Minggu, 4 Juni 2023

Produktivitas Terjaga di Saat El Nino

 Produktivitas Terjaga di Saat El Nino

Foto: Selo Sumarsono
Kandang terbuka lebih rawan terhadap cekaman heat stress daripada kandang tertutup

Peternak harus mewaspadai cekaman panas sebagai dampak kemarau ekstrem.
 
Prediksi kemarau ekstrem atau El Nino yang menguat melanda Indonesia pada Juli hingga September tahun ini. Prof. Budi Tangendjaja, ahli nutrisi ternak menjelaskan, kejadian El Nino harus diantisipasi sangat mempengaruhi kondisi peternakan ayam dari sisi internal dan eksternal. Peternak harus melakukan pengawasan ekstra agar ayam tetap berproduksi secara prima. Bagaimana mengantisipasi dampak El Nino tersebut?
 
 
 
Air dan Pakan
 
Efek musim kemarau yang terlalu panjang dari sisi eksternal adalah suplai air secara kuantitas dan kualitas. Susanto, Performance and health program Manager PT Trouw Nutrition Indonesia menerangkan, kuantitas air pasti akan menurun, terutama di daerah-daerah yang kesulitan air. “Secara kualitas, kandungan mineral dan lainnya baik itu secara fisik dan kimia pasti akan mengalami perubahan dan itu pasti akan mempengaruhi ayam,” ucapnya.
 
Saat musim kering, ungkap Prof. Budi, sering kali air minum untuk ayam bermasalah. ”Air minum yang ada di peternakan ini diambil dari sumber yang jauh dari sumur, kadang-kadang dari sungai. Hati-hati kualitasnya menurun. Nah, bakteri naik, ayam jadi pada mencret dan sebagainya,” ucap Budi.
 
Di samping itu, jumlah air di dalam tanah menurun dan kandungan mineral yang ada di air dapat terdeposit di pipa air minum sehingga nipple-nya tertutup. ”Peternak harus memonitor pipa-pipa air minum. Kebersihan air minum harus diperhatikan. Saya perkirakan kalau panas, biasanya mineral yang akan terkonsentrasi tinggi dalam pipa,” ulasnya.
 
Untuk mengurangi masalah panas ini, kata Budi, yang paling ideal adalah mendinginkan air minum karena langkah ini yang paling cepat menurunkan suhu tubuh ayam. Cara mendinginkan yang paling praktis, ia menyarankan peternak untuk mengubur tandon air ke dalam tanah untuk mengurangi panas.
 
Tidak hanya air, persediaan bahan baku pakan, seperti jagung juga terdampak. Susanto mengatakan, iklim yang terlalu panas menyebabkan lapisan pelindung bulir jagung pecah sehingga rawan ditumbuhi jamur yang menghasilkan toksin atau mikotoksin. Pasalnya, beberapa mikotoksin senang tumbuh di suhu tertentu, seperti suhu udara yang panas.
 
Budi pun mengkhawatirkan hal yang sama. Jika panen jagung kurang karena kekeringan maka akan terjadi defisit jagung dan harganya meningkat luar biasa. Kualitas jagung juga menurun akibat cekaman panas.
 
”Jagungnya sendiri menderita stres kemudian tumbuh jamurnya tambah banyak. Jadi, mikotoksinnya makin banyak, itu yang mengerikan. Jadi, hati-hati menghadapi musim panas ini,” pesan Doktor bidang Ilmu Pakan Ternak lulusan University of New South Wales, Australia itu.
 
 
Untuk naskah selengkapnya silakan baca Majalah AGRINA Edisi 348 terbit Juni 2023 atau dapatkan majalah AGRINA versi digital dalam format pdf di Magzter, Gramedia, dan Myedisi.

 

 
Agrina Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain