15 November 2016
Gonjang Ganjing Produksi dan Harga Jagung Nasional

“Komoditas jagung dalam negeri sering mengalami gonjang-ganjing dalam makna negatif. Produksi dan harga naik turun secara drastis yang mengakibatkan banyak pihak sulit menyesuaikan diri. Selanjutnya mereka berteriak-teriak meminta bantuan jalan keluar,” ungap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian period 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA.

Apa penyebab dan implikasi dari keadaan tersebut?

Naik turunnya harga karena musim merupakan hal lumrah. Namun naik turun secara drastis dan berulang-ulang menyulitkan banyak pihak untuk menyesuaikan diri. Ketidakstabilan seperti ini dalam jangka panjang membuat industri jagung nasional makin tidak punya daya saing. Hal itu juga berimplikasi sangat buruk pada industri perunggasan nasional, akhirnya berdampak terhadap penyediaan protein hewani murah dan sehat yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Beberapa hal mendasar penyebab gonjang-ganjing adalah sikap para petani, pengusaha, dan pemerintah yang reaktif terhadap suatu persoalan dan hanya memikirkan solusi jangka pendek dan mikro, jarang berperspektif jangka panjang dan berwawasan makro apalagi global. Bahkan pemerintah sering hanya memberi solusi secara reaktif terhadap tuntutan stakeholder tertentu. Sebaiknya kita mencari solusi jangka pendek tapi mengaitkannya dengan strategi dan program jangka menengah dan panjang yang komprehensif. Tujuannya untuk meningkatkan daya saing industri jagung nasional.

Bagaimana dengan monopoli impor jagung oleh Perum Bulog?

Keadaan gonjang-ganjing membuat pemerintah sangat nervous dan semakin ingin terlibat langsung dalam praktik bisnis yang seharusnya dapat dilakukan dengan baik oleh para pengusaha. Pemerintah memberikan kekuasaan lebih besar kepada Bulog dengan sumber daya finansial yang terbatas dan SDM kurang berpengalaman. Hal ini menambah sumber gonjang-ganjing baru dan tanda-tandanya sudah mulai kelihatan. Di samping memberikan peranan lebih besar bahkan monopoli importasi jagung kepada Bulog, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menjanjikan alokasi dana lebih besar untuk komoditas jagung. Kita tidak tahu dana seperti ini apakah bersifat ad hoc atau sistematis dan berkelanjutan?

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 12 Edisi No. 268 yang terbit pada Oktober 2016. Atau klik di www.scanie.com/featured/agrina.html,https://www.wayang.co.id/index.php/majalah/agrina

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE