02 March 2010
Belajar di Kebun Peruri

Rekor MURI mencatat produksi jagung manis tertinggi 26,5 ton per ha. Bagaimana teknologi SMS mewujudkannya?

Penerapan teknologi Simbiosis Mutualisme Sistem (SMS) temuan David Andi Purnama dapat dilihat di Kebun Training Center Perum Peruri di Dusun Saptamarga, Desa Sirnabaya, Kec. Telukjambe Timur, Kab. Karawang, Jabar.

Di lahan seluas 10 ha itu terhampar pertanaman jagung manis varietas Bonanza seluas 4,5 ha. Di dekatnya berdiri kandang sapi potong yang berisi 38 ekor lengkap dengan unit produksi biogas. Sapi ini mulai dipelihara ketika tanaman jagung berumur 60 hari sehingga rompesan daunnya bisa digunakan untuk pakan. Tentunya setelah daun dan batang tanaman dicacah dengan chopper. Sisa lahan belum dimanfaatkan lantaran tidak ada sumber air sehingga menunggu pembangunan saluran air.

Tiga Kunci Sukses

Tanah di kebun tersebut terbilang tidak subur. Terbukti beberapa pihak mencoba bertanam di sana tak berhasil. Tanah tersebut banyak mengandung debu, tidak dapat menyimpan air sehingga kalau hujan menjadi lengket. Untuk menjadikannya produktif, Bini Sumarsono, salah satu petani Jember andalan David Andi membeberkan rahasianya.

Hal pertama adalah mempersiapkan tenaga kerja yang bersedia melaksanakan pekerjaan dengan serius, tekun, dan bertekad mau berhasil. Jadi diperlukan petani ahli, bukan ahli berteori untuk menjelaskan kegagalan panen. Di samping lahan tersebut terdapat saluran pembuangan air, sekitar 3 m dalamnya. Air buangan dialirkan ke tempat penampungan khusus agar dapat dipompa untuk mengairi tanaman pada saat diperlukan.

Ternyata jumlah air dari saluran drainase tersebut memadai untuk mengairi seluruh areal tanaman selama musim kemarau. Untuk mengalirkan air digunakan pompa air jinjing 3 inci berbahan bakar solar dengan kapasitas 30 m3 per jam. Kebetulan lahan pertanaman jagung itu agak miring. Sehingga air dimasukkan ke daerah paling tinggi lalu mengalir secara gravitasi ke tempat yang lebih rendah. Agar daya simpan air lebih lama, dibuat sekat-sekat untuk menampung air dalam petakan jagung.

“Tiga poin penting, yaitu penempatan air yang benar, guludan tipis dan dangkal. Mula-mula lahan diolah dengan traktor. Kita cetak petakan, bikin paliran, lalu diberi kompos 5 ton per hektar. Kompos ini campuran kotoran sapi dan kotoran ayam,” Bini menjawab AGRINA.

Tanah kemudian diairi lalu disemprot dengan probiotik berdosis 5 tetes per liter air. Dalam satu hektar diperlukan 20 tangki larutan semprot. Keesokan harinya, benih jagung manis ditanam dengan jarak 100 cm x 60 cm x 12,5 cm (populasi 100 ribu tanaman per ha). Berdasarkan pengalaman Bini, tingkat kematian tanaman berkisar 12,5%. Itu menyulamnya, lima hari sebelum tanam di lapangan, harus disiapkan pula bibit sulaman di polibag. Jadi, begitu terlihat tanaman tidak tumbuh dengan baik, segera diganti.

Sebelum tanam, benih direndam minimal tiga jam dengan Cruiser, produk perlakuan benih keluaran Syngenta. Selain mencegah serangan hama pada benih, insektisida ini dapat merangsang pertumbuhan benih.

Pertanaman dibuat menghadap ke timur untuk menangkap sinar matahari sebanyak-banyaknya. Satu baris terdiri dari dua batang. “Hari ketiga diairi lagi di paliran. Pada hari keempat, benih mulai tumbuh sehingga air perlu dimasukkan lagi. Hari kelima benih tumbuh semua,” terang Bini yang sudah kenyang memberi pelatihan hingga ke Merauke ini.

Menginjak umur dua minggu, pengairan dilakukan tiap lima hari. Jumlah air yang dibutuhkan pada lahan ini lima kali lipat dibandingkan lahan normal. Sekitar 900 ton air setiap hari membasahi 4 ha lahan yang sudah ditanami jagung. Anggaran pengairan memang membengkak saat musim kemarau lalu.

Pembumbunan juga penting dilakukan sewaktu umur 20 hari. “Bumbun ini harus tipis dan dangkal sekitar 10 cm bila musim kemarau, sedangkan pas penghujan 25 cm. Kalau terlalu tebal, tanaman jadi kerdil karena tanahnya berdebu tidak mengikat air sehingga akar tidak terkena air,” lanjut Bini. 

Perawatan lain

Di samping pengairan, pemupukan perlu dilakukan dengan tepat. Berdasarkan pengalaman Bini, lahan gersang ini tidak mau dipupuk dengan cara ditugal tetapi mesti dilarutkan dalam air lantas dikocorkan. Dosisnya, NPK 2 g dan urea 2 g per tanaman.

Pemupukan pertama itu dilaksanakan ketika tanaman berumur 14 hari. Pupuk kedua, hanya urea 2 g per tanaman, dimasukkan pada umur 32 hari. Untuk mencegah infeksi cendawan, diaplikasikan fungisida Amistartop sewaktu umur 20 hari dan 30 hari. Terutama cendawan di batang. “Kalau cendawan di daun masih ada harapan panen, tapi kalau di batang bisa mematahkan batang sehingga tanaman mati,” jelas Bini.

Perawatan lainnya, aplikasi probiotik mulai umur 7 hari dengan selang 7 hari hingga panen. Aplikasi pertama dibarengi insektisida Alika 1 ml per liter air untuk mengatasi ulat. Umur 14 hari, dicek lagi apakah ulat masih banyak. Bila banyak, Alika masih diperlukan. Tujuh hari kemudian kalau ulat tidak banyak lagi, aplikasi insektisida dihentikan. Pengendalian ulat cukup dengan “cap jempol” alias secara manual. Secara total, aplikasi pestisida dihentikan 15 hari sebelum panen sehingga jagung hasil panen tidak mengandung residu yang berbahaya bagi konsumen. Apalagi ke depan jagung manis ini akan difungsikan sebagai buah, bukan sayuran, sehingga bakal dikonsumsi dalam kondisi mentah.

Dengan cara seperti itu, pada musim pertama produksi mencapai 18 ton per ha. Pada musim tanam kedua terjadi kenaikan produksi sampai 26,5 ton per ha lantaran kondisi tanah sudah lebih baik dengan pemupukan kotoran sapi dan jumlah tanaman yang bertahan hidup juga lebih banyak, 87.600 tanaman. Jagung yang dipanen umur 72 hari ini sungguh manis dengan nilai briks 20.

Jumlah produksi itu jelas jauh di atas klaim produsen benihnya yang paling banyak 15 ton. Bila biaya produksi sekitar Rp20 juta per ha, harga jual jagung Rp3.000 per kg, tinggal hitung laba yang masuk kocek. Itu belum termasuk pendapatan dari penjualan sapi hasil penggemukan. Sampai akhir Februari lalu, sapi belum dipanen. Selain itu juga belum dihitung nilai tambah dari pemanfaatan biogas. 

Peni SP, Untung Jaya

 





 

Suara Agribisnis
Potensi Besar Koperasi Sawit Rakyat
Pengembangan Agribisnis Ayam dalam MEA

Usaha Tani
Hemat Listrik di Kandang Tertutup
Impor Susu Bukan Solusi
Aroma Kakao Kembali Gairahkan Petani

Wisata
WISATA : Piknik di Pekarangan Belakang Rumah
RESTO : Gurihnya Pindang Ikan Toman Khas Jambi

Khasiat
Amirul Haq Terbebas dari Pilek Menahun
Si Temu Pelawan Kanker

Hobi dan Resto
Memperindah Taman dengan Pergola Anggur
Membungakan Anggrek Bulan di Pekarangan