12 October 2016
Tips Jitu Optimalisasi Budidaya

Budidaya lele harus diikuti kemampuan para pelaku usahanya mengatur siasat dalam pembesaran.

Dalam usaha budidaya pembesaran lele, pemilihan strain unggul, penerapan teknis budidaya, dan pemberian pakan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan. Menurut Parsiholan E. Naiborhu, General Manager Formulator Aquafeed PT Feedmill Indonesia, “Penggunaan pakan harus efisien.” Selain itu, pembudidaya juga peka terhadap iklim, menjaga kadar pH, dan amonia air agar panen maksimal. Sehingga margin keuntungan optimal akan didapatkan," kata Sihol, sapaannya, kepada AGRINA di Jakarta (25/8).

Padat Tebar dan Strain Unggul

Untuk mendapatkan produktivitas tinggi, penerapan sistem budidaya intensif yang dicirikan dengan padat tebar tinggi dianggap perlu. Jika budidaya sudah baik, hasil panen akan lebih optimal bila didukung dengan pemilihan strain unggul.

Marupudin, pembudidaya lele, asal Parung, Bogor mengaku, dirinya melakukan budidaya intensif dengan padat tebar kisaran 180-200 ekor/m2. Maung, begitu ia biasa dipanggil, memulainya dari pemilihan benih. “Benih yang sehat dan tingkat kerataan yang bagus menunjang untuk optimalisasi dari awal,” ujar pengelola 1,5 ha lahan ini.

Seirama dengan Maung, Mohammad Kohar, pembudidaya lele kawakan asal Desa Banjarsari, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menyebutkan, budidaya intensif dilakukannya dengan padat tebar kisaran 300 ekor/m2. Untuk pembesaran, pria yang sering dipanggil Prof oleh warga sekitarnya ini, memilih strain Masamo yang didapatkannya dari PT Matahari Sakti. “Masamo yang hasil persilangan strain punya efisiensi pakan yang bagus,” ulas lulusan S-2 Jurusan Manajemen Pendidikan dari Universitas WR Supratman, Kota Surabaya, ini.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 12 Edisi No. 267 yang terbit pada September 2016. Atau klik di www.scanie.com/featured/agrina.html, https://www.wayang.co.id/index.php/majalah/agrina

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE