15 November 2016
Jalan Berliku Benih Hibrida

Pemerintah menggelontorkan banyak bantuan benih hibrida untuk meningkatkan produksi jagung. Bagaimana hasilnya?

 

Menurut Nandang Sunandar, untuk meningkatkan produktivitas jagung, Kementan membuat program spesial peningkatan luas areal tanam jagung hibrida pada 2015 seluas 935.101 ha dilanjutkan bantuan benih melalui Gerakan Pengembangan Jagung Hibrida (GPJH) pada 2016 mencapai 1,151 juta ha. Hingga September ini realisasi bantuan sekitar 413 ribu ha atau 35,88%.

Selain itu, ada juga bantuan benih jagung hibrida di lahan khusus dengan dana APBN-P seluas 724 ribu ha. Tahun depan rencana bantuan benih jagung hibrida menjadi 3 juta ha. “Bantuan benih yang didapat sebanyak 15 kg/ha,” ujar Direktur Budidaya Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan.

 

Terlambat

Besaran bantuan benih berdasarkan biaya jagung per hektar. Nilainya Rp1.411.000/ha buat lahan khusus untuk pembelian benih hibrida dan pupuk, dan Rp845 ribu/ha buat GPJH dengan peruntukan benih hibrida, pupuk, dan obat-obatan. Jumlah dan varietas benih yang digunakan menyesuaikan kondisi daerah atau spesifik lokasi dan dituangkan dalam Rencana Usaha Kelompok (RUK).

“Lelang (benih) di provinsi, tapi mereka menentukan HPS (harga pokok subsidi) dan varietas berdasarkan permohonan petani, ditentukan dalam RUK. Kalau pun harga benih misalnya Rp60 ribu-Rp70 ribu/kg, uang sisanya boleh digunakan kelompok untuk membeli sarana produksi lainnya. Tidak ada ketentuan harga benih harus sekian,” ulas Nandang menjawab kegalauan pemberian bantuan benih jagung hibrida mematikan pelaku usaha benih.

Ia mengakui realisasi bantuan benih terlambat karena beda pemahaman tentang Peraturan Menteri Keuangan No. 168/PMK.05/2015, l 3 September 2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian dan Lembaga. “Ada perbedaan pendapat apakah transfer uang atau barang. Itu menjadi masalah bagi dinas pertanian daerah sehingga ada kelambatan masa tanam,” urainya.

 

Tahun Kritis

Muhamad Saifi, National Sales Manager PT Shriram Seed Indonesia, produsen benih jagung hibrida merek B-54 Si Nyaman, B70 Si Kingkong, dan B-89 Si Bandel menjelaskan, mekanisme bantuan benih hibrida perlu banyak evaluasi. “Tahun lalu kenapa gagal? Tidak hanya karena El Nino, koordinasi, kesiapan di lapang, distrisbusinya, banyak hal yang tidak tuntas review-nya. Selain itu, rencana peningkatan produksi dari subsidi benih banyak yang belum dieksekusi. Masalahnya sekarang musim tanam. Kalau bantuan telat, petani pasti tanamnya telat karena mereka nggak bersiap,” sergahnya.

Tahun ini menjadi titik kritis pengembangan jagung ke depan. “Dalam dua bulan terakhir ini kita ngejar produksi. Sekarang ini puncaknya tanam September-Oktober karena di Jatim sedang tanam jagung,” tandasnya.  

Sementara Heriyanto, Ketua Kelompok Tani Harapan I Desa Rulung Mulya, Kec. Natar, Lampung Selatan, Lampung, mengaku, kelompoknya menerima bantuan benih jagung hibrida NK212 awal September lalu. Jumlahnya 360 kg untuk 24 ha. Padahal total luas lahan anggotanya 40 ha. Dari 9 kelompok petani jagung di desanya, 6 kelompok sudah menerima bantuan tahun sebelumnya dan sisanya menerima bantuan September lalu. Sebetulnya ia berharap bantuan benih turun awal tahun atau jelang musim tanam gadu pada April-Mei lalu sehingga bisa langsung ditanam.

Windi Listianingsih, Syafnijal Datuk Sinaro (Lampung) / 268

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE