16 April 2012
Mengusung Industri Sawit Berkelanjutan

PT Citra Borneo Indah mengembangkan industri sawit berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan orangutan.

Saat ini Indonesia telah berkembang menjadi negara produsen minyak sawit mentah (crude palm oil-CPO) terbesar di dunia. Posisi tersebut mengungguli Malaysia sejak 2008 sebagai negara produsen CPO terbesar di dunia. Hal itu ditandai dengan meningkatnya produksi CPO pada 2008 mencapai 19,2 juta ton. Sementara total produksi CPO Malaysia 17,8 juta ton. Hal itu tidak terlepas dari revolusi perkembangan kebun sawit di Indonesia. Pada 2000 hanya ada 2 juta ha sawit, dan dalam tempo 4 tahun menjadi 4 juta ha. Dan sekarang 2012, luasnya sudah 8,5 juta ha.

Seiring perkembangan tersebut sawit sering kali mendapat serangan. Awalnya dikatakan bahwa minyak sawit tidak baik untuk kesehatan, tetapi hasil penelitian membantah hal tersebut. Lalu diserang sebagai perusak lingkungan, sampai-sampai konsumen di Amerika Serikat dan Eropa menolak untuk membeli CPO kita. Malah ada yang mengklaim sawit kita menyengsarakan orangutan.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan

“Hal itu tidak sepenuhnya benar. Besar kemungkinan hal itu perang dagang dari produsen minyak nabati lain. Sebagaimana kita ketahui bahwa perkebunan sawit dapat menghasilkan minyak nabati dengan sangat efisien,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Ketua Pembina Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS). 

Lebih jauh, jelas Bungaran, yang paling utama penyebab kesengsaraan orangutan itu karena rumahnya, yaitu hutan, rusak. Hal itu dapat disebabkan oleh illegal logging dan pembukaan hutan untuk tambang dan perkebunan. Dan lebih parah lagi adalah kebakaran hutan yang dapat menyebabkan orangutan ikut terbunuh lantaran mereka relatif lambat untuk menyelamatkan diri.

“Kepedulian perusahaan kelapa sawit terhadap kelestarian orangutan masih kurang karena mereka tidak tahu arti penting orangutan. Namun setelah diberi penjelasan, mereka sekarang sudah mulai memberi perhatian,” jelas Bungaran. Beberapa perusahaan kelapa sawit itu kini mulai sadar, jika ingin mengembangkan kelapa sawit tidak bisa merusak lingkungan dan habitat orangutan.

Apalagi sekarang paradigmanya sudah berubah, dari paradigma semata-mata profit menjadi paradigma pembangunan berkelanjutan, jadi membangun perkebunan sawit tanpa merusak lingkungan. “Hal ini sudah mulai dilakukan oleh perusahaan sawit. Salah satu contohnya PT Citra Borneo Indah (CBI) yang membantu Yayasan BOS untuk pelepasliaran orangutan kali ini. Sekalipun di kandang kita tidak ada orangutan yang berasal dari areal kebun CBI,” ujar Bungaran saat persiapan pemberangkatan orangutan dari Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah (30/3).

CBI Peduli Orangutan

“Tujuan kami membantu kegiatan pelepasliaran orangutan adalah sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian orangutan. Apalagi kita tahu bahwa orangutan adalah ikon dunia, maka kita semua harus berusaha melestarikan keberadaan orangutan,” ungkap Rimbun Situmorang, Chief Executive Officer PT Citra Borneo Indah, industri sawit yang berkantor pusat di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Lebih jauh Rimbun Situmorang menjelaskan, CBI juga sedang berusaha mendapatkan dan mempersiapkan areal untuk disumbangkan ke Yayasan BOS. Areal sekitar 3.000 – 4.000 ha itu dapat digunakan sebagai areal pelepasliaran atau areal untuk transit orangutan tergantung kesesuaiannya menurut kajian  BOS.

