Jumat, 4 Nopember 2022

Prospek 2023 : Dunia Menunggu Sawit Indonesia

Prospek 2023 : Dunia Menunggu Sawit Indonesia

Foto: Selo Sumarsono
Minyak sawit masih mendominasi pasar minyak nabati global

Pasokan minyak nabati global diperkirakan melimpah tetapi minyak sawit tetap dinanti konsumennya asalkan tetap kompetitif dan berkelanjutan.
 
 
Setiap tahun Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia GAPKI) menggelar Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) & Price Outlook. Setelah dua tahun berturut-turut digelar secara virtual akibat pandemi Covid-19, tahun ini panitia IPOC ke-18 yang diketuai Mona Surya menyelenggarakannya secara tatap muka pada 2-4 November 2022 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali.
 
Antusiasme pemangku kepentingan sawit terhadap konferensi internasional ini sangat tinggi. Sebanyak 1.508 peserta dari 21 negara menghadiri acara yang kali ini mengangkat tema “New Landscape in the World Vegetable Oil: Opportunities and Challenges for Palm Oil Industries”.
 
 
Masih Tetap Diandalkan
 
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pidato pembukaan IPOC 2022 mengungkap, beberapa institusi internasional memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia 2023 melambat, dari 2,8%-3,2% pada 2022 menjadi 2,3%-2,9%. Sementara Asian Development Bank juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia turun dari 5,3% menjadi 5%. Kendati diyakini bisa terhindar dari resesi, ekspor Indonesia akan terpengaruh pelambatan global tersebut.
 
Airlangga yang hadir secara virtual itu menyatakan, kelapa sawit termasuk komoditas tangguh pada masa pandemi Covid-19. “Kontribusi kelapa sawit tidak lepas dari perekonomian Indonesia. Indonesia menguasai sekitar 58% pangsa pasar minyak sawit dunia dan memanfaatkan tidak lebih dari 10% total land bank global untuk minyak nabati.Kelapa sawit lebih unggul dari komoditas pesaing minyak nabati lainnyakarena produktivitasnya lebih tinggidan lebih sedikit menggunakan lahan," ulasnya. 
 
Menteri juga menegaskan industri sawit berkontribusi dalam menopang pemulihan ekonomi nasional. Tidak hanya pada aspek ekonomi tetapi juga aspek sosial dan lingkungan masyarakat dengan peraturan yang diterapkan secara efektif seperti InpresNomor 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan Tahun 2019-2024. Ini akan menjadi peta jalan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan terkait yang bertujuan menyeimbangkan pembangunan sosial ekonomi dan pelestarian lingkungan.
 
Selain itu juga PerpresNomor 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia untuk memastikan dan meningkatkan pengelolaan serta pengembangan perkebunan sawit yang sesuai prinsip dan kriteria ISPO, meningkatkan penerimaan dan daya saing sawit berkelanjutan. produk di pasar nasional dan internasional, serta memperkuat upaya percepatan penurunan emisi gas rumah kaca.
 
 
Harus Kompetitif
 
Keandalan sawit dalam perekonomian nasional sudah terbukti dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada 2021, industri sawit mampu mendatangkan devisa senilai US$35 miliar atau sekitar Rp500 triliun dengan volume ekspor total 34,2 juta ton. Jenis yang diekspor meliputi minyak sawit mentah (crude palm oil-CPO), olahan CPO, minyak inti sawit (palm kernel oil-PKO), oleokimia (termasuk yang berkode HS 2905, 2915, 3401, 3823) dan biodiesel (kode HS 3826).
 
Sementara tahun ini data GAPKI Januari - Agustus 2022, volume ekspor mencapai 18,435 juta ton. Dan berdasarkan rilis BPS 17 Oktober dan 15 November, ada tambahan volume ekspor sebesar 5,92 juta ton menjadi 24,355 juta ton.
 
Joko Supriyono, Ketua Umum GAPKI menilai, pada2023 Indonesia masih menghadapi tantangan berat. Namun para pelaku industri sawit perlu tetap optimis karena banyak peluang baru yang terbuka. 
 
“Strateginya, kita terus memperkuat pasar domestik. Karena kita surplus, mau tidak mau kita juga harus tetap ekspor. Ekspor memberikan dampak terhadap ekonomi. Apalagi menghadapi kemungkinan resesi, salah satu sektor yang diandalkan dan mempunyai resiliensi adalah sawit. Jadi, kita berharap pemerintah makin memahami bahwa kita tidak bisa lepas dari sawit. Karena itu semua obstacle (hambatan) mestinya harus diminimalkan supaya industri ini tetap kompetitif ke depan,” tandas alumnus Faperta UGM yang lama berkarier di PT Astra Agro Lestari Tbk. itu  (4/11).
 
 
Sawit di Percaturan Minyak Nabati
 
Penduduk bumi yang 15 November lalu mencapai 8 miliar jiwa membutuhkan minyak nabati untuk pangan, nonpangan, dan energi. Menurut Thomas Mielke, Direktur Eksekutif ISTA Mielke GmbH, Oil World, lembaga riset dan analis pasar minyak nabati di Hamburg, Jerman, pada Oktober 2021-September 2022, dunia memproduksi 204,03 juta ton dan mengonsumsi 200,77 juta ton delapan minyak nabati utama. Dari angka produksi tersebut, sebanyak 82,60 juta ton diimpor dan 83,44 juta ton diekspor. Ke delapan jenis minyak nabati ini adalah sawit, kedelai, kacang tanah, rapeseed, bunga matahari, kelapa, biji kapas, dan zaitun.
 
Pada Maret-April 2022, harga minyak nabati mencapai rekor tertinggi lantaran ketatnya pasokan empat jenis minyak ke pasar. “Penyebabnya, invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan terhentinya sementara aliran minyak bunga matahari dari dua negara ini ke pasar internasional. Pada minyak sawit, hal itu disebabkan pelarangan ekspor Indonesia,” ungkap Thomas di acara IPOC 2022 (4/11).Selain itu, kegagalan produksi kanola di Kanadaserta kekeringan di Brasil dan Argentina, dua produsen utama kedelai, berdampak keseimbangan pasokan minyak nabati dunia terganggu.
 
Harga yang sangat tinggi, misalnya minyak sawit pernah menyentuh US$2.000/ton, sangat memukul daya beli konsumen di negara pengimpor seperti Pakistan. Abdul Rasheed Janmohammed, mantan Ketua Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA) menuturkan, negaranya sangat kesulitan memenuhi kebutuhan minyak pangan bagi masyarakatsaat Indonesia menghentikan ekspor. Padahal embargo hanya berlangsung 28 April-22 Mei 2022. Pasalnya, menurut Chief Executive Westbury Group ini, hampir 90% impor minyak sawit yang sekitar 3 jutaan ton per tahun berasal dari Indonesia. Sementara minyak lain juga tak terjangkau.
 
Melonjaknya harga minyak sawit saat itu jugadipicu menguatnya permintaan dari Uni Eropa. Negara-negara yang biasanya mengimpor minyak bunga matahari dari Ukraina dan Rusia beralih ke sawit karena pasokan mampet akibat pelabuhan ekspor ditutup.
Masih menurut Thomas, sawit termasuk minyak nabati paling penting di dunia. Hampir 50 juta ton minyak sawit memenuhi pangsa 54% pasar minyak nabati dan lemak global. Periode Juli-September 2022, Indonesia mengambil porsi 38%. “Pada 2022-2023 dan tahun-tahun mendatang, posisi minyak sawit Indonesia semakin penting karena tidak mencukupinya produksi Malaysia artinya konsumen minyak sawit dunia makin tergantung produksi Indonesia,” ulasnya.
 
Selain Pakistan, India penyerap produksi sawit Indonesia yang signifikan. Dr. B. V. Mehta, Executive Director The Solvent Extractors’ Association of India mengungkap, India memproduksi minyak nabati sawit, kedelai, biji bunga matahari, kacang tanah, rapeseed, biji kapas, dan minyak bekatul tapi jumlahnya kurang untuk memenuhi kebutuhan 1,37 miliar jiwa penduduk. Setiap tahun India mengimpor 8 juta ton minyak sawit untuk pangan.
 
 
Tantangan
 
Kendati begitu, Thomas yang pernah menerima Lifetime Award dari industri sawit Malaysia itu mengingatkan tren produktivitas sawit menurun. Laju pertumbuhan produksi turun dari rata-rata 2,9 juta ton/tahun sampai 2020 menjadi 2,3 juta-2,5 juta ton sampai 2030 mendatang. Penyebabnya, laju peremajaan kebun rendah, sedikitnya penanaman baru, kekurangan tenaga kerja, terutama panen, dan kasus penyakit tanaman.
 
Hal tersebut dibenarkan M. Fadhil Hasan, Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI yang juga menjadi pembicara.  “Periode 2005-2025 tren pertumbuhan produksi menurun setiap lima tahun, dari 10,12%, 7,39%, 3,2%, bahkan minus 1,15% pada 2020-2025. Karena itu, kami memperkirakan produksi sawit 2022 akan sedikit menurun, dari 51,6 juta ton (CPO 46,9 juta ton dan PKO 4,4 juta ton) 2021 menjadi 51,3 juta ton,” ujar master ekonomi pertanian alumnus Iowa State University, AS.
 
Selain terkait kebun, persyaratan pasar tertentu juga cukup menantang, misalnya Uni Eropa. Menurut Andri Hadi, Dubes RI untuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa, impor minyak sawit Uni Eropa (27 negara) cukup signifikan. Minyak sawit Indonesia memegang 30%-40% impor minyak nabati Uni Eropa, Total nilainya pada 2021 mencapai lebih dari US$3 miliar untuk biodiesel dan produk konsumen.
 
“Tantangan industri sawit ke depan tidak mudah. Selain aturan WTO yang ketat terkait sawit, berbagai regulasi seperti peraturan terkait deforestasi dan kelestarian lingkungan tetap kita ikuti dan hormati. Meski memberlakukan aturan ketat, Uni Eropa membutuhkan minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia. Permintaan produk CPO terus menguat terutama pada awal Perang Rusia-Ukraina terutama akibat gangguan rantai pasokan, dan pemulihan global pascapandemi,” ungkap Dubes.
 
 
 
 
Peni Sari Palupi

 
Agrina Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain