11 October 2010
Perang Melawan Anomali Iklim

Dampak musim “kemarau basah” ternyata juga merepotkan peternak unggas. Penyakit pernapasan menjadi perhatian utama mereka.

 Kekawatiran peternak unggas terhadap musim yang semestinya kemarau ini diungkap Sugeng, peternak broiler asal Bogor, Jabar.  “Pergantian musim yang tidak menentu saat ini berperan meningkatkan penyakit pernapasan pada unggas,” ujarnya. Newcastle Disease (ND) alias tetelo dan Avian Influenza (AI) atau flu burung tak pernah berhenti menjadi bahan pembicaraan penyakit unggas. Kedua penyakit tersebut menyerang saluran pernapasan dan bersifat akut serta mudah sekali menular. 

Menurut Edy Purwoko, Presiden Direktur CEVA Animal Health Indonesia, sepanjang tahun ini penyakit yang lebih banyak menyerang broiler pada musim hujan adalah ND, AI, Chronic Respiratory Disease (CRD), dan Gumboro, sedangkan pada layer lebih banyak terserang IB, mikoplasma, dan coryza. Penyakit-penyakit tersebut menyerang saat musim hujan karena kelembapan lebih tinggi dan kurangnya sinar matahari.  

Senada dengan Edy, Wayan Wiryawan, Technical Advisor Malindo Group pun membenarkan peningkatan kasus ND, AI, dan penyakit pernapasan lain di lapangan. Bahkan pada broiler cenderung terjadi peningkatan kasus nekrotik enteritis (NE), kolikobasilosis, dan salmonellosis. Hal itu, menurut Wayan, lantaran perubahan temperatur lingkungan yang ekstrem, siang hari panas dan sore harinya hujan, membuat ayam jadi lebih mudah stres dan lebih rentan terhadap infeksi agen penyakit. Khususnya salmonellosis mengganggu fungsi pencernaan sehingga peternak mengalami kerugian akibat meningkatnya konversi pakan (FCR).

Biosekuriti

Untuk menghindari penyakit-penyakit itu, “Pencegahan utama yang harus dilakukan ialah dengan meningkatkan biosekuriti pada semua level pemeliharaan unggas, dan harus dilakukan secara berkelanjutan serta tidak hanya bergantung pada musim. Seperti halnya penyakit AI dapat menyerang kapan saja dan tidak mengenal musim,” saran Edy.

Hal yang sama juga dianjurkan Wayan. Untuk mencegah timbulnya wabah penyakit ke dalam kawasan peternakan, hal terpenting yang wajib dilakukan adalah meningkatkan biosekuriti pada semua strata, dikerjakan secara berkesinambungan dan konsisten. Ia menambahkan, biosekuriti merupakan pertahanan terdepan untuk mencegah hewan ternak dari serangan agen penyakit yang bersifat infeksius.

Langkah-langkah praktisnya di lapangan berupa (1) pembatasan lalu lintas orang masuk ke dalam lokasi peternakan, (2) mencegah lalu lintas ternak atau unggas eksotik masuk ke dalam lokasi peternakan, (3) sanitasi dan disinfeksi semua jenis peralatan peternakan sebelum dimasukkan ke dalam lokasi peternakan, (4) sanitasi dan disinfeksi kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan, (5) senantiasa menjaga kebersihan lingkungan kandang dan peternakan, serta (6) melakukan disinfeksi secara berkala di dalam maupun sekitar kandang.

Wayan pun menyarankan kepada peternak Malindo untuk senantiasa konsisten menjalankan praktik budidaya peternakan yang baik (good farming practises-GMP) pada semua aspek manajemen dan tentu harus didukung dengan pemberian program kesehatan dan vaksinasi, sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan.

Sedangkan mitra CEVA, “Lebih fokus pada hatchery vaksinasi broiler untuk ND dan Gumboro. Kedua vaksinasi di hatchery tersebut sangat membantu di segala musim karena dilakukan lebih awal di hatchery,” terang Edy yang melayani industri pembibitan (breeding).

Vaksinasi hatchery dilakukan secara massal. Seorang vaksinator dapat memvaksinasi 10.000—15.000 ekor DOC per hari. Vaksinasi pada DOC ini dilakukan untuk meredam tingkat stres pada ayam. ”Secara umum vaksin di kandang diberikan pada umur 4 hari, dan hal itu dapat membuat ayam stres karena pemanas dimatikan, ayam dikumpulkan atau digiring menjadi satu. Jika pelaksanaannya membutuhkan waktu minimal 5 jam, maka ayam tidak makan dan minum selama waktu tersebut sehingga dapat mengalami stres,” jelas Edy lebih jauh.

Membandingkan kondisi 2009, menurut Edy, performa broiler tahun ini lebih bagus karena tingkat serangan ND dan AI relatif lebih ringan. Karena itu, “Meskipun belakangan ini beberapa penyakit menyerang unggas, namun peternak masih untung walaupun tidak sesuai dengan harapan peternak,” pungkas Sugeng.

Mahmudah

 





 

Suara Agribisnis
Membangun Agribisnis Sawit Berkelanjutan
Bangun Kerjasama ASEAN dalam MEA

Usaha Tani
Pemerintah Harus Optimalkan BBN
Mencermati Ancaman Resistensi
Mendulang Rupiah Bersama Si Patin

Wisata
WISATA : Piknik di Pekarangan Belakang Rumah
RESTO : Gurihnya Pindang Ikan Toman Khas Jambi

Khasiat
Benjolan Akibat Kontrasepsi Bisa Sembuh
Kembali Sehat Berkat Gamat

Hobi dan Resto
Memperindah Taman dengan Pergola Anggur
Membungakan Anggrek Bulan di Pekarangan