18 December 2011
INOVASI : DK 95 Menjawab Tantangan Bulai dengan Hasil Tetap Tinggi

Problem utama yang sangat meresahkan petani jagung adalah serangan penyakit bulai di hampir seluruh sentra penanaman. Benih jagung hibrida DK 95 dapat menjawab permasalahan tersebut.

Tantangan yang dihadapi petani jagung dari hari ke hari semakin berat. Kondisi lahan kian kritis ditambah cuaca tidak menentu belakangan ini memerlukan penerapan teknik budidaya jagung yang tepat agar tetap berhasil. Penggunaan benih unggul dengan produksi tinggi dan tahan terhadap penyakit, serta langkah pencegahan serangan penyakit sejak dini mutlak dilakukan secara tepat.

Hal tersebut mengemuka dalam acara panen perdana benih jagung hibrida Dekalb­ 95 atau DK 95 produksi Monsanto Indonesia di Tuban, Jawa Timur (9/12). Menurut Heru Sucahyo, Area Sales Manager Monsanto, sosialisasi benih jagung hibrida DK 95 sudah dilakukan sejak September 2011 di beberapa tempat. Sosialisasi tersebut meliputi demplot, farmer meeting, dan kunjungan lapangan.  “DK 95 sendiri merupakan produk baru Monsanto dan diperkenalkan di Jawa Timur seperti Tuban, Mojokerto, Jombang, Bojonegoro, dan Lamongan,” jelas Heru.

Panen perdana yang meriah tersebut dihadiri sekitar 200 orang petani. Selain mereka,  Kepala Desa Wadung, Kec. Jenu, Tuban, penebas (pedagang pengepul), Unit Pelaksana Teknis Badan (UPTB) Kec. Jenu, dan distributor benih jagung hibrida DK 95 juga ikut menyaksikannya.

Lebih Unggul

Benih jagung hibrida terbaru Monsanto ini menawarkan banyak keunggulan di antaranya kekokohan tanaman yang baik, potensi hasil tinggi, dan rendemennya juga tinggi. “Tahun lalu pada musim hujan rata-rata 12 ton per ha, dan yang tertinggi 12,63 ton,” ungkap Heru. Dibandingkan benih jagung lain yang banyak digunakan petani di Tuban, varietas anyar ini menghasilkan 1,7 ton lebih tinggi. Hal ini menunjukkan, DK 95 sangat potensial dikembangkan di daerah tersebut.

Benih jagung hibrida DK 95 juga relatif lebih toleran penyakit dibandingkan varietas lain, terutama terhadap penyakit bulai yang disebabkan cendawan Peronosclerospora maydis. DK 95 juga toleran terhadap penyakit daun seperti busuk pelepah dan karat daun, serta toleran terhadap penyakit busuk tongkol.

Sebagai perusahan benih skala international, Monsanto sangat peduli terhadap peningkatan ketahanan pangan di seluruh dunia. Salah satu komitmennya dalam mendukung kesinambungan pertanian dan meningkatkan taraf hidup petani melalui kepastian kualitas hasil. Monsanto secara khusus mengembangkan teknologi perlakuan benih terbaru Acceleron dalam benih jagung hibrida DK 95 untuk menanggulangi kondisi iklim dan serangan bulai.

Teknologi dan inovasi Monsanto ini sangat mendukung kerja petani di Tuban dan juga di seluruh dunia agar panen mereka berkesinambungan dan menghasilkan produk pertanian yang semakin berkualitas dan lebih sehat. Pengenalan teknologi ini sangat tepat karena produksi jagung nasional cukup terganggu oleh anomali iklim dan serangan penyakit bulai yang merata di daerah sentra penanaman jagung di Indonesia.

Menguntungkan Petani

Meskipun relatif baru diperkenalkan, antusiasme petani Tuban terhadap benih jagung hibrida DK 95 sangat tinggi. Luas tanam yang menggunakan benih jagung ini sekarang sudah mencapai 8.000 – 10.000 ha. “Jika rata-rata kepemilikan lahannya sekitar seperempat hektar, maka ada sekitar 32.000 petani, sangat luar biasa,” komentar Heru bangga.

Sementara itu, Bajuri, petani jagung di Desa Wadung, Jenu, Tuban, Jawa Timur,  mengaku sangat senang dengan hasil produksi DK 95 karena sangat menguntungkan. “Jagung DK 95 bagus, hasil akhir sangat bagusi. Tujuan saya sebagai petani mencari keuntungan yang banyak. Dengan potensi yang tinggi, jelas saya akan terus menanam menggunakan benih tersebut,” tuturnya.

Menurut Bajuri, bila menanam jagung varietas lain untuk luasan seperempat hektar dibutuhkan benih sebanyak 5 kg. Namun, kalau menggunakan DK 95, cukup 4 kg.  “Dari penggunaan benih lebih menguntungkan. Dengan benih lebih sedikit, hasilnya lebih tinggi tentu keuntungannya berlipat,” tegasnya.

Masih menurut Bajuri, hampir tidak pernah ada kendala berarti selama menanam benih jagung hibrida DK 95. Metode tanamnya tanpa olah tanah (TOT) sehingga menghemat tenaga kerja dan biaya pengolahan tanah. Jarak tanamnya 70 cm x 20 cm. “Saya gunakan jarak tersebut agar aliran udara lebih baik. Jika terlalu rapat, bisa mengakibatkan kelembapan tinggi sehingga mudah terserang bulai. Jika ada aliran udaranya mudah-mudahan bisa dikendalikan,” katanya.

Hasil panen Bajuri lebih banyak diminta pengepul karena mereka sudah tahu produksi jagungnya bagus. Walhasil, Bajuri dan teman-temannya yang juga menanam benih jagung hibrida DK 95 tidak mengalami kesulitan dalam menjual hasil panen mereka. “Pengepul atau pembeli sudah melihat sendiri hasil akhrnya dan mereka sangat senang dengan mutu jagungnya,” imbuhnya. Apalagi Monsanto juga memfasilitasi petani agar bisa terhubung dengan pasar atau pihak-pihak yang membutuhkan jagung sehingga mereka bisa menjual langsung ke pengguna.

Heru Sucahyo menambahkan, pihaknya melakukan pengawalan budidaya terkait penggunaan benih jagung hibrida DK 95 dan selalu bekerja sama dengan petani untuk demplot dalam berbagai luasan lahan. “Kami juga memiliki program seperti Dekalb Learning  Center, yaitu lahan dengan luas kurang lebih satu hektar yang menggunakan teknologi jarak tanam, uji pupuk, dan uji varietas yang lokasinya ada di Tuban,” jelas Heru.

Sementara itu, Satriyo Nugroho Kurniawan, Marketing Development Manager Monsanto, berharap, musim ini dan ke depan cuaca bisa kembali normal karena 60 persen produksi pertanian tergantung hujan. “Mudah-mudahan pada Februari nanti hujan masih tetap stabil sehingga petani bisa mendapatkan hasil lebih baik dan tetap bisa jualan jagung,” kata Satriyo.***





 

Suara Agribisnis
Membangun Agribisnis Sawit Berkelanjutan
Bangun Kerjasama ASEAN dalam MEA

Usaha Tani
Pemerintah Harus Optimalkan BBN
Mencermati Ancaman Resistensi
Mendulang Rupiah Bersama Si Patin

Wisata
WISATA : Piknik di Pekarangan Belakang Rumah
RESTO : Gurihnya Pindang Ikan Toman Khas Jambi

Khasiat
Benjolan Akibat Kontrasepsi Bisa Sembuh
Kembali Sehat Berkat Gamat

Hobi dan Resto
Memperindah Taman dengan Pergola Anggur
Membungakan Anggrek Bulan di Pekarangan