“Kegiatan pelepasliaran orangutan ini hanya salah satu bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) yang banyak dilakukan CBI,” cetus Rimbun. CBI juga membantu masyarakat dalam hal pendidikan dengan memberikan beasiswa kepada siswa-siswa berprestasi. Bantuan kesehatan dengan mendirikan klinik dan masyarakat dapat berobat secara gratis. Dan berikutnya akan dikembangkan plasma kelapa sawit kepada masyarakat juga bagian dari CSR.

Yayasan BOS mengharapkan perusahaan-perusahaan sawit lain juga ikut serta karena masih banyak orangutan yang harus dilepasliarkan. Sekarang ada sekitar 630 orangutan di kandang rehabilitasi BOS di Nyaru Menteng, Kodya Palangkaraya, Kalimantan Tengah dan 230 orangutan di Samboja Lestari, dekat Balikpapan, Kalimantan Timur. “Sekarang CBI sudah memberi contoh. BOS ingin mengajak lebih banyak pelaku sawit untuk bertanggung jawab terhadap orangutan,” ungkap Dr. Ir. Jamartine Sihite, CEO Yayasan BOS.

BOS, menurut Jamartine Sihite, juga meminta perusahaan kelapa sawit untuk mengalokasikan lahannya bagi orangutan. Jika ada beberapa perusahaan yang saling berdekatan menyediakan lahan konservasi, arealnya bisa menjadi cukup luas dan dapat dijaga bersama-sama. “Namun jika tidak ada daya dukung lahan sesuai habitat orangutan, maka kita minta untuk dipindahkan. Jangan sampai orangutan masuk kandang di masyarakat. Setahun di kandang membutuhkan waktu 5 – 6 tahun untuk melatihnya kembali liar dan mampu hidup di hutan,” jelas Martin, begitu Jamartine Sihite biasa disapa.

Pelepasliaran Kedua Kalinya

Sampai sekarang Yayasan BOS sudah dua kali melepasliarkan orangutan di Kalimantan Tengah. Sebelumnya pada Februari 2012, BOS melepasliarkan sebanyak 4 orangutan. Periode kedua pada Maret 2012 dilepasliarkan sebanyak 11 orangutan ke Hutan Lindung Bukit Batikap, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. “Masih banyak orangutan yang akan kita lepas liarkan. Mungkin selain di Hutan Lindung Bukit Batikap, kita harus mencari hutan lain yang masih memiliki habitat yang baik untuk orangutan,” ujar Martin.

Yayasan BOS juga minta dukungan pemerintah untuk mendapatkan Hak Pengusahaan Hutan Restorasi Ekosistem (HPH RE). HPH jenis ini sama sekali tidak mengambil kayu, bahkan hutan yang ada dipelihara dan diperkaya agar menjadi habitat hidup orangutan. Saat ini sudah keluar izin HPH RE di Kalimantan Timur seluas 86 ribu ha. Dan sedang dalam proses perizinan untuk mendapatkan HPH RE 100 ribu ha di Kalimantan Tengah. Jadi, yang mampu dikelola Yayasan BOS sekitar 200 ribu ha. Jika ada 100 LSM lain melaksanakan hal yang sama, maka akan ada dua juta hektar yang bisa dijaga.

Untung Jaya





 

Suara Agribisnis
Transformasi Revolusioner Tamigas ke Agribisnis
Transformasi Revolusioner Tamigas ke Agribisnis

Usaha Tani
Siap Merebut Kue MEA
Imbuhan Pakan, Pelihara Kesehatan Pencernaan
Ayam Bongsor Bukan karena Hormon

Wisata
WISATA : Piknik di Pekarangan Belakang Rumah
RESTO : Gurihnya Pindang Ikan Toman Khas Jambi

Khasiat
Suhaimi Tak Jadi Operasi Otak
Napas Lega dengan Bio HSA

Hobi dan Resto
Memperindah Taman dengan Pergola Anggur
Membungakan Anggrek Bulan di Pekarangan