26 October 2009
Walau Berlebih Benih Masih Impor

Kue dari bisnis benih sawit diperebutkan 8 perusahaan lama dan 3 pendatang baru.

Saat ini, produksi benih sawit dalam negeri yang dihasilkan dari 8 perusahaan sudah melampaui dari kebutuhan nasional. Delapan produsen itu adalah PPKS, PT Lonsum, PT Socfin Indonesia, Sampoerna Agro Tbk, PT Dami Mas Sejahtera, PT Tunggal Yunus Estate, PT Tania Selatan, dan PT Bakti Tani Nusantara “Dengan 8 perusahaan sumber benih yang ada, kemampuan penyediaan benih sawit sudah melampaui permintaan. Kapasitas produksinya mencapai 220 juta butir per tahun,” ungkap Achmad Mangga Barani, Dirjen Perkebunan.

Untuk itu mengerem produksi dilakukan pengurangan polinasi. “Sekarang polinasi hanya 70%—75%. Itu sebabnya, kita juga izinkan ekspor benih,” tambah Mangga Barani. Polinasi dilakukan berdasarkan kebutuhan yang hanya sekitar 140 juta butir per tahun. Sedangkan poduksi saat ini sudah mencapai 152 juta butir.

Meski tampaknya sudah jenuh, tercatat tiga perusahaan penyedia benih baru, yaitu PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk, PT Sarana Inti Pratama, dan PT Sasaran Ehsan Mekarsari. Potensi produksi ketiga perusahaan itu sekitar 60 juta—70 juta benih per tahun yang diharapkan menjadi sumber benih awal 2010.

Melihat potensi suplai benih tersebut, Dirjen Perkebunan mengizinkan ekspor benih sebanyak 20 juta butir setahun. Namun ia juga mengizinkan impor, “Supaya balanced, impor tak boleh lebih dari 20 juta butir. Untuk menjaga hal-hal lain, masih ada cadangan sekitar 10 juta butir.”

Sempat Drop

Sementara menurut Dwi Asmono, Ketua Forum Komunikasi Produsen Benih Sawit, penyerapan benih hingga akhir 2009 diperkirakan sekitar 109 juta butir. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun lalu yang hampir mencapai 157 juta benih. “Kondisi krisis memang sempat drop. Saat krisis, perusahaan sudah punya benih. Setelah itu perusahaan mulai tanam benih dari masa krisis. Umur benih sampai tanam ‘kan 12 bulan, dan ini bisa ditahan sampai 18 bulan,” jelasnya.

Dwi menambahkan, jika kedelapan produsen benih menggenjot produksinya, maka suplainya bisa mencapai 215 juta benih. “Ini artinya semua mengeksploitasi seed garden, mengaktifkan seed processing-nya, bisa mencapai segitu,” katanya.

Di tempat terpisah, Arie Malangyudo, Vice President Director PT Sasaran Ehsan Mekarsari (SEM), si pendatang baru menyoroti masih beredarnya benih palsu. Ia berharap, ke depan perbaikan dan pengawasan peredaran benih harus semakin diperketat. Disamping itu, perlu juga sosialisasi kepada masyarakat pekebun untuk memahami risiko ekonomis atas penggunaan benih palsu. “Sebab yang menjadi korban atas beredarnya benih palsu ini umumnya petani, juga terjadi pada perkebunan besar,” katanya.

Semakin Ketat

Melihat gambaran permintaan dan suplai benih sawit, tampaknya persaingan bisnis menjadi cukup ketat. Apalagi dengan masuknya tiga perusahaan baru ke kancah nasional. Ketika ditanya tentang persaingan pemasaran benih, Dwi Asmono mengatakan, tergantung si produsen masuk ke industri ini untuk apa, pure seed business atau atau sebagai bagian dari oil palm based industry. “Setiap perusahaan pasti punya reason masing-masing,” tandas Direktur R & D PT Sampoerna Agro Tbk. Ini.

Sampoerna, imbuh dia, tidak menganggap seed bussiness sebagai suatu bisnis yang yang independen. “Fungsi perbenihan kita untuk memberikan the best seed untuk company kita. Itu nomor satu,” jelas pemulia benih ini. Selebihnya, Sampoerna menjualnya untuk perusahaan perkebunan lain dan juga petani.

Sementara itu pendatang baru SEM yang merupakan patungan Indonesia-Malaysia memandang, beredarnya benih palsu sebagai indikasi masih belum mencukupinya pasokan benih. “PT Sasaran Ehsan Mekarsari  melalui  sistem waralaba akan merupakan partisipasi yang positif dalam rangka mengisi kekurangan ini sekaligus ikut menekan beredarnya benih palsu,” terang Arie.

Lebih jauh Arie menambahkan, pola waralaba sudah dilakukan sejak tahun lalu. “Pasar kami pada awalnya adalah kebun yang berafiliasi dengan perusahaan dan beberapa kebun rakyat di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Riau, Bengkulu dan Indonesia Timur.  Namun kini, banyak perusahaan asing dari Thailand dan Malaysia yang membeli,” jelasnya. Dua varietas yang dilepas di pasaran saat ini adalah SUPRA D x P dan Varietas SEU D x P. Kedua varitas ini berasal dari sumber induknya di Malaysia.

Arie mengklaim, varietas andalan tersebut merupakan benih asal Malaysia yang banyak diminati pekebun Indonesia. “Dahulu mereka perlu bersusah payah melakukan impor sendiri langsung dari Malaysia. Dengan adanya PT Sasaran Ehsan Mekarsari, mereka cukup datang ke Jakarta,” katanya.

Beda dengan Sampoerna Agro. Petani yang membeli benih produksi perusahaan ini tidaklah sulit, cukup memesan melalui surat atau email. “Tak ada ketentuan khusus. Berapa pun kita layani dan akan kita kirim. Cuma memang ada ideal minimal packing. Bagi petani mudah kok mengaksesnya,“ terang Dwi.

Sampai saat ini terdapat 32 varietas benih unggul dari 8 produsen benih, 6 varietas di antaranya produksi Sampoerna. Dwi menambahkan, jika petani membeli benih dari pihaknya, maka petani akan diberi pendampingan secara cuma-cuma. “Kalau petani belum berpengalaman, kita bisa kirimkan pendampingan di awal tanam. Kalau sudah berpengalaman, bisa di tengah siklus budidaya. Ini karena kita juga berkewajiban memonitor performance kualitas benih yang kita rilis,” jelasnya.

Tak mau kalah dengan Sampoerna, SEM yang memfokuskan diri pada subsegmen perkebunan rakyat, pun menawarkan dukungan penuh bagi pelanggannya. Jadi, sudah sesakkah bisnis benih sawit saat ini?

Tri Mardi Rasa, Dadang WI, Peni SP, Selamet R.

 





 

Suara Agribisnis
Membangun Kembali Koperasi Pertanian
Struktur Kementerian Pertanian 2014 – 2019

Usaha Tani
Mulai Hidup Baru dari Jeruk
Industri Unggas Butuh Jagung Lebih Banyak
Harga Seimbang, Petani Tenang

Wisata
WISATA : Piknik di Pekarangan Belakang Rumah
RESTO : Gurihnya Pindang Ikan Toman Khas Jambi

Khasiat
Waspada Obat Kuat Ilegal
Akhirnya Anes Rajin Konsumsi Bio HSA

Hobi dan Resto
Memperindah Taman dengan Pergola Anggur
Membungakan Anggrek Bulan di Pekarangan