
Hanya butuh satu orang operator yang bekerja selama 10 jam untuk menyiangi satu hektar pertanaman padi.
Jumlah tenaga kerja di sektor pertanian cenderung menurun karena banyak angkatan kerja lebih tertarik ke sektor industri. Tak jarang petani mengalami kesulitan saat harus merawat tanaman padinya. Sebagai contoh dalam proses penyiangan gulma. Untuk menyiangi pertanaman seluas satu hektar saja dibutuhkan 25 orang yang bekerja secara manual atau 7 orang bila mereka menggunakan alat landak.
Dengan begitu, biaya penyiangan mencapai sekitar Rp500 ribu rupiah, jika dihitung upah sebesar Rp20.000 per orang. Padahal sepanjang umurnya padi perlu disiangi paling tidak dua kali. Bahkan bila petani menerapkan system of rice intensification (SRI), penyiangan lebih sering lagi.
Kondisi tersebut mendorong Joko Pitoyo, perekayasa di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Tangerang, untuk menciptakan mesin penyiang gulma. Menggandeng PT Yanmar Agricultural Machinery Manufacturing Indonesia (Yamindo), mesin ini kemudian diproduksi secara massal sejak tahun lalu.
Nilai Plus
Menurut Ir. Widyatmoko, Marketing Section Manager PT Yamindo, keuntungan pemanfaatan mesin penyiang gulma adalah lebih ekonomis dan hemat tenaga kerja. Mesin ini ringan dan mudah dijalankan. Bobotnya hanya 22 kg, lanjut dia, sehingga cukup dioperasikan satu atau dua orang bergantian. Konsumsi bahan bakarnya sekitar 0,9 liter (bensin campur oli 2T) per jam. Jadi, biayanya satu kali penyiangan per hektar berkisar Rp100 ribu—Rp150 ribu.
Secara teknis, cakar pada mesin ini, kecuali mencabut rerumputan juga dapat memperbaiki aerasi tanah yang berguna merangsang pertumbuhan akar. Dengan pertumbuhan akar lebih baik, penyerapan nutrisi dari pemupukan pun lebih baik. Pemupukan menjadi lebih efisien.
Kecuali itu, di sentra-sentra produksi, ”Mesin biasanya tidak hanya dipakai sendiri oleh petani tapi juga disewakan,” ujar Widyatmoko. Biaya sewanya, lanjut lulusan Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini, bisa mencapai Rp400 ribuan sekali penyiangan, sudah termasuk operator dan bahan bakar. Hitung punya hitung, dengan harga Rp10 juta per unit dan umur ekonomis empat tahun, investasi mesin ini akan kembali modal setelah menyiangi 40 ha.
Cara kerja mesin cukup sederhana. Mesin dihidupkan dengan menarik talinya, lalu dijalankan mengangkangi tanaman. Jarak tanam yang memungkinkan penggunaan mesin berkisar 23—27 cm. Untuk mendapatkan hasil yang baik, Widyatmoko menyarankan, penyiangan harus dilakukan sebelum umur 31 hari. Di atas umur itu, tanaman sudah terlalu tinggi sehingga malah bisa roboh oleh mesin. Usai digunakan, mesin sebaiknya dibersihkan.
Sampai sekarang, lanjut dia, mesin penyiang tersebut sudah diperkenalkan kepada petani di daerah Karawang, Subang, pantai utara Jatim, Nangroe Aceh Darussalam, juga Kaltim. “Respon petani cukup bagus. Di Karawang itu ‘kan banyak juga yang punya lahan sampai 30 ha. Itu ‘kan nggak mungkin tanpa mesin. Butuh berapa orang (untuk menyiangi)? Sedangkan di Aceh, karakter petaninya kalau ada teknologi baru, ingin coba,” tutur pria yang sudah bekerja selama 20 tahun di Yamindo ini. Yamindo sendiri, diakuinya, menargetkan penjualan 1.000 unit per tahun.
Peni SP
|