Selasa, 12 September 2023

El Nino Datang, Saatnya Perbanyak Produksi Udang

El Nino Datang, Saatnya Perbanyak Produksi Udang

Foto: KKP
Pertumbuhan udang lebih cepat di musim kemarau

Musim kemarau membawa keuntungan dan kelemahan yang perlu diperhatikan dalam budidaya udang.
 
Kemarau ekstrem akibat fenomena Al Nino tengah melanda Indonesia yang memuncak sejak Agustus 2023. Pada kejadian El Nino tahun 2015, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, ekspor udang turun 93,391 ton menjadi 325.337 ton pada kuartal III 2015.
 
Saat itu produksi udang turun 22,30% karena fenomena musim panas berkepanjangan dan penyakit yang menyerang si bongkok. Akibat El Nino tersebut, banyak tambak udang yang terpaksa ditelantarkan pemiliknya. Bagaimana dampak El Nino 2023 pada produksi udang nasional tahun ini?
 
 
Produksi Terkendali
 
Dampak El Nino telah dirasakan pada awal Juli dengan indeks yang masih lemahdan semakin menguat di pertengahan Juli. Meski begitu, menurut Tinggal Hermawan, Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan, Ditjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), secara spesifik belum ada laporan tambak udang di sentra produksi yang terdampak El Nino.
 
“Belum mendengar efek El Nino menggagalkan panen di suatu wilayah. Misalnya di daerah terjadi kegagalan total atau kematian massal,belum ada laporan. Mungkin ada satu-dua, paling sporadis, efek El Nino terjadi di suatu kawasan tertentu,” katanya saat ditemui AGRINA di Jakarta, Senin (28/8).
 
Produksi udang pada semester I 2023 pun masih terkendali, sekitar 600 ributon. Atau, tercapai 33,33% dari target produksi 1,8 juta ton udang nasional di tahun ini. Sementara, dampak El Nino yang menguat di pertengahan tahun akan tercatat dalam produksi udang pada semester II2023.
 
”Nanti kita akan evaluasi apakah misalnya ada penurunan produksi karenapenyakit dariEl Ninoatau lingkungan.Saya harap tidak terjadi terlalu masif. Masyarakat juga tahu akan kondisi ekstrem. Beberapatahun terjadi, masyarakatmulai terbiasa menangani iklim ekstrem ini,” urainya.
 
Untuk mencapai target produksi tahun ini dan mengejar target 2 juta ton di 2024, sambung Tinggal, KKP akan mengembangkan budidaya udang terintegrasi di Sumba Timur, NTT. Sumba Timur dipilih karena pertumbuhan ekonominya masih lemah tapi punya potensi yang cukup bagus untuk pengembangan budidaya udang.
 
Tinggal mengaku, tantangannya cukup berat, khususnya masalah logistik.  Karena itu, pemerintah hadir agar masyarakat di Indonesia Timur bisa menikmati pertumbuhan ekonomi seperti Indonesia Tengah dan Barat. Budidaya udang di Sumba Timur ini terintegrasi hulu-hilir sehingga bisa ekspor langsung tanpa perlu diolah dulu di Pulau Jawa. Dengan begitu, masalah logistik bisa diminimalisir dan biaya produksinya juga tidak terlalu besar. Sebelumnya,KKP berhasil membuat tambak udang modern berbasis kawasan di Kebumen, Jateng.
 
 
 
Untuk naskah selengkapnya silakan baca Majalah AGRINA Edisi 351 terbit September 2023 atau dapatkan majalah AGRINA versi digital dalam format pdf di Magzter, Gramedia, dan Myedisi.
 

 

 
Agrina Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain