12 November 2012
Ganjaran Indah 35 Tahun Mengurusi Ayam

Hari-hari ini genap 35 tahun sudah pasangan ini menghabiskan hidupnya mengurusi ayam. Bahkan, bukan sekadar “berteman”, tapi dengan unggas inilah mereka tumbuh dan meraih kemajuan.

Ir. Sutarmadji Harna Prijatmadja dan Siti Jamilah memang tak pernah menyangka akan dibesarkan melalui bisnis perunggasan. Pemilik Sinta PS ini, berhasil mengembangkan usahanya mulai dari 200 ekor ayam petelur (layer) yang dipelihara di rumah pada 1977, kini populasinya 135 ribu ekor. Sementara kemitraan ayam peda ging nya hasilkan 6 ton broiler per hari.

Sukses ini didukung penuh kelima anaknya. Mereka menjadi investor bagi usaha pasangan ini. Cita-cita mereka adalah mewujudkan Sinta Farm, Sinta PS, Kurnia Sinta Mandiri (KSM), dan Bondan Sinta Mandiri (BSM) menjadi perusahaan keluarga yang tangguh. Bahkan, putrinya yang dokter gigi rela melepaskan status pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Sukoharjo demi berbisnis ayam.

 “Merintis sejak 1977. Saya gagal kuliah. Dan karena punya anak, harus cari uang,”Siti mengenang awal mula bisnis ayamnya. Saat itu, ia masih mahasiswi kedokteran gigi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Ia harus kembali ke Sukoharjo untuk merawat 200 ekor ayam yang di bawa suami dari Hyrema Farm di Cilangkap, Jakarta Timur. Hingga populasi mencapai 2.000 ekor, Siti menyuntik, member pakan dan mengobati sendiri ayamnya.

Maklum, saat itu suaminya tetap bekerja di Jakarta. Semangat keluarga muda ini terus menyala. Sebab, selain membawa 200 day old chick (DOC) dari Cilangkap, Jakarta Timur, Sutarmadji juga membawa sebuah inspirasi besar. Mahasiswa teknik arsitektur UGM angkatan 1972 ini diboyong ke Jakarta untuk mendesain farm (peternakan) dan pabrik pakan Hyrema, milik menteri perdagangan waktu itu, Radius Prawiro. Mantan gubernur Bank Indonesia itu memiliki 200 ribu ekor ayam petelur Hyline dan saat itu merupakan peternak terbesar di Indonesia. Sutarmadji salut pada semangat Radius.

“Tiap hari saya tidur dengan dokter hewan dan sarjana peternakan. Saya jadi tahu tentang ayam. Setelah pabrik berdiri, saya juga dijadikan pemasar pakan di wilayah Jawa Tengah,” terangnya.

Setelah 8 tahun bekerja pada Hyrema, Sutarmadji kembali melanjutkan kuliah dan lulus teknik arsitektur pada 1979. Peternakan ayam yang dikelola Siti juga terus berkembang. Meski sendirian, wanita yang kini berusia 65 tahun itu cakap mengembangkan populasi dan termasuk peternak layer pertamadi Sukoharjo, bahkan di Solo. Dari 200 ekor menjadi 2.000 ekor, dan akhirnya 10 ribu ekor.

Merintis Desa Ternak

Keberhasilan sang istri mengilhami Sutarmadji merintis desa ternak. Saat itu, mantan anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah 2004-2009 ini prihatin, karena lahan makin sempit serta petani yang makin tua dan pemudanya yang lebih suka menganggur daripada bertani. Hal ini akan jadi masalah kesejahteraan di masa datang.

Waktu itu rumah warga masih besar- besar, sehingga cukup untuk memelihara 2.000-3.000 ayam seperti yang dilaku kannya. Memelihara ayam bisa dikerjakan siapa saja dan keuntungan dari telur sangat menjanjikan. Saat itu, harga sekilogram telur sebanding dengan tiga kilogram pakan.

Pada 1981, ia pun merintis Desa Salakan Bangsalan, Pengging, Boyolali, Jawa Tengah, sebagai desa ternak. Ia mendirikan paguyuban Koperasi Perkasa untuk memudahkan akses permo dalan, penyuluhan, dan supervisi. “War ga yang mau beternak kami lihat kesiapannya. Juga kami datang kan dokter hewan,” ungkapnya.

Usaha itu membuahkan hasil. Setiap warga mampu memiliki 2.000-3.000 ekor ayam. “Rumahnya jadi bagusbagus,” ujarnya.

Keberhasilan ini tercium Dirjen Peternakan, J.H. Hutasoit dan Gubernur Jateng, Ismail. Rintisan tadi menginspirasi lahirnya program Perusahaan Inti Rakyat (PIR) saat J.H. Hutasoit menjabat Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Peternakan dan Perikanan (UPPPP) Kabinet Pembangunan IV. Sementara Gubernur Jateng bukan hanya mencanangkan program emas putih untuk susu, tapi juga emas merah untuk ayam bagi Kabupaten Boyolali.

Kemampuan Sutarmadji dalam manajemen pengembangan desa ternak pun menonjol. Setelah diketahui ia sarjana. teknik arsitektur, pemprov “memaksanya” menjadi PNS pada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Boyolali pada 1981. Setahun kemudian ia menjadi Kepala Dinas PU Boyolali hing ga 1997. Setelah itu, menjabat Ketua Bappeda Boyolali 1997-2001, dan

sebagai Kepala Dinas Pariwisata Boyolali 2001-2002 saat pensiun sebagai PNS. Ia sempat jadi anggota DPRD Provinsi Jateng 2004-2009.

Saat karir suami melesat, Siti sendirian mengurusi ayam. “Tapi, justru saling melengkapi,” tutur wanita ramah yang memiliki 100 karyawan dan lebih dari 50 mitra peternak plasma ini.

Wanita Berkomitmen

Ujian terberat ditemuinya pada krisis moneter 1998. Saat itu jumlah ayam petelurnya 25 ribu ekor dan karyawannya 25-30 orang. Ayam tidak laku dan ia harus mengangsur utang kepada pabrik pakan. Ia akhirnya menjual dua pertiga populasi ayam dan berjualan sembako untuk mempertahankan karyawannya.

Siti juga harus berhutang ke perbankan dengan bunga 4-5% per bulan untuk melunasi utang. “Bunga mencekik karena harga dolar. Tapi, saya berkomitmen tak mem-PHK satu pun karyawan. Karena kami senang bersama, saat susah tak boleh mem-PHK. Saya jualan sembako untuk menggaji mereka. Saya teringat pesan Ibu saya yang hanya lulus SD, dalam kondisi krisis yang paling dulu harus diselamatkan adalah nama,” tegasnya.

Berkat komitmen dan integritas moral bisnisnya, mulai tahun 2000 usahanya bangkit dan malah berkembang ke kemitraan ayam broiler pada lima tahun lalu. “Saat ini, kami menunggu izin rumah potong ayam (RPA),” tambahnya.

Lantaran bisnis ayam, pasangan ini mampu mengantarkan kelima anaknya meraih cita-cita. Mereka kini berprofesi sebagai akuntan, dokter gigi, arsitek, perwira menengah TNI AU, dan praktisi hukum.

Mitra yang Setia

Sebagai wanita single fighter dalam mengelola usaha perunggasan, menjadi mitra setia dan dipercaya mutlak diperlukan. “Saya bermitra dengan Medion secara kekeluargaan. Saya lebih menghargai paseduluran (persaudaraan) daripada uang. Saya kenal Medion sejak 1978,” jelas Siti.

Ia awalnya tertarik kepada Medion karena menyediakan obat dan vaksin bervariasi, bisa disesuai kan dengan populasi ayam. “Harganya terjangkau. Hadiahnya banyak, seperti sendok, ember. Tak perlu beli perabotan,” terangnya.

Lantas, dengan berkembangnya desa ternak dan peternakan ayam di Solo, ia bisa ikut menjualkan produk. “Produk Medion laris

seperti kacang goreng,” urainya.

Di samping itu, tenaga penyuluh Medion pun langsung mendampingi peternak. “Cukup diberi jadwal vaksinasi, petugas siap di kandang. Kami juga diberi lemari pendingin untuk menyimpan vaksin (yang dijual melalui poultry shop),” imbuhnya. Sedangkan

untuk peternak mitra KSM dan BSM miliknya, vaksin langsung dikirim ke kandang peternak plasma oleh Medion dengan sistem rantai dingin, untuk menjaga suhu vaksin tetap pada 20-80C, sehingga kualitasnya tetap terjaga.  Konsultasi gratis dari Medion pun sangat membantunya. “Tinggal bel. Mereka datangnya cepat,” tambahnya.

Isman (Yogyakarta)





 

Suara Agribisnis
Pengembangan Agribisnis Ayam dalam MEA
SDM Kreatif Kunci Daya Saing Agribisnis

Usaha Tani
Aroma Kakao Kembali Gairahkan Petani
Bersiap Tanam dengan Traktor
Budidaya Sayuran Hidroponik, Dua Tahun Kembali Modal

Wisata
WISATA : Piknik di Pekarangan Belakang Rumah
RESTO : Gurihnya Pindang Ikan Toman Khas Jambi

Khasiat
Si Temu Pelawan Kanker
Menaklukkan Gangguan Kolesterol Tinggi

Hobi dan Resto
Memperindah Taman dengan Pergola Anggur
Membungakan Anggrek Bulan di Pekarangan