06 January 2013
WISATA :Senangnya Menjadi Pak Tani di Jala Sari
Di sini, anak-anak bisa lebih akrab dengan kehidupan petani. Kreativitas dan kecintaan mereka pada alam pun bertambah.

Udara terasa sejuk saat memasuki Desa Kebaron, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Rindangnya tanaman yang tumbuh di sekitar lokasi Wisata Anak-anak Jalasari inilah penyebabnya. Tempat itu memang telah menjadi tujuan utama siswa kelompok bermain, TK, SD, SMP dan SMA yang berada di sekitarnya untuk berwisata sambil belajar dan bertualang.

Lokasi ini mudah dijangkau karena terletak tak jauh dari Pasar Tulangan. Bahkan, pengunjung yang tidak mau repot-repot berganti becak dari Pasar Tulangan ke lokasi, bisa memanfaatkan fasilitas mobil jemputan yang disediakan pengelola tempat wisata tersebut.

Pendirian lokasi wisata ini bermula pada 2003. Ketika itu, H. Ponari, pemilik Jala Sari, merasa prihatin terhadap generasi muda yang tak mau lagi menjadi petani. “Padahal, bertani itu pekerjaan mulia. Petani bisa jadi tulang punggung negara. Tapi, yang mau jadi petani malah tidak ada,” papar Ponari memulai perbincangan dengan AGRINA. Apalagi, dengan semakin banyak peralihan lahan pertanian menjadi industri, makin berkuranglah orang muda yang berkutat di pertanian.

Bermain, Belajar, dan Bertualang

Bermodalkan lahan yang selamat dari alih fungsi, Ponari berusaha menyelamatkan generasi muda dengan mengajak kembali sawah. Lahan itu seluas dua hektar, terdiri dari lahan pertanian sehektar dan sisanya untuk kandang ternak dan kolam renang. “Kami kenalkan anak-anak dengan cara menanam padi, singkong, dan jagung supaya ada penerus kita yang tangguh,” katanya.

Dalam belajar bertani, lebih dulu anak-anak diajari cara menanam singkong dan jagung. Setelah itu, mereka diajak menuju lokasi penanaman di ladang atau sawah. Setelah menanam, mereka pun dibawa ke lokasi pemanenan guna diajari cara memetik hasil panen dengan benar.

Tak hanya itu, saat berada di sawah, anak-anak juga diperkenalkan dengan hewan-hewan yang biasanya hidup di sana. Yang paling menarik adalah berburu yuyu (kepiting sawah) dan gemak (burung puyuh) yang tidak bisa terbang. Usai berburu, anak-anak ini diajak ke kandang ternak untuk memberi makan sapi dan kambing.

Setelah puas menjadi petani, anak-anak lalu beradu ketangkasan menangkap ayam dan lele. “Lele hasil tangkapannya akan dimasak. Kami ajari mereka cara menyiangi ikan dan memasaknya dengan cara dibakar. Membakar ikan itu untuk mengajari mereka memasak yang sederhana,” jelas Ponari.

Sementara itu, untuk anak-anak SD dan SMP, kegiatan wisata dilanjutkan dengan kunjungan ke industri rumahan. Tujuannya agar mereka bisa melihat lebih dekat dan jelas cara pembuatan telur asin dan dan samiler (kerupuk singkong). Khusus bagi anak-anak SMP, ada pengenalan budidaya jamur tiram dan pembuatan biogas. “Bahkan, kami juga mengajari memasak dan cara menanak nasi. Ini untuk mengajari anak-anak sikap mandiri,” imbuh Ponari.

Dari industri rumahan, wisata dilanjutkan dengan makan siang dengan lauk lele hasil tangkapan anak-anak itu sendiri. Setelah itu, anak-anak bisa menikmati fasilitas lainnya seperti flying fox, berenang, atau meniti tali dari pohon ke pohon.

Selain bisa membeli oleh-oleh sendiri, pengunjung juga akan mendapatkan buah tangan berupa bibit tanaman dalam polibag dari pengelola. Oleh-oleh ini bisa menjadi kenang-kenangan sekaligus pekerjaan rumah bagi anak-anak untuk mencermati pertumbuhan tanaman itu saat di rumah.

Murah Meriah

Untuk rombongan minimal 30 orang, Jala Sari mengutip Rp45 ribu dari setiap pengunjung. “Kalau di bawah 30 orang ada tambahan biaya Rp5.000/orang,” kata Ponari.

Dengan biaya segitu, pengunjung bisa menanam dan memanen tanaman, memberi makan sapi dan kambing, menangkap ayam atau ikan, atau bermain flying fox. “Selain itu, anak-anak juga bisa memanjat rumah pohon, melintas pohon dengan tali, makan siang ikan hasil tangkapan sendiri , dan berkunjung ke industri rumahan,” urainya.

Jala Sari buka setiap hari dari pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, kecuali Jumat. Pengunjung perorangan juga bisa masuk ke lokasi wisata ini. Mereka cukup membayar tiket masuk Rp5.000 dan bisa menikmati fasilitas kolam renang.

Ke depannya, Jala Sari akan mengembangkan paket wisata children of the country (kampung anak-kampung wisata). Paket ini berupa wisata berkeliling dan melihat-lihat kehidupan masyarakat desa, serta memantau dari dekat berbagai industri rumahan yang bermanfaat secara ekonomi bagi warga desa.

Indah Retno Palupi (Surabaya)





 

Suara Agribisnis
Membangun Kembali Koperasi Pertanian
Struktur Kementerian Pertanian 2014 – 2019

Usaha Tani
Mulai Hidup Baru dari Jeruk
Industri Unggas Butuh Jagung Lebih Banyak
Harga Seimbang, Petani Tenang

Wisata
WISATA : Piknik di Pekarangan Belakang Rumah
RESTO : Gurihnya Pindang Ikan Toman Khas Jambi

Khasiat
Waspada Obat Kuat Ilegal
Akhirnya Anes Rajin Konsumsi Bio HSA

Hobi dan Resto
Memperindah Taman dengan Pergola Anggur
Membungakan Anggrek Bulan di Pekarangan