Kamis, 12 Oktober 2023

Membedah Perdagangan Sawit Dunia

Membedah Perdagangan Sawit Dunia

Foto: Windi Listianingsih
Perdagangan internasional sawit harus dikuasai Indonesia agar masa depan sawit lebih baik

Indonesia harus mengendalikan bursa sawit untuk menentukan masa depan sawit yang baik.
 
Perdagangan sawit internasional ternyata dikuasai Belanda. Mengapa demikian dan apa dampaknya bagi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia?
 
 
Investasi Sawit
 
Dr. Eugenia Mardanugraha, Dosen FEB Universitas Indonesia (UI) menjelaskan, investasi pada subsektor sawit dilakukan dengan dua cara, yaitu investasi pada aset riil dan instrumen keuangan. Investasi pada aset riil berupa akuisisi perusahaan sawit yang sudah ada atau mendirikan perusahaan baru.
 
“Investasinya mencakup perkebunan hulu, pemrosesan tengah misalnya pabrik oleokimia, atau aset hilir misal minyak sayur, sabun. Aset keuangannya termasuk ekuitas sawit yang diperdagangkan atau harga minyak sawit berjangka,” urai Jenny, sapaan akrabnya pada Workshop Wartawan GAPKI “Iklim Investasi dan Kinerja Industri Sawit". 
 
Indonesia sebagai produsen sawit terbesar seharusnya menjadi sasaran investasi terbesar dari modal seluruh dunia. ”Kalau orang dari seluruh dunia mau berinvestasi sawit, tentu dia akan berinvestasi di Indonesia karena menguasai 53% sejak 1980. Investasi sawit bisa juga dilakukan pada negara-negara justru yang belum berkembang tapi punya potensi, seperti Nigeria, Thailand, Kolombia. Kalau kita lihat petanya, negara-negara yang di khatulistiwa saja yang bisa berinvestasi sawit. Kalau negara-negara lainnya, tidak bisa karena tidak tumbuh (sawit),” terangnya.
 
Investasi yang terjadi di pasar Indonesia, merujuk Statistik Neraca Pembayaran Indonesia, ada 3 macam, yakni neraca investasi langsung, neraca investasi portfolio, dan neraca investasi lainnya. Investasi portfolio di saham sawit tercermin dari harga-harga perusahaan sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
 
Ada investasi lainnya yang bernama Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan Bursa Komoditi Derivatif Indonesia (BKDI). Sayang, ungkap Jenny, Bank Indonesia tidak merinci besaran nilai investasi langsung dan investasi portofolio sawit.
 
Selain itu, BEI tidak lagi membuat indeks harga saham agrikultur sejak 2021. ”Saya mendorong GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) untuk membuat lagi indeks harga saham sawit. Itu sangat bermanfaat bagi semua, untuk bisa melihat kondisi bagaimana sebetulnya kondisi perdagangan harga saham sawit. Itu mencerminkan juga bagaimana kondisi perdagangan perekonomian sawit ini,” ulas lulusan S2 Ilmu Ekonomi UI.
 
 
Perdagangan Sawit Indonesia
 
Menurut Data Kementerian Investasi/BKPM, urai Jenny, pada tahun 2022 investasi Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Peternakan (TPPP) yang terbesar adalah sawit. Investasi langsung TPPP paling banyak berasal dari Singapura senilai US$1,16 miliar dengan investasi totalnya mencapai US$13,28 miliar.
 
Posisi kedua ditempati Malaysia dengan investasi TPPP US$285,23 juta dan investasi total US$3,34 miliar. ”Persentasenya (Singapura) untuk tanaman pangan, perkebunan, peternakan ini adalah 8,8%. Malaysia sekitar 8,5% tapi investasinya kecil,” jabarnya.
 
China juga merupakan investor besar di Indonesia dengan jumlah US$8,2 miliar. Namun, investasi TPPP kecil sekali, hanya US$1,4 juta.
 
Sementara itu, profil investasi terbanyak dari negara-negara Uni Eropa (UE) yang kerap melakukan tekanan terhadap Indonesia, ada pada Belgia, Austria, Luxembourg, Belanda, dan Slovenia. Belanda berinvestasi cukup besar di Indonesia, mencapai US$1,2 miliar. ”Tapi di bidang perkebunan, singkatnya sawit, hanya US$2,9 juta. Jadi, hanya 0,2%,” timpal Jenny.
 
Persentase investasi terbesar di bidang perkebunan adalah Belgia. Negara ini melakukan investasi sekitar US$73 juta. Sebanyak 57,2% investasinya atau US$41,8 juta ada di perkebunan. Slovenia juga menanam modal cukup besar di subsektor perkebunan, berkisar 42,2% atau US$1,57 juta dari total investasi US$3,71.
 
Ia menduga, ”Mungkin saja negara-negara UE, 27 negara ini bagi-bagi tugas. Kalau Belanda menguasai pasar modalnya saja, pasar sawitnya yang di Rotterdam, nggak usah investasi di kebun Indonesia. Tapi, yang bertugas investasi di kebun sawit di Indonesia itu Slovenia. Jadi, mereka itu mungkin dalam melancarkan regulasi-regulasi, termasuk EUDR dan lain-lain, sudah bagi-bagi tugas siapa yang bertugas apa.”
 
Belanda menguasai bursa sawit dan mendapatkan keuntungan dari jasa perdagangannya. Jenny membeberkan, ”Keuntungan yang diperoleh akibat perdagangan sawit dari jasa perdagangan tersebut kemudian diinvestasikan kembali di indonesia dalam sektor lainnya. Invetasi Belanda di Indonesia tahun 2022 ternyata no 1 sektor ekonominya adalah perumahan, kawasan industri, dan perkantoran.”
 
Selain itu, yang berdagang sawit bukan hanya produsen. Banyak negara yang memperdagangkan sawit Indonesia. Mengacu data FAO Stat, minyak sawit adalah minyak nabati yang paling banyak diperdagangkan, diikuti palm kernel oil (PKO) dan minyak zaitun. Ada 62 negara yang mengekspor tapi tidak produksi minyak sawit, 5 negara memproduksi tapi tidak ekspor, dan 43 negara merupakan produsen sekaligus eksportir minyak sawit.
 
”Jadi, Belanda itu negara yang nggak punya sawit tapi dia berdagang sawit. Belanda nggak sendiri tapi ada 61 negara lainygang melakukan itu, impor dari Indonesia kemudian dijual lagi ke negara lainnya,” tukas Doktor bidang Ilmu Ekonomi jebolan UI itu.
 
 
 
Untuk naskah selengkapnya silakan baca Majalah AGRINA Edisi 352 terbit Oktober 2023 atau dapatkan majalah AGRINA versi digital dalam format pdf di Magzter, Gramedia, dan Myedisi.

 

 

 
Agrina Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain