18 February 2013
Yang Manis Pengusir Diabetes

Makanan atau minuman manis seolah menjadi musuh besar bagi diabetasi. Padahal, tidak selamanya yang manis menjadi musuh bagi diabetes.

Diabetes menjadi salah satu penyakit paling menakutkan karena penderitanya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, Indonesia menduduki posisi keempat terbanyak di dunia dalam jumlah penderita diabetes setelah Amerika Serikat, China, dan India. Pada tahun 2000 jumlah penderita diabetes di Indonesia sekitar 8,43 juta jiwa. Diperkirakan, pada 2030 jumlahnya akan meningkat menjadi 21,3 juta jiwa atau dengan pertumbuhan 152%.

Jangan kaget melihat angka pertumbuhan tersebut. Diabetes akan mudah menjangkiti manusia karena pola makan dan pola hidup yang salah. Lihat saja makanan dan minuman yang mengandung bahan-bahan pemanis tambahan mudah kita dapatkan dan rasanya bikin kecanduan. Wuryaning Setyawati, herbalis kondang di Jakarta, berpendapat, sebagian besar minuman segar siap konsumsi yang beredar saat ini mengandung pemanis buatan dan bahan pengawet.

Pilih Pemanis Aman

Gula memang menjadi musuh utama para diabetasi, begitu sebutan penderita diabetes. Namun masih banyak di antara mereka yang belum dapat sepenuhnya lepas dari gula. Bagi mereka ini direkomendasikan menggunakan pemanis buatan atau gula diet. Salah satu pemanis buatan yang mungkin tidak asing bagi penderita diabetes adalah aspartam. Bahan ini disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) dan Badan POM.

Tujuan umum penggunaan aspartam untuk pengurangan konsumsi gula karena tingkat kemanisannya 160-220 kali dibandingkan sukrosa dan relatif tidak mengandung kalori. Tentu saja pemanfaatannya harus sesuai anjuran berbagai lembaga keamanan pangan, maksimal 50 mg/kg bobot badan/hari.

Namun, Kang Jana, Pembina Klinik Diabetes Rastura di Tebet, Jakarta, mengingatkan, penggunaan aspartam juga perlu diperhatikan. Menurutnya, karena tidak mengandung kalori yang harus dibakar di dalam tubuh untuk menghasilkan panas dan energi, liver (hati) menjadi sulit mengubah tatanan karbohidrat yang dihasilkan. Kesulitan ini bermuara pada komplikasi penyakit liver atau hepatitis bagi penderita diabetes.

Kontroversi aspartam ini memang masih menjadi perdebatan hingga kini. Karena itu Wuryaning Setyawati menyarankan untuk memilih gula aren. “Gula aren sangat aman bagi penderita diabetes. Kalau aspartam, bagaimana pun direkomendasikan, itu tetap pemanis buatan,” tutur wanita yang lebih dikenal dengan Ning Harmanto ini.

Menurut banyak penelitian, gula aren terbilang aman dikonsumsi karena kadar gulanya sangat rendah sehingga berpengaruh pada lambatnya penyerapan glukosa. Tubuh pun tidak memerlukan energi besar untuk menyerap kadar gula. Kondisi ini baik bagi tubuh karena akan mempertahankan kebugaran tubuh lebih lama dan tidak mudah lemas.

Selain itu, Ning juga menganjurkan stevia sebagai pengganti gula. Kadar kemanisan stevia mencapai 400-700 kali gula biasa, tetapi kandungan kalorinya nyaris nol. Stevia, lanjut dia, mulai banyak digunakan dalam industri herbal karena tanaman perdu asli Paraguay ini juga berfungsi antibiotik ringan.

Ramuan Nektar

Alternatif pemanis lainnya adalah nektar. Nektar merupakan sari bunga atau cairan manis kaya gula yang diproduksi bunga untuk mengundang serangga penyerbuk. Menurut Kang Jana, nektar inilah yang kemudian dikonsumsi oleh lebah dan mengalami proses fermentasi alami menjadi madu terfermentasi. “Khasiatnya sangat baik jika dibandingkan madu dan propolis, mengandung protein atau vitamin yang dibutuhkan tubuh,” tambahnya. Dia mengoptimalkan manfaat nektar dalam mengatasi diabetes.

Ning meramu campuran madu terfermentasi, gula aren, air heksagonal, dan beberapa bahan herbal menjadi minuman suplemen bagi penderita diabetes dengan nama Jamsi O2HbA1c. “Keunggulannya, begitu diminum langsung terasa manfaatnya. Kadar gula darahnya langsung turun,” ucapnya bernada promosi. Wanita yang aktif menjadi pembicara dalam berbagai acara herbal ini mencontohkan, kadar gula pasiennya turun dari 313 mg/dl menjadi 212 mg/dl.

Selain menurunkan kadar gula darah, komposisi herbal dalam Jamsi mampu memperbaiki kembali kerusakan metabolisme akibat diabetes. “Rasanya sedikit pahit, manis, asam, dan langsung terasa hangat di badan ketika diminum,” cetus Ning. Dia menyarankan konsumsi 3 x 2 sendok makan per hari bagi penderita diabetes, dan 1x1 sendok makan per hari untuk pencegahan.

“Yang perlu diingat, jika masih mengonsumsi obat medis, beri jeda 15-30 menit antara keduanya. Semakin lama, konsumsi obat medisnya dapat dikurangi sedikit demi sedikit sampai bisa lepas 100%,” saran Ning yang juga turut mengembangkan Jamsi bersama Kang Jana. “Ini harapan baru bagi penderita diabetes. Siapa bilang diabetes itu tidak bisa sembuh? Yang penting dijaga asupan makanannya,” tegasnya.

Renda Diennazola

 





 

Suara Agribisnis
Transformasi Revolusioner Tamigas ke Agribisnis
Transformasi Revolusioner Tamigas ke Agribisnis

Usaha Tani
Siap Merebut Kue MEA
Imbuhan Pakan, Pelihara Kesehatan Pencernaan
Ayam Bongsor Bukan karena Hormon

Wisata
WISATA : Piknik di Pekarangan Belakang Rumah
RESTO : Gurihnya Pindang Ikan Toman Khas Jambi

Khasiat
Suhaimi Tak Jadi Operasi Otak
Napas Lega dengan Bio HSA

Hobi dan Resto
Memperindah Taman dengan Pergola Anggur
Membungakan Anggrek Bulan di Pekarangan