15 November 2016
Saling Bersinergi Meningkatkan Produksi

Produksi jagung tahun ini ditargetkan mencapai 23,618 juta ton. Apa saja upaya yang dilakukan?

 

Dua tahun terakhir Kementerian Pertanian (Kementan) sangat gencar meningkatkan produksi jagung nasional. Tujuannya, mengurangi secara signifikan angka impor jagung pakan ternak yang menembus 3,6 juta ton pada 2015. Lebih jauh, pemerintah ingin Indonesia tergantung impor.

“Sampai hari ini impor kita 800 ribu ton yang tahun lalu 3,6 juta ton. Itu luar biasa,” ujar Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian di Jakarta, Senin (19/9). Hingga September 2015 impor jagung pakan mencapai 2,5 juta ton. Biasanya, kata Amran, impor naik 5% per tahun tapi sekarang turun 60%.

 

Nota Kesepahaman

Menurut Nandang Sunandar, Direktur Budidaya Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan, pemerintah memiliki tekad besar mengangkat produksi jagung nasional dengan program peningkatan luas areal tanam melalui Gerakan Pengembangan Jagung Hibrida menggunakan dana APBN seluas 1,2 juta ha dan Pengembangan Jagung di Lahan Khusus memanfaatkan dana APBN-P seluas 724 ribu ha. “Hingga Agustus 2016, penanaman lahan menggunakan APBN-P sudah berjalan sekitar 368 ribu ha,” ulasnya.

Pada Pengembangan Jagung di Lahan Khusus, Kementan bekerja sama dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman antara Dinas Pertanian Provinsi dengan GPMT yang ditandatangani pada 19 September 2016 di Jakarta. “Antara Kementan, Dinas Pertanian se-Indonesia, GPMT, dan kelompok tani bersinergi, kita bangun sistem. Ini solusi pertanian untuk jagung pakan ternak, ” papar Amran.

Menurut Amran, sebanyak 3,6 juta ton jagung pakan perlu lahan seluas 17 ribu ha. Ia menyiapkan sejuta ha lahan beserta anggaran Rp3,4 triliun untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak. Tahap pertama mengembangkan jagung seluas 724 ribu ha di 29 provinsi dengan target 3,5 juta ton emas pipilan.

“Kementerian mendorong kelompok tani memberi bantuan infrastruktur pertanian seperti irigasi, alat dan mesin pertanian. Kemudian melakukan pendampingan terus-menerus. Mudah-mudahan ke depan tidak impor,” tandasnya.

GPMT menyambut baik kerja sama ini. Beda dengan sebelumnya, ulas Desianto Budi Utomo, Sekjen GPMT, pemerintah ikut menggelontorkan dana dan GPMT dilibatkan sejak awal sehingga lebih tertata dan pasokan jagung lebih terjamin. “Kita support program pemerintah bekerja sama dengan dinas pertanian setempat. GPMT nggak punya akses langsung ke petani, kami melalui dinas dan gapoktan sehingga angkutannya efisien ke pabrik. Ada tujuan pemerintah memperpendek rantai pasok jagung,” paparnya sambil menjelaskan anggota GPMT ada 41 perusahaan dengan kepemilikan pabrik pakan mencapai 75 unit dan kebutuhan jagungnya mencapai 700 ribu ton/bulan.   

Sementara menurut Clifford Budiman, Business and System Development Director PT Rutan, produsen alsintan di Surabaya, pemerintah sebaiknya melibatkan swasta dalam pengembangan jagung, khususnya di lahan baru. Industri jagung bisa mencontoh kemitraan inti-plasma industri sawit. “Mengubah pertanian Indonesia menjadi skala industri seperti sawit. Kita eksportir sawit terbesar sedunia, swasta yang melakukan itu. Kenapa komoditas pangan tidak diperlakukan sama?” ia mengkritisi.

Jika swasta terlibat dalam pengembangan jagung nasional, mereka punya dana untuk investasi, pengetahuan, teknologi, dan jaringan ke luar sehingga biaya produksi lebih efisien, hasil panen lebih banyak, dan harga komoditas menjadi lebih rendah. Pemerintah berperan menjembatani kemitraan swasta dengan penduduk setempat atau petani lokal.

 

Sentra Utama

Lana Rekyanti, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung menjelaskan, produksi jagung di Lampung bakal meningkat setelah turun sejak 2013. Luas panen jagung mencapai 346.315 ha dengan produksi 1,76 juta ton pada 2013, menjadi 338.315 ha dengan produksi 1,72 juta ton pada 2014. Dan tahun lalu tinggal 293.521 ha dengan produksi 1,51 juta ton. Penurunan ini salah satunya karena dampak dari Program Upaya Khusus Padi di lahan gadu model seluas 10 ribu ha.

Tahun ini Lana memprediksi luas panen naik menjadi 343.441 ha dengan produksi 1,73 juta ton. Sebab, ada 31 ribu ha lahan di Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Metro yang ditanami jagung kembali dengan jatuhnya harga singkong. Selain itu, tersedia 55 ribu ha lahan khusus jagung di Kab. Way Kanan seluas 18.700 ha, Lampung Utara 3.700 ha, Mesuji 464 ha, Tulangbawang 207 ha, Lampung Selatan 95 ha, dan Pringsewu 641 ha.

Menurut Firtiani, Plt Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. Sulsel, penanaman jagung di Sulsel tersebar di lahan sawah dan lahan kering sebanyak 300 ribu ha serta lahan khusus 100 ribu ha. “Jika produktivitas 5 ton/ha, itu akan menghasilkan 2 juta ton jagung,” katanya. Mekanisasi ikut menaikkan indeks pertanaman menjadi 1,5 kali.

Di Jatim, kata Achmad Nurfalakhi, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Porv. Jatim, ada 1,319 juta ha area tanam jagung. Rinciannya, sekitar 864 ribu ha pada musim hujan dan 455 ribu saat musim kemarau. Produksinya lebih dari 6,5 juta ton/tahun. Perhutani Jatim juga menyiapkan 140 ribu ha lahan tanam jagung.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, luas tanam jagung hingga Agustus 2016 mencapai 4,372 juta ha. Berdasarkan perhitungan itu, BPS memprediksi produksi emas pipilan tahun ini sebesar 23,618 juta ton. Nandang optimis target itu akan tercapai. “Saya optimis di 23 juta ton, insya Allah,” tandasnya yakin. 

Windi Listianingsih, Syafnijal Datuk Sinaro (Lampung) / 268

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE