06 February 2012
Harusnya Seperti Bermain Akordeon

Setelah kuota impor sapi diturunkan, feedlot harus menyerap sapi lokal. Namun si lokal ini sulit dicari, seperti lantunan Ayu Ting Ting, “di mana, di mana, di mana”.

Merujuk tahapan Program Swasembada Daging Sapi 2012 dan menimbang hasil sensus sapi 2011, pemerintah menurunkan kuota impor sapi bakalan cukup drastis.  Dari realisasi 2011 yang 400 ribu lebih sedikit, kuota dipangkas menjadi 283 ribu atau hampir 30% untuk 2012. Sementara pemangkasan tak kurang besar juga terjadi pada jatah impor daging, dari 90 ribu ton menjadi cuma 34 ribu ton.

Langkah pemerintah ini membuat kalang kabut pelaku bisnis penggemukan sapi (feedlot) maupun importir daging. Gambarannya, jatah impor sapi kuartal pertama sebanyak 60 ribu ekor diperebutkan 17 importir. Jadi, yang biasanya sebulan mengimpor 40 ribu ekor, bisa saja hanya memperoleh 60 ribu ekor untuk tiga bulan. Feedlot mau tidak mau harus menyerap sapi lokal kalau tidak ingin kandang mereka melompong. Meski menurut hitungan pemerintah tahun ini potensi stok ada 3 juta ekor, toh tak mudah mencarinya.

Suplai Seret

Kesulitan mencari sapi lokal dikonfirmasi Dayan Antoni PA, Asisten Presiden Direktur PT Santosa Agrindo, feedlot yang memiliki peternakan di Lampung dan Probolinggo, Jatim. Jangankan untuk mengisi peternakan di Lampung yang berkapasitas sekitar 40 ribu ekor, peternakan Probolinggo yang lebih kecil pun sulit. “Di sana butuh 1.000 ekor per bulan, nggak bisa dapat (segitu),” ungkapnya kepada AGRINA.

Sebagai gudang sapi terbesar nasional, sambung Dayan, Jawa Timur menolak sapi impor, sementara sapi-sapi lokalnya yang bagus menyeberang ke Kalimantan dan Sumatera dibeli pedagang berkantong tebal. Sedangkan sapi betinanya diserap pebisnis dari daerah Jawa Barat. “Saat ini yang tersisa hanya sapi-sapi muda jantan, itu pun harganya sudah tinggi,” papar Koordinator Dewan Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) ini.

Hal senada dilontarkan Didiek Purwanto, Direktur Produksi PT Great Giant Livestock Coy, feedlot di Lampung saat menerima Asosiasi Sarjana Membangun Desa (SMD) pertengahan Januari silam. “Kita memang mulai mengembangkan sapi lokal dan kita mengalami kesulitan untuk mendapatkannya,” urai pengelola penggemukan sapi berkapasitas 30 ribu ekor sapi ini

Karnadi Winaga, pemilik PT Karya Anugerah Rumpin (KAR), pembibitan dan penggemukan sapi potong di Bogor pun ikut merasakan naiknya harga sapi lokal. Menurut Karnadi, harga pasaran sapi lokal dengan bobot sekitar 350 kg yang jantan berkisar Rp27.500–Rp28.000/kg, sedangkan betina dipatok Rp25.000/kg bobot hidup.

Perlu Diatur

Seretnya pasokan bakalan sapi lokal tak terlepas dari struktur populasi sapi yang didominasi sapi betina, 68,15%. Kalkulasi Dayan dan koleganya di Apfindo, dengan mempertimbangkan populasi jantan dewasa 1,8 juta ekor dan karkas tidak dipukul rata 51% karena karkas sapi perah dan kerbau jauh lebih kecil, tahun ini ada kekurangan pasokan 144 ribu ton daging, bukan 83 ribu ton. Berkurangnya pangsa impor itu perlu ditambal dari lokal 30 ribu ekor per bulan. Sementara Asosiasi SMD hanya sanggup menyuplai 11 ribu ekor per bulan.

Kelangkaan sapi jantan lokal layak potong, imbuh Dayan, juga terkait dengan jumlah impor bakalan yang mulai menurun pada 2010. Sebagai kompensasi, stok sapi jantan lokal banyak diserap. Yang tersisa adalah sapi betina dan jantan muda. “Kemungkinan dua tahun lagi baru siap dipotong, nah siklus ini yang memang harus dipelajari,” tuturnya.

Pemerintah, kata Dayan, sebaiknya mengatur volume impor seperti akordeon. Saat populasi lokal jantan masih muda, impor sapi diperbesar. Nanti ketika yang siap potong banyak, impor diturunkan. Begitu seterusnya sembari menumbuhkan populasi lokal sampai benar-benar mampu memenuhi kebutuhan.

Yuwono Ibnu Nugroho, Peni SP, Isman (Yogyakarta)





 

Suara Agribisnis
Transformasi Revolusioner Tamigas ke Agribisnis
Transformasi Revolusioner Tamigas ke Agribisnis

Usaha Tani
Siap Merebut Kue MEA
Imbuhan Pakan, Pelihara Kesehatan Pencernaan
Ayam Bongsor Bukan karena Hormon

Wisata
WISATA : Piknik di Pekarangan Belakang Rumah
RESTO : Gurihnya Pindang Ikan Toman Khas Jambi

Khasiat
Suhaimi Tak Jadi Operasi Otak
Napas Lega dengan Bio HSA

Hobi dan Resto
Memperindah Taman dengan Pergola Anggur
Membungakan Anggrek Bulan di Pekarangan